Waspada Orang Tua, Anak Kecanduan Media Sosial Terancam Sulit Berempati dan Bersosialisasi
Ilustrasi. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Penggunaan media sosial secara berlebihan pada anak kini menjadi perhatian serius para pakar. Anak yang terlalu lama menghabiskan waktu di dunia digital dinilai berisiko mengalami keterasingan sosial, menurunnya kemampuan komunikasi, hingga gangguan kesehatan mental apabila tidak mendapat pengawasan dari orang tua.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Profesor Rachmah Ida mengingatkan bahwa media sosial dapat membuat sebagian anak merasa cukup dengan kehidupan digitalnya. Akibatnya, interaksi langsung dengan lingkungan sekitar semakin berkurang.
“Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunia digitalnya. Akibatnya, mereka berisiko mengalami alienasi atau keterasingan sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” ujar Ida seperti dikutip dari laman resmi UNAIR, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Minimnya interaksi sosial secara langsung dapat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun relasi, memahami empati, hingga melatih keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, anak-anak yang terlalu sering berinteraksi melalui layar gawai cenderung lebih sulit memahami ekspresi emosi orang lain. Dalam jangka panjang, pola komunikasi digital yang tidak terkontrol juga dapat membentuk karakter individualis pada generasi muda.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena media sosial kini telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain media sosial, menonton video pendek, hingga berinteraksi di dunia maya tanpa batas waktu yang jelas.
Profesor Ida menilai, keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah dampak negatif tersebut. Orang tua tidak cukup hanya memberikan akses gawai kepada anak, tetapi juga harus hadir sebagai pendamping dan pengawas dalam penggunaan media sosial.
“Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan role model utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” katanya.
Ia menegaskan, orang tua perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak mengenai penggunaan internet dan media sosial. Pendampingan tersebut penting agar anak memahami manfaat sekaligus risiko dari aktivitas digital yang mereka lakukan setiap hari.
Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki peran besar dalam memperkuat kemampuan sosial anak. Lembaga pendidikan didorong untuk memperbanyak aktivitas pembelajaran yang melibatkan komunikasi langsung, kerja sama tim, hingga pengembangan karakter.
Menurut Ida, sekolah harus menjadi ruang yang mampu menyeimbangkan kehidupan digital dan kehidupan sosial siswa. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya aktif di dunia maya, tetapi juga mampu berinteraksi secara sehat di lingkungan nyata.
Dalam konteks yang lebih luas, Ida menekankan pentingnya literasi digital di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kemampuan tersebut dinilai wajib dimiliki masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja yang menjadi pengguna aktif media sosial.
Literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup keterampilan memilah informasi, mengenali sumber terpercaya, menjaga keamanan data pribadi, hingga memahami ancaman hoaks dan manipulasi informasi.
“Gunakan media sosial secara bijak, seperlunya, dan dengan kesadaran penuh terhadap risiko yang ada. Bijak bermedia sosial menjadi kunci agar tetap menjadi ruang yang sehat, bukan ruang yang mengendalikan penggunanya,” ujar Ida.
Ia juga mengingatkan bahwa ruang digital menyimpan banyak ancaman yang sering kali tidak disadari masyarakat. Salah satu yang paling berbahaya adalah predator digital yang dapat memanfaatkan informasi pribadi anak di internet.
Selain itu, eksploitasi anak di media sosial juga menjadi ancaman nyata. Banyak kasus menunjukkan anak-anak rentan menjadi sasaran penipuan, perundungan siber, hingga manipulasi psikologis akibat lemahnya pengawasan penggunaan media digital.
Tak hanya itu, penggunaan media sosial berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental pada generasi muda. Anak-anak yang terlalu sering terpapar konten digital dinilai lebih mudah mengalami kecemasan, stres, hingga tekanan sosial akibat perbandingan kehidupan di media sosial.
Karena itu, Ida mengajak seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya bermedia sosial yang sehat. Pengawasan, edukasi, serta komunikasi terbuka dinilai menjadi langkah penting agar anak tetap mampu berkembang secara sosial dan emosional di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurutnya, media sosial pada dasarnya dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat. Namun tanpa kontrol yang baik, media sosial justru dapat menjadi ancaman bagi tumbuh kembang anak dan kualitas hubungan sosial mereka di masa depan. (R-05)

