Dari Jurang ke Langit, IHSG Terbang 404 Poin dan Bikin Investor Tercengang
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Setelah berminggu-minggu dihantam tekanan, pasar saham Indonesia mendadak bangkit. Selasa, 9 Juni 2026, menjadi hari yang sulit dilupakan pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melesat tajam. Kenaikannya mencapai 7,57 persen. Lonjakan itu setara 404,51 poin.
Saat lonceng penutupan berbunyi, IHSG bertengger di level 5.746,65. Bursa yang beberapa hari lalu dipenuhi kecemasan, berubah menjadi arena pesta besar. Mayoritas saham menghijau. Investor kembali tersenyum.
Data perdagangan menunjukkan 678 saham naik. Sebanyak 89 saham turun. Lalu 48 saham bergerak datar. Nilai transaksi mencapai Rp27,77 triliun. Aktivitas perdagangan juga sangat ramai. Lebih dari 44 miliar saham berpindah tangan sepanjang hari.
Kenaikan ini bukan sekadar angka. Pasar menangkap sinyal kuat. Ada kombinasi sentimen politik, ekonomi, dan psikologis. Semua bertemu pada waktu yang sama.
Salah satu pemicunya datang dari Senayan. Pada Selasa siang, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menggelar pertemuan penting. Pertemuan berlangsung di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Jakarta.
Hadir dalam forum itu sejumlah tokoh sektor keuangan. Ada Ketua Himbara sekaligus Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setiawan. Ada Ketua Perbanas sekaligus Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga hadir. Begitu pula COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Pertemuan itu membahas kondisi perbankan nasional. Pasar langsung memberi respons positif. Investor melihat ada perhatian serius terhadap kondisi pasar modal. "Hasil diskusi menunjukkan perkembangan yang sangat bagus," kata Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, Selasa, 9 Juni 2026.
Kalimat singkat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, pasar menafsirkan lebih jauh. Investor menangkap sinyal dukungan terhadap stabilitas sektor keuangan nasional.
Isu buyback saham BUMN juga ikut berembus kencang. Wacana tersebut menjadi bahan pembicaraan utama di kalangan investor. Banyak pelaku pasar menilai langkah itu dapat membantu mengangkat kepercayaan investor.
Arjun Ajnawi, Analis Riset Infovesta Kapital Advisori, menilai sentimen buyback menjadi bahan bakar utama reli pasar. "Rencana buyback saham anggota Himbara menjadi sentimen utama pasar hari ini," ujar Arjun Ajnawi.
Menurut Arjun, koordinasi lintas lembaga memberi pesan penting. Pasar melihat adanya keseriusan menjaga stabilitas saham-saham berkapitalisasi besar. Di saat yang sama, Bank Indonesia juga membuat kejutan. Bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. BI Rate kini berada pada level 5,50 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan alasan kebijakan tersebut. Fokus utamanya menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. "Kenaikan ini untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali," kata Perry Warjiyo.
Pasar menyambut kebijakan itu dengan cukup positif. Investor melihat Bank Indonesia tidak tinggal diam menghadapi tekanan global. Keberanian mengambil keputusan memberi rasa percaya diri baru.
Rupiah memang masih berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Meski begitu, mata uang Garuda mulai menunjukkan penguatan. Kondisi itu sedikit mengurangi kekhawatiran investor.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebut lonjakan IHSG terjadi setelah pasar berada pada kondisi jenuh jual. "Apakah ini awal pemulihan atau sekadar jeda sementara, itu masih perlu dibuktikan," ujar Liza Camelia Suryanata.
Menurut Liza, IHSG sebelumnya menyentuh area support jangka panjang. Area tersebut pernah menjadi titik penting saat krisis global 2008. Level itu juga menjadi pijakan saat pandemi 2020. Ketika indeks menyentuh zona tersebut, banyak investor mulai melihat peluang. Perlahan aksi beli bermunculan. Setelah sentimen positif datang, lonjakan besar pun terjadi.
Penguatan IHSG juga didukung saham-saham perbankan. Kelompok saham ini menjadi lokomotif utama penggerak indeks.Saham BRI atau BBRI menjadi penyumbang terbesar. Kontribusinya mencapai lebih dari 31 poin indeks. Disusul Bank Mandiri atau BMRI dengan hampir 30 poin.
Saham Telkom Indonesia atau TLKM ikut menyumbang lebih dari 28 poin. Lalu Bank Central Asia atau BBCA memberikan tambahan sekitar 28 poin. Saham BNI atau BBNI juga masuk daftar penggerak utama. Kombinasi bank-bank besar itu membuat indeks melesat tanpa hambatan berarti.
Di luar sektor perbankan, saham energi juga berpesta. Saham barang baku ikut menguat tajam. Sektor industri tidak mau ketinggalan. Sektor utilitas bahkan menjadi juara. Kenaikannya mencapai lebih dari 13 persen. Barang baku naik sekitar 10 persen. Sektor energi melonjak lebih dari 9 persen.
Beberapa saham mencuri perhatian. CUAN melesat lebih dari 21 persen. SCMA melonjak lebih dari 16 persen. AMRT naik lebih dari 14 persen. ANTM ikut terbang tinggi. INKP, BUMI, WIFI, dan DEWA juga bergerak agresif. Hampir semua sektor menikmati pesta hijau.
Meski demikian, tidak semua saham ikut bergembira. Di tengah euforia pasar, beberapa saham justru tersungkur. GRIA menjadi salah satu yang paling tertekan. Saham itu turun hampir 15 persen. Investor diduga melakukan aksi ambil untung.
CTBN juga terkoreksi tajam. Pergerakan itu berkaitan dengan periode ex dividen. MPMX mengalami kondisi serupa. DPUM kembali berada dalam sorotan investor. Sentimen lama masih membayangi pergerakan saham tersebut.
Di balik euforia pasar, analis mengingatkan investor tetap berhati-hati. Reli besar dalam satu hari sering diikuti aksi ambil untung. Liza menilai kenaikan saat ini lebih tepat disebut relief rally. Artinya, pasar sedang bernapas setelah tekanan panjang. Belum tentu menjadi awal tren naik jangka panjang.
Rupiah masih menghadapi tantangan. Arus dana asing juga belum sepenuhnya kembali. Risiko global tetap membayangi. "Dengan kondisi sekarang, akumulasi bertahap lebih masuk akal," tutur Liza.
Meski begitu, pasar setidaknya mendapat alasan untuk tersenyum. Setelah berminggu-minggu tertekan, investor akhirnya melihat cahaya di ujung lorong. Selasa, 9 Juni 2026, menjadi hari ketika IHSG bangkit dari tekanan. Bursa yang sebelumnya muram berubah penuh sorak. R-02

