Polda Riau Gerebek 43 PKS, Fakta Harga Sawit Riau Akhirnya Terbongkar
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau dipastikan kembali stabil. Kepastian itu muncul setelah Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau melakukan pengecekan langsung ke puluhan pabrik kelapa sawit (PKS). Hasilnya, mayoritas PKS membeli TBS di atas Rp3.000 per kilogram.
Pengecekan dilakukan setelah terbit surat dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia Nomor B-134/RC.020/M/06/2026 tanggal 9 Juni 2026 tentang pemantauan harga TBS. Surat tersebut meminta pemantauan harga TBS di sejumlah daerah penghasil sawit. Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena penghasil sawit terbesar di Indonesia.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Pol Ade Kuncoro, mengatakan pemantauan dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya pada pabrik yang tercantum dalam surat kementerian. Jumlah pabrik yang diperiksa bahkan lebih banyak.
"Ada 22 PKS yang masuk dalam surat Kementerian Pertanian. Kami melakukan pengecekan terhadap seluruh PKS tersebut. Bahkan kami melakukan pengecekan terhadap 43 PKS," kata Kombes Pol Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kamis 11 Juni 2026.
Sebanyak 43 PKS diperiksa pada Rabu, 10 Juni 2026. Lokasinya tersebar di 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Tim mencatat harga pembelian TBS dari masing-masing perusahaan. Data kemudian dibandingkan untuk melihat kondisi pasar sebenarnya.
Hasilnya memperlihatkan harga sawit masih berada pada level yang cukup baik. Harga tertinggi ditemukan di Kabupaten Pelalawan. Nilainya mencapai Rp3.660 per kilogram. Angka tersebut tercatat di PT MPS yang berada di Kecamatan Langgam.
Sementara itu, harga terendah ditemukan di Kabupaten Bengkalis. Nilainya berada pada angka Rp2.720 per kilogram. Harga tersebut tercatat di PT Meskom Agrosarimas yang beroperasi di Kecamatan Bengkalis.
Meski begitu, temuan harga di bawah Rp3.000 tidak langsung dianggap sebagai anomali. Tim meminta penjelasan dari perusahaan terkait. Klarifikasi kemudian dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor kualitas buah menjadi alasan utama.
"Bengkalis sudah mengklarifikasi. Harga di bawah Rp3.000 dipengaruhi kualitas rendemen yang rendah," ujar Ade Kuncoro.
Rendemen menjadi faktor penting dalam industri sawit. Semakin tinggi kandungan minyak dalam buah sawit, semakin tinggi pula harga yang diterima petani. Sebaliknya, buah dengan kualitas rendah akan dihargai lebih rendah. Faktor tersebut menjadi dasar penetapan harga di pabrik.
Dari seluruh data yang terkumpul, rata-rata harga TBS mencapai Rp3.167 per kilogram. Angka tersebut menunjukkan kondisi pasar relatif stabil. Tidak terlihat penurunan besar seperti yang sebelumnya dikhawatirkan. Harga juga masih berada pada level yang menguntungkan bagi sebagian besar petani.
Ade Kuncoro menjelaskan hampir seluruh daerah di Riau sudah kembali berada di atas batas Rp3.000 per kilogram. Kondisi itu terlihat dari hasil pemantauan lapangan. Pergerakan harga juga menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya. Situasi tersebut dinilai cukup positif.
"Untuk daerah lain selain Bengkalis, harga TBS sudah berada di batas Rp3.000 per kilogram. Minggu ini hasil pantauan menunjukkan harga TBS di Riau sudah kembali normal," tegas Ade Kuncoro.
Bagi petani, kabar tersebut menjadi angin segar. Dalam beberapa hari terakhir muncul kekhawatiran terkait kemungkinan penurunan harga sawit. Jika harga turun terlalu jauh, pendapatan petani juga akan ikut berkurang. Kondisi itu bisa memengaruhi aktivitas ekonomi di daerah penghasil sawit.
Sawit masih menjadi komoditas utama bagi banyak keluarga di Riau. Ribuan petani menggantungkan penghasilan dari hasil panen kebun. Perubahan harga sekecil apa pun dapat berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga. Karena itu, pemantauan harga menjadi hal penting.
Langkah pengecekan terhadap PKS juga menjadi bagian dari pengawasan pasar. Pemerintah ingin memastikan harga yang diterima petani tetap sesuai kondisi pasar. Transparansi harga menjadi salah satu fokus utama. Data lapangan menjadi dasar untuk mengambil langkah berikutnya.
Di tengah fluktuasi harga komoditas global, stabilitas harga sawit menjadi kabar yang cukup melegakan. Aktivitas jual beli TBS di berbagai sentra produksi masih berjalan normal. Pabrik tetap menerima pasokan dari petani. Rantai pasok industri sawit juga masih bergerak lancar.
Hasil pemantauan terbaru memperlihatkan satu fakta penting. Kekhawatiran mengenai penurunan harga sawit secara luas belum terbukti di lapangan. Mayoritas PKS di Riau masih membeli TBS dengan harga kompetitif. Petani pun mendapat kepastian lebih jelas mengenai kondisi pasar saat ini. R-02

