Listrik Padam, Air Ikut Kabur! Tujuh Kecamatan Medan dan Deli Serdang Mendadak Lumpuh
Warga di Jalan Amaliun, Kota Medan saat mengantri air bersih dari truk tangki pengangkut air, Rabu (9/6/2026).(sumber: Kompas.com)
SUMUT, SabangMerauke News - Warga tujuh kecamatan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang masuk pusaran krisis air bersih setelah pemadaman listrik bergilir menghantam sistem distribusi PDAM Tirtanadi. Mesin rusak, pipa pecah, produksi air berhenti. Di tengah cuaca panas dan aktivitas harian yang terus berjalan, ribuan keluarga terpaksa berburu air untuk kebutuhan paling dasar.
Krisis itu terasa sejak Selasa malam, 9 Juni 2026. Air perlahan tidak lagi mengalir ke keran rumah warga. Sejumlah lingkungan langsung kesulitan memenuhi kebutuhan harian. Kondisi bertambah berat saat listrik juga ikut padam secara bergilir.
Di Jalan Utama, Medan, Fadli (40 tahun) mengaku air berhenti mengalir sejak Selasa, 9 Juni 2026, pukul 19.30 WIB. Situasi menjadi semakin rumit ketika listrik di rumahnya ikut padam beberapa jam kemudian. Aktivitas rumah tangga langsung terganggu. "Semua mati. Tidak ada yang beres," kata Fadli.
Fadli mengaku kesal. Ia mencoba menghubungi layanan pengaduan PDAM. Telepon tidak tersambung. Informasi distribusi air tangki juga sulit diperoleh. Kebutuhan mandi dan sanitasi menjadi persoalan terbesar.
Keluhan serupa datang dari Alamsyah, 30 tahun, warga Jalan Sisingamangaraja. Air di rumahnya berhenti mengalir sejak Selasa malam. Beruntung, ia sempat menyimpan cadangan air setelah membaca informasi gangguan distribusi.
Stok tersebut tidak bertahan lama. Kebutuhan keluarga terus berjalan. Ia akhirnya membeli banyak air galon untuk bertahan selama masa perbaikan. "Tolong cepat diperbaiki. Sudah mati lampu, air juga hilang," ujar Alamsyah.
Kondisi itu memperlihatkan dampak berantai dari gangguan infrastruktur yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Masalah tidak berhenti pada listrik. Gangguan merembet ke jaringan distribusi air bersih.
Direktur Utama PDAM Tirtanadi, Ardian Surbakti, menjelaskan bahwa kerusakan terjadi pada sejumlah mesin operasional dan jaringan perpipaan. Gangguan muncul setelah pemadaman listrik berulang dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Ardian, komponen mesin mengalami tekanan akibat proses hidup dan mati yang berlangsung terus-menerus. Situasi tersebut memicu kerusakan pada sejumlah fasilitas utama pengolahan air.
"Sering terjadi pemadaman berulang. Banyak komponen mesin terganggu dan rusak," kata Ardian Surbakti, Direktur Utama PDAM Tirtanadi, saat meninjau lokasi kerusakan di Delitua, Rabu, 10 Juni 2026.
Kerusakan terparah ditemukan di Kecamatan Delitua, Kabupaten Deli Serdang. Salah satu pipa utama berdiameter 1.000 milimeter mengalami kerusakan serius. Tim teknis terpaksa menghentikan produksi air sementara waktu agar proses perbaikan berjalan maksimal.
Ardian menjelaskan bahwa gangguan listrik tidak hanya berdampak pada mesin. Tekanan air dalam jaringan pipa juga berubah drastis saat listrik mati dan kembali menyala. Perubahan tekanan tersebut memicu turbulensi yang berujung pada pecahnya sejumlah pipa.
Akibatnya, distribusi air ke pelanggan terganggu secara luas. Produksi tidak bisa berjalan normal. Penyaluran air juga terhambat karena banyak titik jaringan harus diperbaiki secara bersamaan. "Kami fokus memperbaiki seluruh kerusakan. Banyak pipa pecah," ujar Ardian.
PDAM memperkirakan proses normalisasi membutuhkan waktu beberapa hari. Tim teknis bekerja di sejumlah lokasi secara simultan. Targetnya, distribusi air kembali stabil setelah seluruh titik kerusakan selesai diperbaiki.
Sambil menunggu proses tersebut, perusahaan mengerahkan armada mobil tangki ke wilayah terdampak. Distribusi air darurat dilakukan sejak Selasa, 9 Juni 2026.
Mobil tangki ditempatkan di tujuh kecamatan yang mengalami gangguan paling berat. Di Kota Medan, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Medan Amplas, Medan Kota, Medan Area, Medan Perjuangan, dan Medan Maimun.
Sementara di Kabupaten Deli Serdang, gangguan terjadi di Kecamatan Delitua dan Percut Sei Tuan. Distribusi dilakukan secara bergilir mengikuti kebutuhan lapangan.
Di tengah penjelasan PDAM, muncul pandangan berbeda dari PLN Sumatera Utara. Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sumatera Utara, Darma Saputra, mengaku belum memahami hubungan langsung antara pemadaman listrik dan kerusakan mesin PDAM.
Menurut Darma, saat listrik padam maka mesin otomatis berhenti beroperasi. Ia mengaku belum bisa menarik kesimpulan teknis terkait kerusakan yang dijelaskan PDAM. "Saya belum memahami korelasi kerusakan mesin tersebut," kata Darma.
Darma menjelaskan kerusakan peralatan elektronik biasanya lebih sering dipicu gangguan tegangan yang naik turun. Sementara kondisi saat ini berupa pemadaman listrik bergilir.
Ia juga mengaku tidak memiliki keahlian teknis terkait sistem perpipaan dan distribusi air. Karena itu, PLN belum memberikan kesimpulan lebih jauh mengenai penyebab kerusakan jaringan PDAM.
Perbedaan penjelasan tersebut menambah pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak warga ingin mengetahui penyebab pasti krisis yang membuat air dan listrik menghilang dalam waktu bersamaan.
Rantai masalah ini sebenarnya bermula sejak Kamis malam, 4 Juni 2026. Cuaca ekstrem disertai hujan lebat dan angin kencang menghantam sejumlah wilayah Sumatera Utara.
Dampaknya cukup besar. Sebanyak 12 tower transmisi PLN mengalami kerusakan. Tiga tower dilaporkan roboh. Beberapa struktur lainnya mengalami pembengkokan pada jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi atau SUTET 275 kV Galang-Simangkuk.
Kerusakan itu memaksa PLN menerapkan pemadaman bergilir di berbagai daerah. Durasi pemadaman berkisar antara tiga hingga empat jam setiap hari.
Lima wilayah terdampak meliputi Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Serdang Bedagai.
PLN saat ini masih mempercepat perbaikan jaringan transmisi. Target penyelesaian pekerjaan diperkirakan selesai pada 14 Juni 2026.
Sementara itu, warga berharap dua krisis ini segera berakhir. Air bersih dan listrik menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas harian. Di banyak rumah, cadangan air mulai menipis. Sebagian warga membeli air galon dalam jumlah besar. Sebagian lain menunggu kedatangan mobil tangki.
Keran yang kering menjadi simbol gangguan besar di balik jaringan infrastruktur. Dari tower roboh di jalur transmisi, masalah menjalar ke mesin pengolahan air, lalu berakhir di dapur dan kamar mandi warga.
Bagi masyarakat Medan dan Deli Serdang, krisis ini bukan sekadar soal listrik padam. Krisis ini berubah menjadi ujian berat ketika lampu mati dan air ikut menghilang dalam waktu bersamaan. R-02

