Putri Pewaris Takhta Thailand Wafat Setelah 4 Tahun Koma, Negeri Gajah Putih Berkabung 15 Hari
Seorang ibu warga Bangkok memeluk foto Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati yang wafat pada Kamis malam, 11 Juni 2026. (sumber: .vietnam.vn)
THAILAND, SabangMerauke News - Thailand memasuki masa berkabung selama 15 hari setelah Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati wafat pada Kamis malam, 11 Juni 2026. Putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn itu meninggal di usia 47 tahun setelah koma hampir empat tahun.
Masa berkabung dimulai Jumat, 12 Juni 2026. Bendera nasional dikibarkan setengah tiang di seluruh kantor pemerintahan dan sekolah negeri. Aparatur negara serta pegawai perusahaan milik negara mengenakan pakaian berkabung berwarna gelap. Suasana duka menyelimuti berbagai wilayah Thailand.
Meski berkabung, pemerintah meminta aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan pekerjaan dan kegiatan ekonomi tidak boleh terhenti. "Menjalani pekerjaan dan mencari nafkah harus tetap berjalan seperti biasa," kata Anutin setelah rapat kabinet khusus membahas pengaturan masa berkabung.
Anutin menjelaskan rasa kehilangan dapat disimpan dalam hati masing-masing warga. Duka tidak harus menghentikan seluruh aktivitas publik. Pemerintah memilih pendekatan yang tenang dan terukur. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas nasional.
Kabar wafatnya sang putri sebenarnya sudah lama dikhawatirkan banyak kalangan. Putri Bajrakitiyabha mengalami gangguan jantung saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Nakhon Ratchasima pada Desember 2022. Saat itu ia mendadak kehilangan kesadaran. Tim medis segera menerbangkannya ke Bangkok menggunakan helikopter.
Sejak peristiwa tersebut, sang putri menjalani perawatan intensif dalam waktu sangat panjang. Kondisinya terus dipantau oleh dokter dari berbagai bidang. Harapan sempat muncul beberapa kali. Kondisi kesehatannya ternyata terus mengalami penurunan.
Istana Kerajaan Thailand menjelaskan komplikasi kesehatan menjadi penyebab utama kematian. Infeksi dalam rongga perut menjadi awal dari serangkaian masalah medis berat. Kondisi itu berkembang menjadi kolitis, tekanan darah rendah, gangguan irama jantung, serta kelainan pembekuan darah. Tubuh sang putri akhirnya tidak mampu bertahan.
Putri Bajrakitiyabha merupakan anak pertama Raja Maha Vajiralongkorn. Ia lahir pada 7 Desember 1978 dari pernikahan raja dengan Putri Soamsawali. Dalam struktur kerajaan Thailand, posisinya memiliki arti yang sangat penting. Ia termasuk salah satu anggota keluarga kerajaan yang memenuhi syarat untuk naik takhta.
Karena status tersebut, namanya sering disebut dalam pembahasan suksesi kerajaan. Banyak warga Thailand mengenalnya sebagai figur modern dengan pendidikan tinggi. Sosoknya aktif dalam berbagai kegiatan hukum dan sosial. Perannya melampaui fungsi simbolik keluarga kerajaan.
Perjalanan akademiknya berlangsung cemerlang. Putri Bajrakitiyabha menempuh pendidikan hukum di Cornell University, Amerika Serikat. Ia meraih gelar magister sekaligus doktor hukum. Pendidikan tersebut membentuk karier profesional yang panjang.
Kariernya dimulai sebagai jaksa di Kantor Jaksa Agung Thailand. Jabatan itu diembannya sejak 2006 hingga 2011. Setelah itu, ia dipercaya mengemban tugas diplomatik. Namanya semakin dikenal di lingkungan internasional.
Pada 2012, ia ditunjuk menjadi Duta Besar Thailand untuk Austria. Akreditasi diplomatiknya juga mencakup Slovenia dan Slovakia. Selama bertugas di Eropa, ia aktif memperkuat hubungan bilateral. Masa penugasan itu berlangsung hingga 2014.
Sekembalinya ke Thailand, ia kembali menjalankan tugas di bidang hukum. Fokusnya tidak hanya pada pemerintahan. Ia juga aktif mengembangkan berbagai program sosial. Perhatian khusus diberikan kepada narapidana perempuan.
Salah satu program yang paling dikenal berkaitan dengan hak perempuan di penjara. Putri Bajrakitiyabha mendirikan yayasan yang membantu narapidana perempuan, terutama yang sedang hamil. Program itu mendapat apresiasi luas dari berbagai organisasi internasional. Namanya identik dengan isu kemanusiaan dan keadilan.
"Perempuan dalam sistem pemasyarakatan membutuhkan kesempatan yang setara," ujar Putri Bajrakitiyabha dalam salah satu kegiatan sosial beberapa tahun lalu.
Dedikasinya membuat lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan kepercayaan khusus. Pada 2017, ia ditunjuk menjadi Duta Persahabatan untuk Supremasi Hukum Asia Tenggara. Penunjukan itu memperkuat reputasinya di tingkat global. Perannya semakin luas, melampaui batas Thailand.
Kariernya kembali memasuki babak baru pada 2021. Ia berpindah ke lingkungan militer kerajaan. Pangkat jenderal diberikan sebagai bentuk kepercayaan negara. Ia kemudian menjabat Kepala Staf Komando Keamanan Kerajaan.
Wafatnya Putri Bajrakitiyabha terjadi saat Thailand masih menjalani masa berkabung panjang atas meninggalnya Ibu Suri Sirikit pada Oktober 2025. Prosesi pemakaman Ibu Suri bahkan baru dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang. Situasi tersebut membuat kerajaan kembali menghadapi suasana kehilangan mendalam. Dua generasi penting kerajaan berpulang dalam waktu berdekatan.
Sebagai bentuk penghormatan, seluruh stasiun televisi mengubah tampilan siaran mereka. Warna grafis dibuat lebih redup. Nuansa hiburan dikurangi. Siaran berita dan program khusus duka mendapat porsi lebih besar.
Istana juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir. Raja Maha Vajiralongkorn mengizinkan warga menghadiri ritual pemandian jenazah kerajaan di Grand Palace pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kesempatan itu jarang diberikan dalam tradisi kerajaan Thailand. Antusiasme masyarakat diperkirakan sangat besar.
Mulai Minggu, 14 Juni 2026, warga juga diperbolehkan menulis pesan duka cita. Buku penghormatan akan dibuka untuk umum. Ribuan warga diperkirakan datang dari berbagai daerah. Kehadiran mereka menjadi simbol kedekatan sang putri dengan masyarakat.
Juru Bicara Pemerintah Thailand, Rachada Dhnadirek, mengatakan rangkaian doa Buddha akan berlangsung selama 100 hari. Pegawai negeri dijadwalkan mengikuti berbagai upacara penghormatan. Agenda itu menjadi bagian penting tradisi kerajaan Thailand. Prosesi spiritual berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.
Kepergian Putri Bajrakitiyabha meninggalkan jejak panjang dalam dunia hukum, diplomasi, militer, dan kemanusiaan. Sosoknya dikenang sebagai perempuan kerajaan yang aktif bekerja di berbagai bidang. Namanya pernah masuk dalam daftar figur paling berpengaruh di Thailand. Kini perjalanan panjang itu berakhir dalam suasana duka nasional.
Thailand berduka selama 15 hari. Kehidupan tetap berjalan. Bendera tetap berkibar setengah tiang. Nama Putri Bajrakitiyabha tetap hidup dalam sejarah kerajaan modern Thailand. R-02

