SabangMeraukeNEWS.com

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum
  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan

    https://sabangmeraukenews.com

Copyright ©
sabangmeraukeNEWS.com
All rights reserved

https://sabangmeraukenews.com

  • Daerah
    • Cuma Untung Rp15 Ribu, Warga Medan Malah Terancam Denda Rp60 Miliar

      Cuma Untung Rp15 Ribu, Warga Medan Malah Terancam Denda Rp60 Miliar

      11/06/2026  ❘  19:34 WIB
    • Medan Krisis Air, Emak-Emak Mengamuk Melihat Damkar Masuk Rumah Kadis

      Medan Krisis Air, Emak-Emak Mengamuk Melihat Damkar Masuk Rumah Kadis

      11/06/2026  ❘  19:22 WIB
    • 2 Kg Sabu Asal Riau Nyaris Lolos ke Jakarta, Dua Kurir Keburu Disergap

      2 Kg Sabu Asal Riau Nyaris Lolos ke Jakarta, Dua Kurir Keburu Disergap

      11/06/2026  ❘  18:43 WIB
    • Guru Tak Kunjung Datang, Anak Suku Akit di Meranti Kembali Terancam Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Dituding Berbohong

      Guru Tak Kunjung Datang, Anak Suku Akit di Meranti Kembali Terancam Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Dituding Berbohong

      11/06/2026  ❘  18:22 WIB
  • Nasional
    • KSP Dudung Buka Suara Namanya Terseret MBG, Klaim Cuma Jembatani Ponpes Bertemu Dadan

      KSP Dudung Buka Suara Namanya Terseret MBG, Klaim Cuma Jembatani Ponpes Bertemu Dadan

      11/06/2026  ❘  20:34 WIB
    • Ketum HIPMI Kini Dipegang Politisi Partai Gerindra Ade Jona Prasetyo

      Ketum HIPMI Kini Dipegang Politisi Partai Gerindra Ade Jona Prasetyo

      11/06/2026  ❘  18:06 WIB
    • BBM Non Subsidi Melonjak, ESDM Pastikan Pertalite dan Solar Tetap Bertahan

      BBM Non Subsidi Melonjak, ESDM Pastikan Pertalite dan Solar Tetap Bertahan

      11/06/2026  ❘  12:15 WIB
    • Tower Emergency 275 kV Galang–Simangkuk Berhasil Energize, Masyarakat Kembali Nikmati Listrik Andal PLN

      Tower Emergency 275 kV Galang–Simangkuk Berhasil Energize, Masyarakat Kembali Nikmati Listrik Andal PLN

      11/06/2026  ❘  11:58 WIB
  • Ekonomi
    • Timur Tengah Memanas, Rupiah Ikut Gemetar Ketakutan di Ujung Rp18.000

      Timur Tengah Memanas, Rupiah Ikut Gemetar Ketakutan di Ujung Rp18.000

      11/06/2026  ❘  19:08 WIB
    • BBCA Diborong Besar-Besaran, IHSG Malah Masuk Jurang Merah

      BBCA Diborong Besar-Besaran, IHSG Malah Masuk Jurang Merah

      11/06/2026  ❘  19:00 WIB
    • Harga Emas Antam Hari Ini 11 Juni 2026 Masih Bertahan di Rp 2,7 Juta per Gram, Waktu Tepat untuk Beli?

      Harga Emas Antam Hari Ini 11 Juni 2026 Masih Bertahan di Rp 2,7 Juta per Gram, Waktu Tepat untuk Beli?

      11/06/2026  ❘  11:45 WIB
    • Butuh Modal Cepat? Gadai Emas BRK Syariah Jadi Andalan Pelaku UMKM

      Butuh Modal Cepat? Gadai Emas BRK Syariah Jadi Andalan Pelaku UMKM

      11/06/2026  ❘  11:41 WIB
  • Politik
    • Datang ke Istana Bersama Luhut, Chatib Basri Akhirnya Buka Suara Soal Jabatan Menkeu

      Datang ke Istana Bersama Luhut, Chatib Basri Akhirnya Buka Suara Soal Jabatan Menkeu

      09/06/2026  ❘  19:17 WIB
    • Dari Demo Jalanan ke Lingkar Kekuasaan, Said Iqbal Jadi Penasihat Khusus Presiden Prabowo

      Dari Demo Jalanan ke Lingkar Kekuasaan, Said Iqbal Jadi Penasihat Khusus Presiden Prabowo

      08/06/2026  ❘  11:49 WIB
    • Pigai Bikin Geger! Usul Sipil Duduki Jabatan Polri Picu Gelombang Perdebatan Nasional

      Pigai Bikin Geger! Usul Sipil Duduki Jabatan Polri Picu Gelombang Perdebatan Nasional

      06/06/2026  ❘  19:35 WIB
    • Plt Gubernur Riau; "Saya Tidak Ada Cium Tangan Bapak! Siapa Bapak Rupanya?"

      Plt Gubernur Riau; "Saya Tidak Ada Cium Tangan Bapak! Siapa Bapak Rupanya?"

      03/06/2026  ❘  15:16 WIB
  • Hukrim
    • Habib Palsu Ditangkap Cabuli 8 Santriwati, Sebut Persetubuhan Bisa Hapus Dosa

      Habib Palsu Ditangkap Cabuli 8 Santriwati, Sebut Persetubuhan Bisa Hapus Dosa

      11/06/2026  ❘  20:25 WIB
    • Saksi Ahli Hukum UGM Buka-Bukaan: Pengangkatan Staf Ahli Non-ASN Langgar Aturan!

      Saksi Ahli Hukum UGM Buka-Bukaan: Pengangkatan Staf Ahli Non-ASN Langgar Aturan!

      11/06/2026  ❘  20:18 WIB
    • Gading Gajah Jadi Ekskavator, Polda Riau Bongkar Jejak Uang Rp1,8 Miliar

      Gading Gajah Jadi Ekskavator, Polda Riau Bongkar Jejak Uang Rp1,8 Miliar

      11/06/2026  ❘  19:46 WIB
    • Demi Dapatkan Opini WTP dari BPK, Bupati Ini Berujung Tersangka Suap

      Demi Dapatkan Opini WTP dari BPK, Bupati Ini Berujung Tersangka Suap

      11/06/2026  ❘  18:10 WIB
  • Umum
    • IKA FISIP Selenggarakan Diskusi Jelang Momentum Pemilihan Rektor Baru: Quo Vadis Universitas Riau?

      IKA FISIP Selenggarakan Diskusi Jelang Momentum Pemilihan Rektor Baru: Quo Vadis Universitas Riau?

      11/06/2026  ❘  20:26 WIB
    • Terkuak! Ini Daftar SMA-SMK Negeri di Pekanbaru yang Rekrut 953 Siswa di Luar Sistem SPMB 2025

      Terkuak! Ini Daftar SMA-SMK Negeri di Pekanbaru yang Rekrut 953 Siswa di Luar Sistem SPMB 2025

      09/06/2026  ❘  15:04 WIB
    • Hari Ini Penerimaan Murid Baru SMA-SMK Negeri di Riau Dimulai, Ini Jadwal dan Tahapannya

      Hari Ini Penerimaan Murid Baru SMA-SMK Negeri di Riau Dimulai, Ini Jadwal dan Tahapannya

      08/06/2026  ❘  08:32 WIB
    • BPOM Bongkar Kopi Lokal Berbahaya, Bisa Picu Gagal Ginjal hingga Kematian

      BPOM Bongkar Kopi Lokal Berbahaya, Bisa Picu Gagal Ginjal hingga Kematian

      07/06/2026  ❘  18:09 WIB
  • Riau
    • Kabar Duka, Jemaah Haji Asal Rokan Hilir Wafat di Batam

      Kabar Duka, Jemaah Haji Asal Rokan Hilir Wafat di Batam

      11/06/2026  ❘  20:01 WIB
    • Dua Hari Dibuka, Pendaftar SPMB SMA dan SMK Negeri di Riau Tembus 61 Ribu

      Dua Hari Dibuka, Pendaftar SPMB SMA dan SMK Negeri di Riau Tembus 61 Ribu

      11/06/2026  ❘  20:00 WIB
    • Tak Hanya Jaga Kamtibmas, Polsek Tebing Tinggi Barat Turun Langsung Bina Petani Cabai

      Tak Hanya Jaga Kamtibmas, Polsek Tebing Tinggi Barat Turun Langsung Bina Petani Cabai

      11/06/2026  ❘  19:52 WIB
    • 9.830 Pengunjung Datangi Museum Sang Nila Utama Riau dari Januari-Mei 2026

      9.830 Pengunjung Datangi Museum Sang Nila Utama Riau dari Januari-Mei 2026

      11/06/2026  ❘  19:22 WIB
  • Sport
    • Azteca Bergelegar! Meksiko Buka Piala Dunia, Afrika Selatan Datang Bawa Dendam Lama

      Azteca Bergelegar! Meksiko Buka Piala Dunia, Afrika Selatan Datang Bawa Dendam Lama

      11/06/2026  ❘  14:10 WIB
    • Korea Selatan Bawa Modal Besar, Ceko Datang Dengan Ancaman

      Korea Selatan Bawa Modal Besar, Ceko Datang Dengan Ancaman

      11/06/2026  ❘  13:57 WIB
    • Malam Penentuan! Garuda Muda Siap Patahkan Kesombongan Australia di Sumut

      Malam Penentuan! Garuda Muda Siap Patahkan Kesombongan Australia di Sumut

      11/06/2026  ❘  09:50 WIB
    • Ini Jadwal Lengkap Pertandingan Fase Grup Piala Dunia 2026

      Ini Jadwal Lengkap Pertandingan Fase Grup Piala Dunia 2026

      11/06/2026  ❘  08:55 WIB
  • Opini
    • Kebangkitan Polandia Menjadi Kekuatan Baru Eropa

      Kebangkitan Polandia Menjadi Kekuatan Baru Eropa

      11/06/2026  ❘  08:29 WIB
    • Proses Remedy Framework FSC: APP Group Bergerak dalam Senyap, APRIL Group Tenggelam dalam Ketidakjelasan

      Proses Remedy Framework FSC: APP Group Bergerak dalam Senyap, APRIL Group Tenggelam dalam Ketidakjelasan

      10/06/2026  ❘  19:27 WIB
    • PHR Raup Laba Rp 16 Triliun, Alokasi Dana PI Blok Rokan Harus Jelas dan Transparan: Jangan Lagi Rp 18 Ribu per Bulan! 

      PHR Raup Laba Rp 16 Triliun, Alokasi Dana PI Blok Rokan Harus Jelas dan Transparan: Jangan Lagi Rp 18 Ribu per Bulan! 

      05/06/2026  ❘  12:26 WIB
    • Penguatan Daya Saing UMKM Indonesia Melalui Implementasi Good Governance dan Penataan Pajak

      Penguatan Daya Saing UMKM Indonesia Melalui Implementasi Good Governance dan Penataan Pajak

      01/06/2026  ❘  15:34 WIB
  • Internasional
    • Iran Kunci Selat Hormuz dan Serang Yordania, AS Langsung Buka Suara

      Iran Kunci Selat Hormuz dan Serang Yordania, AS Langsung Buka Suara

      11/06/2026  ❘  11:29 WIB
    • Perang AS vs Iran Kembali Dimulai, Trump: Hantam Lebih Keras!

      Perang AS vs Iran Kembali Dimulai, Trump: Hantam Lebih Keras!

      11/06/2026  ❘  08:42 WIB
    • New York Mendadak “Lockdown”, Kedatangan Donald Trump Bikin Manhattan Lumpuh Total

      New York Mendadak “Lockdown”, Kedatangan Donald Trump Bikin Manhattan Lumpuh Total

      09/06/2026  ❘  12:42 WIB
    • Sah! Belgia Resmikan PSK Jadi Pekerja Formal, Kini Bisa Dapat Pesangon dan Asuransi

      Sah! Belgia Resmikan PSK Jadi Pekerja Formal, Kini Bisa Dapat Pesangon dan Asuransi

      08/06/2026  ❘  07:50 WIB
  • lain
      -->
    • Advertorial
    • -->
    • Foto
    • Indeks
Bukan omon omon

Guru Tak Kunjung Datang, Anak Suku Akit di Meranti Kembali Terancam Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Dituding Berbohong

11/06/2026  ❘  18:22 WIB • Daerah
Bagikan :
Guru Tak Kunjung Datang, Anak Suku Akit di Meranti Kembali Terancam Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Dituding Berbohong

Harapan masyarakat Suku Akit yang tinggal di wilayah terpencil Dusun Air Mabuk, Desa Mengkikip, Kecamatan Tebingtinggi Barat, kembali diuji. Foto : Istimewa

SELATPANJANG, SabangMerauke News - Harapan masyarakat Suku Akit yang tinggal di wilayah terpencil Dusun Air Mabuk, Desa Mengkikip, Kecamatan Tebingtinggi Barat, kembali diuji. Setelah sempat mendapatkan secercah harapan melalui janji perbaikan layanan pendidikan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Meranti, hingga kini realisasi yang dinantikan belum terwujud sama sekali. 

Masyarakat di wilayah Parit Ambai dan Pengaram bahkan mengaku merasa kecewa. Begitu pula sejumlah pihak yang sebelumnya ikut menyoroti persoalan pendidikan di kawasan tersebut. Pasalnya, solusi yang pernah disampaikan saat kunjungan lapangan dinilai belum berjalan sebagaimana yang dijanjikan.

Sebelumnya, kondisi pendidikan anak-anak Suku Akit di daerah itu menjadi perhatian publik setelah terungkap bahwa mereka harus menjalani hari-hari tanpa guru dan tanpa kegiatan belajar mengajar selama berbulan-bulan.

Anak-anak yang menempuh pendidikan melalui sekolah marginal lokal jauh SD Negeri 12 Mengkikip itu harus menerima kenyataan pahit bahwa akses pendidikan yang layak masih menjadi persoalan serius di wilayah mereka.

Kurang lebih selama enam bulan, ruang belajar yang ada nyaris tanpa aktivitas pendidikan. Tidak ada guru yang hadir secara rutin, tidak ada proses pembelajaran sebagaimana mestinya, dan tidak ada kepastian kapan kondisi tersebut akan berakhir.

Bagi anak-anak yang hidup di wilayah pedalaman, kehilangan guru bukan sekadar kehilangan kesempatan belajar membaca atau berhitung. Mereka juga kehilangan ruang untuk membangun mimpi dan masa depan yang lebih baik di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi sehari-hari.

Setelah persoalan tersebut mencuat ke publik dan menjadi perhatian media, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Meranti turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Kunjungan itu sekaligus menjadi upaya mencari solusi atas persoalan yang selama ini dialami anak-anak Suku Akit di Dusun Air Mabuk.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan terkait efektivitas pengawasan yang dilakukan. Sebab, masyarakat menilai seharusnya persoalan anak-anak yang tidak mendapatkan layanan pendidikan selama berbulan-bulan dapat diketahui lebih awal tanpa harus menunggu menjadi sorotan publik.

Saat berada di lokasi, pihak dinas menyaksikan langsung kondisi ruang belajar sederhana yang selama ini digunakan anak-anak untuk menuntut ilmu. Di tengah keterbatasan fasilitas, bangunan itu tetap menjadi satu-satunya harapan bagi masyarakat untuk memberikan pendidikan kepada generasi mereka.

Dalam kunjungan tersebut, muncul solusi sementara yang sempat disambut baik masyarakat. Dinas Pendidikan saat itu berjanji akan mengembalikan guru-guru yang sebelumnya mengajar di sekolah lokal jauh tersebut namun kemudian bertugas sebagai operator di sekolah induk agar kembali mendampingi anak-anak di Dusun Air Mabuk.

Tiga orang guru yang disebut akan kembali mengajar diketahui selama ini hanya menerima penghasilan sekitar Rp850 ribu per bulan. Status mereka sebagai operator sekolah dengan formasi lulusan SMA membuat kesejahteraan yang diterima masih sangat terbatas.

 

Meski solusi tersebut belum ideal, masyarakat saat itu merasa sedikit lega. Setidaknya anak-anak kembali memiliki kesempatan untuk belajar setelah sekian lama kehilangan proses pendidikan. Bahkan disepakati kegiatan belajar mengajar akan berlangsung tiga hari dalam seminggu sebagai langkah awal mengatasi keterbatasan biaya operasional dan kesejahteraan tenaga pengajar.

Namun harapan yang sempat tumbuh perlahan kini kembali diliputi ketidakpastian. Masyarakat mengaku hingga saat ini para guru yang dijanjikan kembali mengajar belum hadir secara maksimal di lokasi. Akibatnya, proses belajar mengajar yang diharapkan dapat berjalan normal kembali belum juga terwujud.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera mengambil langkah nyata dan permanen agar anak-anak Suku Akit di Dusun Air Mabuk tidak terus menjadi korban keterbatasan sistem pendidikan. Sebab bagi mereka, pendidikan bukan sekadar hak konstitusional, melainkan satu-satunya jalan untuk keluar dari lingkaran keterisolasian dan kemiskinan yang selama ini membelenggu kehidupan masyarakat pedalaman.

Kekecewaan masyarakat Suku Akit di Dusun Air Mabuk, itu kian memuncak. Setelah sempat menerima kabar adanya solusi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Meranti terkait kekosongan guru di sekolah marginal lokal jauh, hingga kini janji tersebut dinilai belum memberikan hasil nyata di lapangan.

Keluhan itu disampaikan langsung oleh salah seorang warga setempat, Asin (40). Dengan nada penuh harap, ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar anak-anak mereka tidak terus kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Menurut Asin, masyarakat sudah terlalu lama menunggu kepastian sejak kunjungan pejabat dinas pendidikan beberapa waktu lalu. Saat itu, warga sempat merasa lega karena ada solusi yang ditawarkan untuk mengaktifkan kembali proses belajar mengajar yang selama berbulan-bulan terhenti.

Namun kenyataan yang mereka hadapi hingga saat ini jauh dari harapan. Guru yang dijanjikan untuk kembali mengajar disebut belum juga hadir secara rutin sebagaimana yang disampaikan saat pertemuan dengan masyarakat.

"Kami memohon betul kepada pemerintah daerah. Kami sudah pusing dengan kondisi begini. Sejak orang dinas turun waktu itu dan menawarkan solusi, tidak ada guru yang datang mengajar anak kami di sini. Kalau kurang yakin, silakan datang langsung ke sini," kata Asin.

 

Ia mengaku telah berulang kali mempertanyakan persoalan tersebut kepada pihak sekolah induk. Namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti mengenai kapan proses belajar mengajar dapat berjalan normal kembali.

"Dua kali saya tanyakan, belum ada turun guru sama sekali. Waktu mereka datang dulu memang ada disampaikan prosesnya, tapi sampai sekarang belum ada realisasi yang jelas," ujarnya.

Asin menceritakan, saat kunjungan berlangsung, sempat disampaikan bahwa guru hanya akan datang mengajar pada hari Senin dan kembali pulang pada hari Selasa. Artinya, dalam satu minggu proses belajar mengajar hanya berlangsung sekitar dua hari.

Meski demikian, skema tersebut menurutnya juga tidak pernah benar-benar terlaksana. Hingga kini anak-anak mereka masih menunggu kehadiran guru yang dijanjikan.

"Saya tanya waktu mereka turun dan ketika menunggu proses itu, mereka bilang hanya bisa datang hari Senin dan pulang hari Selasa. Artinya dalam seminggu hanya dua hari belajar. Tapi kenyataannya sampai sekarang itu pun tidak ada," tuturnya.

Karena khawatir pendidikan anak-anak semakin tertinggal, masyarakat bahkan sempat bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Salah satu usulan yang muncul adalah warga bersedia membantu menjemput dan mengantar guru menggunakan kapal agar dapat tinggal lebih lama di lokasi.

"Kami sempat berunding. Kalau memang masalah transportasi, kami siap menjemput guru hari Minggu dan mengantarkan pulang hari Kamis supaya anak-anak bisa belajar lebih banyak," katanya.

Menurut Asin, dua hari belajar dalam seminggu bukanlah solusi yang ideal. Ia khawatir anak-anak mereka semakin tertinggal dibandingkan siswa lain yang memperoleh pendidikan secara normal setiap hari.

"Kami tidak terima kalau cuma dua hari belajar. Anak-anak kami pasti ketinggalan pelajaran. Mata pelajaran banyak, sementara mereka sudah lama tidak belajar. Semester kemarin saja tidak ujian. Jelas mereka tertinggal," ungkapnya.

 

Lebih jauh, ia berharap pemerintah daerah benar-benar memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak Suku Akit yang hidup di wilayah terpencil tersebut. Baginya, pendidikan merupakan satu-satunya harapan agar generasi berikutnya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.

"Harapan kami kepada pemerintah, jangan anak-anak kami ditelantarkan. Kami dulu tidak sekolah, jangan sampai anak-anak kami juga tidak sekolah. Kami memang tinggal di pelosok, tapi bukan berarti anak-anak kami tidak berhak mendapatkan pendidikan," tegasnya.

Asin juga mengaku keberatan apabila solusi yang ditawarkan adalah memindahkan seluruh siswa ke sekolah induk di Mengkikip. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan berkebun membuat pilihan tersebut sulit untuk dijalankan.

"Kalau anak-anak harus sekolah ke Mengkikip, itu sangat berat bagi kami. Untuk mencari makan saja susah. Kami hidup dari berkebun dan melaut. Karena itu kami sangat berharap pemerintah bisa menghadirkan pendidikan di kampung kami sendiri," katanya.

Di akhir penyampaiannya, Asin kembali memohon perhatian pemerintah daerah. Bahkan ia menyatakan siap menjelaskan secara langsung kondisi yang sebenarnya apabila diperlukan.

"Sekali lagi saya sangat memohon. Kalau perlu Bupati telepon saya, akan saya ceritakan semuanya. Yang kami minta hanya satu, jangan biarkan anak-anak kami kehilangan masa depan karena tidak ada guru yang mengajar," pungkasnya.

Diketahui, sekolah marginal lokal jauh itu sebelumnya dijalankan oleh tiga orang guru honorer dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang.

Anak-anak tersebut tersebar dalam enam tingkatan kelas. Kelas satu terdiri dari tiga siswa, kelas dua empat siswa, kelas tiga dua siswa, kelas empat delapan siswa, kelas lima empat siswa, dan kelas enam empat siswa.

Kondisi sekolah lokal jauh itu sendiri berada di dua titik berbeda di wilayah Dusun Air Mabuk.

Di Dusun Pengaram terdapat empat ruang lokal yang dibangun sejak masih bergabung dengan Kabupaten Bengkalis. Hingga kini, sekitar 25 siswa masih tercatat belajar di lokasi tersebut.

Sementara di Parit Ambai, proses belajar mengajar selama ini memanfaatkan bangunan posyandu sebagai ruang belajar darurat, dengan jumlah sekitar sembilan orang siswa.

Kedua titik pendidikan itu tidak memungkinkan untuk digabungkan karena jarak yang cukup jauh serta akses transportasi yang terbatas, terutama bagi anak-anak yang harus menempuh perjalanan melalui jalur perairan dan kawasan terpencil. (R-04)

Editor: Ali Imran

BERITA TERKAIT :

Idul adha lindawati HUT 60 tahun BRK syariah Lowongan kerja Novotel Terbaru

TERPOPULER

  • Hasil Audit Inspektorat Riau Terkait Bisnis Seragam Siswa SMA Negeri, 31 Sekolah Diperintahkan Kembalikan Rp 566 Juta ke Orangtua

    Hasil Audit Inspektorat Riau Terkait Bisnis Seragam Siswa SMA Negeri, 31 Sekolah Diperintahkan Kembalikan Rp 566 Juta ke Orangtua

    31/05/2026  ❘  15:10 WIB
  • Pengadilan Dikepung Massa, SF Hariyanto Bersaksi di Sidang Panas Dugaan Korupsi Gubernur Abdul Wahid

    Pengadilan Dikepung Massa, SF Hariyanto Bersaksi di Sidang Panas Dugaan Korupsi Gubernur Abdul Wahid

    03/06/2026  ❘  10:05 WIB
  • Ini Daftar 22 PKS di Riau yang Dilaporkan Mentan ke Kapolri Diduga Mainkan Harga TBS Kelapa Sawit

    Ini Daftar 22 PKS di Riau yang Dilaporkan Mentan ke Kapolri Diduga Mainkan Harga TBS Kelapa Sawit

    10/06/2026  ❘  16:53 WIB
  • Kejari Kepulauan Meranti Terus Dalami Kasus Dugaan Korupsi BUMD PT Bumi Meranti, Kerugian Negara Masih Dihitung 

    Kejari Kepulauan Meranti Terus Dalami Kasus Dugaan Korupsi BUMD PT Bumi Meranti, Kerugian Negara Masih Dihitung 

    29/05/2026  ❘  19:14 WIB
  • Kejagung Tahan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, Irjen Sony Sonjaya dan Mayjen Lodewyk Pusung! 

    Kejagung Tahan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, Irjen Sony Sonjaya dan Mayjen Lodewyk Pusung! 

    03/06/2026  ❘  17:47 WIB
Kempo Dojo AKRI cafe Idul adha dprd pekanbaru

    Follow Us

  • Copyright ©
    SabangMeraukeNEWS.com

    Berita

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum

    Berita

  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

    Halaman

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan