Rupiah Baru Bangun Sehari, Rudal Iran Langsung Bikin Dolar AS Perkasa Lagi
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah belum sempat menikmati napas panjang. Setelah dua hari berturut-turut menunjukkan kebangkitan, mata uang Indonesia kembali tersandung pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026. Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran membuat pasar global gelisah. Harga minyak melonjak tajam dan dolar AS kembali menjadi tempat berlindung investor dunia.
Perdagangan offshore menunjukkan rupiah sempat dibuka menguat tipis. Posisinya berada di level Rp17.930 per dolar AS. Penguatan itu hanya bertahan sesaat. Pada pukul 07.20 WIB, rupiah kembali melemah ke posisi Rp17.955 per dolar AS.
Perubahan arah tersebut terjadi ketika pasar menerima kabar memanasnya konflik Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam eskalasi yang memicu kekhawatiran baru. Investor langsung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Dolar AS menjadi tujuan utama.
Dampaknya langsung terasa pada pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI melonjak hingga empat persen. Harganya sempat menembus US$93 per barel sebelum kembali turun tipis. Kenaikan tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global.
Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, menilai beberapa hari ke depan menjadi periode yang sangat menentukan. Pasar sedang menunggu arah konflik berikutnya. Jika jalur diplomasi gagal berjalan, tekanan terhadap pasar keuangan global bisa semakin besar.
"Beberapa hari ke depan akan menjadi sangat penting untuk menentukan apakah diplomasi dapat kembali mengambil peran atau konflik ini justru memasuki siklus eskalasi yang lebih berkepanjangan," kata Jorge Leon.
Menurut Jorge Leon, volatilitas harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi. Pasar membutuhkan kepastian sebelum kembali tenang. Selama ketidakpastian masih mendominasi, investor akan terus bergerak hati-hati.
Tekanan juga terlihat pada mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan memimpin pelemahan kawasan dengan koreksi sekitar 0,16 persen. Ringgit Malaysia turun sekitar 0,09 persen. Dolar Singapura ikut melemah sekitar 0,05 persen.
Sebaliknya, yen Jepang dan yuan offshore masih mampu bertahan di zona hijau. Penguatannya sangat terbatas. Kondisi itu menunjukkan sebagian besar investor sedang mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Di Korea Selatan, tekanan pasar semakin terasa karena saham teknologi mulai kehilangan tenaga. Reli panjang perusahaan semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mulai memicu aksi ambil untung. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan kenaikan harga saham sektor teknologi.
Kondisi tersebut diperparah oleh ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat. Banyak pelaku pasar meyakini Federal Reserve belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Akibatnya, arus dana kembali bergerak menuju aset berbasis dolar AS.
Indeks saham negara berkembang MSCI turun 2,5 persen pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Koreksi bulanan bahkan telah mencapai 4,7 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan global belum mereda.
Bagi Indonesia, situasi ini datang ketika rupiah baru saja menemukan momentum kebangkitan. Sehari sebelumnya, mata uang Garuda berhasil mencatat penguatan signifikan setelah Bank Indonesia mengambil langkah yang mengejutkan pasar.
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut langsung mendapat respons positif. Investor menilai bank sentral menunjukkan keseriusan menjaga stabilitas nilai tukar.
Rupiah yang sebelumnya sempat tertekan di atas Rp18.000 per dolar AS berhasil kembali menguat. Pasar obligasi juga mencatat perbaikan. Permintaan terhadap Surat Utang Negara meningkat dan imbal hasil mulai turun.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan strategi yang sedang dijalankan bersama pemerintah. Fokus utamanya adalah menjaga aliran modal asing tetap masuk ke pasar keuangan domestik. "Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk," kata Perry Warjiyo.
Menurut Perry Warjiyo, kenaikan suku bunga global membuat sebagian dana asing keluar dari pasar Indonesia. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan daya tarik investasi domestik.
Selain itu, Bank Indonesia dan pemerintah juga menjaga kecukupan likuiditas perbankan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasar uang tetap stabil di tengah gejolak global. "Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan," ujar Perry Warjiyo.
Meski langkah tersebut mendapat respons positif, tekanan eksternal masih menjadi tantangan besar. Konflik Timur Tengah, arah kebijakan Federal Reserve, serta volatilitas pasar saham global masih menjadi faktor utama yang menggerakkan rupiah.
Banyak analis menilai penguatan rupiah dalam dua hari terakhir belum cukup menjadi tanda berakhirnya tekanan. Perbaikan yang terjadi lebih mencerminkan pemulihan sentimen jangka pendek setelah langkah agresif Bank Indonesia.
Pasar kini menunggu perkembangan berikutnya. Setiap kabar dari Washington, Teheran, maupun Federal Reserve dapat mengubah arah pergerakan rupiah dalam hitungan jam. Situasi tersebut membuat investor memilih lebih berhati-hati.
Secara teknikal, peluang penguatan masih terbuka. Rupiah memiliki kesempatan untuk bergerak menuju kisaran Rp17.910 per dolar AS. Jika momentum berlanjut, target berikutnya berada di area Rp17.870 per dolar AS.
Skenario optimistis bahkan membuka peluang menuju Rp17.800 per dolar AS dalam jangka menengah. Sebaliknya, tekanan akan kembali membesar jika rupiah jatuh melewati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Saat ini rupiah berada di tengah pertarungan dua kekuatan besar. Dari dalam negeri, Bank Indonesia berusaha menjaga kepercayaan pasar. Dari luar negeri, konflik geopolitik dan dolar AS terus memberi tekanan. Pertarungan itu belum selesai. Pekan ini menjadi salah satu ujian terberat rupiah sepanjang 2026. R-02

