Draf Perdamaian Hampir Rampung, Iran Mulai Buka Sinyal Positif ke AS
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. (sumber: AFP)
IRAN, SabangMerauke News - Setelah berbulan-bulan diwarnai serangan, ancaman, dan perang pernyataan, Iran dan Amerika Serikat kini tampaknya sedang bergerak menuju titik yang beberapa waktu lalu terasa mustahil: sebuah kesepakatan damai.
Sinyal paling kuat datang dari Teheran. Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa sebagian besar isu utama dalam negosiasi telah menemukan titik temu. Saat ini, para pejabat negara itu sedang melakukan peninjauan internal terakhir terhadap rancangan perjanjian yang berpotensi mengakhiri salah satu ketegangan geopolitik terbesar tahun 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah, ia menggambarkan proses negosiasi berada pada fase paling maju sejak pembicaraan dimulai.
Di balik kalimat diplomatis yang terdengar sederhana itu, tersimpan pesan penting. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara terlihat berbicara lebih banyak tentang penyelesaian konflik dibandingkan eskalasi perang.
Menurut Baghaei, mayoritas persoalan yang selama ini menjadi penghambat telah berhasil dibahas dan menemukan bentuk kesepahaman. Meski demikian, Teheran belum ingin terburu-buru merayakan keberhasilan.
Berbagai lembaga dan otoritas terkait di Iran masih melakukan pembahasan internal guna memastikan seluruh isi kesepakatan sesuai dengan kepentingan nasional negara tersebut.
Proses itu dianggap penting karena keputusan akhir tidak hanya berada di tangan tim negosiator. Sejumlah institusi strategis juga harus memberikan persetujuan sebelum dokumen resmi ditandatangani.
"Keputusan besar membutuhkan kesepahaman nasional yang kuat. Karena itu setiap detail harus diperiksa dengan sangat hati-hati sebelum memasuki tahap akhir," ujar Baghaei, Sabtu, 13 Juni 2026.
Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut rancangan Nota Kesepahaman Islamabad sebagai proses yang "belum pernah sedekat ini" dengan kesepakatan final.
Istilah Islamabad merujuk pada perundingan yang dimediasi Pakistan. Negara tersebut dalam beberapa bulan terakhir memainkan peran penting sebagai jembatan komunikasi antara Washington dan Teheran.
Di balik layar, perundingan berlangsung jauh lebih rumit daripada yang terlihat di publik. Sumber-sumber diplomatik menyebut pembahasan mencakup sejumlah isu sensitif yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan kedua negara.
Program nuklir Iran menjadi salah satu topik paling krusial. Selain itu, pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz juga menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi ekonomi global. Jalur sempit tersebut menjadi pintu keluar masuk sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Setiap gangguan di wilayah itu hampir selalu berdampak pada harga energi dunia. Karena itulah, kesepakatan mengenai keamanan pelayaran menjadi perhatian banyak negara.
Menariknya, di tengah optimisme yang mulai tumbuh, Iran juga menyampaikan kritik terhadap Amerika Serikat. Baghaei menilai kesepakatan sebenarnya bisa dicapai lebih cepat apabila Washington tidak beberapa kali mengubah posisi negosiasi.
Menurutnya, perubahan tuntutan dan pernyataan yang saling bertentangan dari pihak Amerika membuat proses berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Meski begitu, Iran menegaskan tetap mempertahankan pendekatan konstruktif selama pembicaraan berlangsung.
Di sisi lain, Gedung Putih juga memberikan sinyal yang tidak kalah positif. Seorang pejabat pemerintahan Amerika mengungkapkan bahwa Iran telah menyetujui kerangka kesepakatan berbasis kinerja. Dalam skema tersebut, setiap manfaat ekonomi baru akan diberikan setelah Iran memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan.
Salah satu poin yang disebutkan adalah pembongkaran program nuklir tertentu serta pemindahan material nuklir yang menjadi perhatian komunitas internasional.
Washington juga menegaskan bahwa pencabutan sanksi tidak akan dilakukan secara otomatis. Semua proses akan bergantung pada pelaksanaan komitmen yang telah disepakati.
"Keberhasilan perjanjian ini sangat bergantung pada kepercayaan yang dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan politik," kata seorang pejabat Gedung Putih.
Selain isu nuklir, Amerika Serikat juga menyoroti keamanan kawasan dan stabilitas jalur perdagangan internasional. Dalam kerangka yang dibahas, Selat Hormuz disebut akan tetap terbuka bagi aktivitas maritim global.
Hal itu menjadi kabar baik bagi pasar internasional yang selama beberapa bulan terakhir dibayangi kekhawatiran gangguan distribusi energi.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bahkan menyebut kesepakatan tersebut berpotensi menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Washington melihat proses ini bukan sekadar penghentian konflik sementara, melainkan peluang membangun tatanan baru yang lebih stabil.
Namun sejumlah pengamat mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih belum sepenuhnya mulus.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa hubungan Iran dan Amerika Serikat sering kali berubah arah secara cepat. Kesepakatan yang terlihat hampir selesai dapat kembali tersendat karena persoalan politik maupun keamanan yang muncul secara tiba-tiba.
Karena itu, kedua pihak masih memilih menjaga kehati-hatian. Iran belum mengungkap isi lengkap dokumen yang sedang dibahas. Amerika Serikat juga belum mempublikasikan rincian final kesepakatan.
Sikap tertutup tersebut menunjukkan bahwa masih ada beberapa tahap yang harus dilalui sebelum perjanjian resmi diumumkan kepada dunia.
Meski demikian, satu fakta mulai terlihat jelas. Bahasa diplomasi perlahan menggantikan bahasa ancaman. Ruang negosiasi mulai lebih ramai dibanding medan konflik.
Dan setelah berbulan-bulan menjadi sumber ketegangan global, hubungan Iran dan Amerika Serikat kini berada di titik yang mungkin akan menentukan arah Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang.
Apakah perdamaian benar-benar akan terwujud, dunia tampaknya hanya tinggal menunggu beberapa langkah terakhir dari dua negara yang selama puluhan tahun berdiri di sisi berseberangan sejarah. R-02

