Iran Kunci Selat Hormuz dan Serang Yordania, AS Langsung Buka Suara
Sejumlah kapal tangker menunggu untuk melewati Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara selama dua minggu antara AS dan Iran. Namun, Iran kembali menutup selat itu pada Kamis, 11 Juni 2026. (sumber: antarafoto.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan rudal ke fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania. Pada saat bersamaan, Iran juga menutup Selat Hormuz.
IRGC mengklaim sedikitnya 12 rudal balistik diluncurkan menuju Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania. Sasaran lain disebut mencakup pusat kendali militer Amerika Serikat. Iran menyebut serangan itu menargetkan fasilitas penting militer Washington. Hanggar pesawat tempur juga masuk dalam daftar sasaran.
Menurut IRGC, fasilitas yang menjadi target digunakan oleh pesawat F-35, F-15, dan F-16. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Amerika Serikat juga belum mengeluarkan rincian kerusakan. Situasi di lapangan masih berkembang.
Serangan tersebut langsung memicu respons Washington. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan darurat. Warga Amerika Serikat di Yordania diminta segera mencari perlindungan.
"Laporan menunjukkan adanya rudal, drone, atau roket di ruang udara Yordania," tulis Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui akun TravelGov, Kamis, 11 Juni 2026.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yordania juga meningkatkan pemantauan keamanan. Informasi terbaru terus disampaikan kepada warga. Langkah antisipasi dilakukan di sejumlah lokasi. Ketegangan meningkat dalam hitungan jam.
Di saat rudal masih menjadi perhatian, Iran mengumumkan langkah lain yang lebih besar dampaknya. Komando Khatam Al-Anbia menyatakan Selat Hormuz ditutup penuh. Semua kapal tidak boleh melintas. "Mulai saat ini Selat Hormuz ditutup untuk semua kapal," bunyi pernyataan Komando Khatam Al-Anbia, Kamis, 11 Juni 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur energi paling vital dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melintas di kawasan itu. Jalur sempit tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Setiap gangguan langsung memengaruhi pasar energi internasional.
Iran menyatakan penutupan dilakukan akibat memburuknya situasi keamanan kawasan. Teheran menilai serangan terbaru Amerika Serikat menjadi pemicu utama. Ketegangan terus meningkat sejak beberapa pekan terakhir. Jalur diplomasi juga belum menghasilkan kesepakatan baru.
Ancaman Iran tidak berhenti pada pengumuman penutupan. IRGC mengklaim telah menyerang dua kapal yang mencoba melintas. Kedua kapal disebut bergerak tanpa izin. Peristiwa itu terjadi setelah kebijakan penutupan diumumkan.
"Dua kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz secara ilegal telah dihantam," kata IRGC melalui Tasnim News Agency, Kamis, 11 Juni 2026.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras. Semua kapal diminta tetap berada di lokasi sandar. Aktivitas pelayaran menuju Selat Hormuz dianggap berisiko tinggi. Setiap pendekatan disebut dapat dianggap sebagai kerja sama dengan musuh.
Di sisi lain, Amerika Serikat membantah klaim penutupan tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan aktivitas pelayaran masih berlangsung normal. Kapal komersial tetap keluar masuk kawasan. Jalur laut disebut belum sepenuhnya tertutup. "Kapal-kapal komersial terus melintas masuk dan keluar dari Selat Hormuz malam ini," kata CENTCOM.
Perbedaan klaim tersebut membuat situasi semakin membingungkan. Investor energi mulai mencermati perkembangan terbaru. Perusahaan pelayaran meningkatkan kewaspadaan. Harga minyak dunia ikut bergerak naik.
Ketegangan juga diperkuat oleh serangan baru Amerika Serikat ke Iran. Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan operasi pertahanan tambahan dimulai pada Rabu, 10 Juni 2026. Sejumlah target di wilayah selatan Iran menjadi sasaran. Operasi dilakukan setelah Washington menuduh Iran melakukan agresi berkelanjutan.
Media Iran melaporkan ledakan terjadi di Qeshm, Kargan, dan Sirik. Ketiga wilayah tersebut berada dekat Selat Hormuz. Kawasan itu sebelumnya juga menjadi lokasi operasi militer. Situasi keamanan semakin rapuh.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan bahwa serangan dapat berlanjut. Ia menuduh Iran mengulur proses perundingan damai. Pernyataan tersebut memperlihatkan hubungan kedua negara masih jauh dari titik temu. Jalur negosiasi kembali menghadapi hambatan besar. "Kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Iran menolak tekanan tersebut. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan kesepakatan tidak dapat dicapai melalui ancaman. Teheran tetap mempertahankan sikap keras. Ketegangan diplomatik terus meningkat.
Konflik juga mulai berdampak ke kawasan lain. Bahrain mengaku mencegat sejumlah serangan udara Iran. Yordania menyatakan berhasil menjatuhkan lima rudal. Kuwait meningkatkan kesiagaan pertahanan udara.
Di Lebanon, situasi ikut memanas. Bentrokan antara Israel dan Hizbullah terus berlanjut. Iran menegaskan penyelesaian konflik harus mencakup gencatan senjata di Lebanon. Kawasan Timur Tengah kini menghadapi tekanan dari berbagai arah. R-02

