AS-Iran Teken Kesepakatan Damai Hari Ini, Selat Hormuz Terbuka untuk Semua
Ilustrasi dua pimpinan AS dan Iran. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News - Donald Trump mengklaim kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan resmi diteken pada Minggu (14/6) waktu setempat. Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian dunia karena kesepakatan itu disebut akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan gas dunia yang sebelumnya ditutup akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan penandatanganan kesepakatan damai menjadi langkah besar untuk mengakhiri ketegangan yang selama berbulan-bulan memicu kekhawatiran global terhadap krisis energi dan potensi perang lebih luas di kawasan.
“Kesepakatan dijadwalkan akan ditandatangani besok (hari ini), dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz terbuka untuk semua,” tulis Trump.
Pernyataan itu sekaligus memberi sinyal bahwa jalur distribusi minyak dunia akan kembali normal setelah sempat terganggu akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selama konflik berlangsung, penutupan jalur tersebut memicu lonjakan harga energi global dan membuat negara-negara importir minyak berada dalam tekanan besar.
Selain membahas pembukaan Selat Hormuz, Trump juga menyinggung persoalan uranium Iran yang diperkaya. Ia menyatakan Amerika Serikat nantinya akan mengambil material nuklir yang disebutnya sebagai “debu nuklir” setelah situasi benar-benar stabil.
“Pada waktu yang tepat, ketika semua sudah tenang, kami akan masuk dan mengambil ‘Debu Nuklir’ tersebut,” kata Trump.
Ia menambahkan material tersebut nantinya akan dihancurkan. Namun, Trump juga mengingatkan bahwa Washington masih memiliki “alternatif pamungkas” apabila proses perdamaian tidak berjalan cepat dan lancar.
Pernyataan keras Trump memperlihatkan bahwa meskipun kesepakatan damai hampir tercapai, hubungan antara Washington dan Teheran masih menyimpan ketegangan besar, terutama terkait isu program nuklir Iran yang selama ini menjadi sorotan negara-negara Barat.
Di sisi lain, Iran sebelumnya sempat meragukan jadwal penandatanganan kesepakatan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian resmi terkait waktu penandatanganan nota kesepahaman damai itu.
“Kami harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan nota kesepahaman ini, meskipun itu tidak akan terjadi besok,” ujar Baghaei sebelum pernyataan terbaru Trump dirilis.
Meski sempat menunjukkan sikap hati-hati, pemerintah Iran sebelumnya sudah memberikan sinyal positif terkait peluang perdamaian. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, pada Jumat lalu menyebut kesepakatan dengan AS sudah sangat dekat.
Menurut Araghchi, kesepakatan tersebut tidak hanya mencakup penghentian konflik antara AS dan Iran, tetapi juga menyentuh konflik regional yang melibatkan Israel dan Hezbollah di Lebanon. Selain itu, pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga masuk dalam poin utama pembahasan.
Namun demikian, isu program nuklir Iran disebut belum akan menjadi fokus utama dalam tahap awal kesepakatan. Pembicaraan mengenai nuklir baru akan dilakukan dalam perundingan lanjutan setelah situasi keamanan kawasan dinilai lebih stabil.
Selama beberapa dekade terakhir, Iran terus dituduh negara-negara Barat berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut berkali-kali dibantah Teheran yang menegaskan program nuklir mereka hanya ditujukan untuk kepentingan damai, energi, dan penelitian.
Optimisme terhadap perdamaian juga datang dari Pakistan yang berperan sebagai mediator utama dalam konflik tersebut. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengatakan proses finalisasi kesepakatan kini tinggal menunggu tahap penandatanganan elektronik.
“Kita berada lebih dekat dengan kesepakatan damai daripada sebelumnya. Dengan finalisasi yang kemungkinan diharapkan dalam 24 jam ke depan, Pakistan sedang mempersiapkan penandatanganan elektronik untuk kesepakatan damai tersebut,” tulis Sharif melalui akun X miliknya.
Sharif menambahkan pembicaraan tingkat teknis antara pihak-pihak terkait akan dilanjutkan pekan depan guna memastikan implementasi kesepakatan berjalan efektif.
Pejabat Amerika Serikat juga telah mengonfirmasi sejumlah detail penting dalam perjanjian tersebut. Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah keuntungan ekonomi yang akan diterima Iran apabila negara itu memenuhi seluruh kewajiban dalam kesepakatan damai.
Konflik terbuka antara AS dan Iran sendiri pecah sejak 28 Februari lalu setelah serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran. Serangan itu memicu balasan besar dari Teheran yang menyerang Israel dan sejumlah negara Teluk sekutu Washington.
Iran juga menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap Barat. Penutupan jalur vital tersebut langsung mengguncang pasar energi global karena sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati kawasan itu.
Meski sempat tercapai gencatan senjata pada April, bentrokan sporadis antara kedua kubu masih terus terjadi hingga beberapa hari terakhir. Karena itu, penandatanganan kesepakatan damai hari ini dinilai menjadi momentum penting yang dapat mengubah arah geopolitik Timur Tengah sekaligus menstabilkan ekonomi dunia.
Jika kesepakatan benar-benar terealisasi dan Selat Hormuz kembali dibuka penuh, maka dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga pasar energi internasional, harga minyak global, hingga stabilitas perdagangan dunia. (R-03)

