Delapan Bulan Terkubur, Kasus Pembakaran Tiga Santri Akhirnya Meledak ke Publik
Ilustrasi dan infografis pembakaran tiga santri di Pondok Pesantren, satu santri tewas. Foto: SM News/Created by AI
NTB, SabangMerauke News – Kasus dugaan pembakaran tiga santri di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi sorotan nasional. Video kondisi korban yang viral pada Juni 2026 memicu gelombang perhatian publik.
Tragedi ini terjadi pada November 2025. Satu santri meninggal dunia setelah berjuang selama dua bulan menjalani perawatan. Peristiwa tersebut menyisakan banyak pertanyaan. Delapan bulan berlalu tanpa perhatian luas.
Tiba-tiba rekaman kondisi korban menyebar cepat di media sosial. Dalam hitungan jam, kasus yang lama terpendam kembali muncul ke permukaan. Publik langsung bereaksi keras. Banyak yang mempertanyakan perkembangan penyelidikan. Sebagian menyoroti lambannya pengungkapan kasus. Sebagian lagi meminta keadilan bagi korban.
Hingga Selasa, 9 Juni 2026, polisi masih melakukan pendalaman. Belum ada tersangka yang diumumkan. Proses penyelidikan masih berjalan. Aparat masih mengumpulkan alat bukti.
Kasi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi, mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Pemeriksaan terus dilakukan terhadap berbagai informasi pendukung. "Penyelidikan masih berjalan dan fokus pada alat bukti serta saksi," ujar Lalu Brata Kusnadi.
Kasus ini memiliki kompleksitas tersendiri. Korban masih berusia anak-anak. Sosok yang diduga terlibat juga berstatus anak. Penanganan perkara akhirnya diserahkan kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Laporan hukum ternyata baru masuk pada Kamis, 4 Juni 2026. Padahal peristiwa terjadi pada November 2025. Rentang waktu yang panjang itu memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Polisi kini berupaya menyusun kembali rangkaian kejadian secara utuh.
Cerita bermula dari lingkungan pesantren. Salah satu korban berinisial SAH (13 tahun) mengaku pernah melaporkan seorang senior. Laporan tersebut berkaitan dengan persoalan internal di pesantren. Senior itu kemudian dipanggil pimpinan pondok.
Pemanggilan itu diduga memicu kemarahan. Korban mengaku sempat menerima ancaman. Situasi menjadi tegang setelah kejadian tersebut. Beberapa hari kemudian, insiden yang mengubah hidup tiga santri pun terjadi.
Menurut keterangan korban, sekitar tiga hari setelah ancaman muncul, dirinya dipanggil menuju sebuah ruangan kosong. Dua santri lain ikut datang. Ruangan itu sudah lama tidak digunakan. Tidak ada aktivitas belajar di tempat tersebut.
Korban mengaku suasana terasa janggal. Ruangan terlihat sepi. Tidak banyak orang berada di sekitar lokasi. Ketika mereka masuk, mereka tidak menyadari bahaya yang menunggu.
Di titik inilah tragedi mulai terjadi. Korban menduga seseorang telah membawa bensin ke lokasi. Cairan mudah terbakar itu disebut disiramkan ke dalam ruangan. Api kemudian menyala dan membesar.
Ruangan dipenuhi material mudah terbakar. Ada kayu. Ada tumpukan kertas. Ada berbagai benda yang mempercepat penyebaran api. Dalam waktu singkat, kobaran membesar.
Korban mengaku sulit melarikan diri. Pintu ruangan diduga terkunci dari luar. Kepanikan terjadi. Tiga anak berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang terus membesar.
Jeritan terdengar dari dalam ruangan. Api terus bergerak cepat. Upaya penyelamatan akhirnya dilakukan. Ketiga korban berhasil dievakuasi. Kondisi mereka sangat memprihatinkan.
Luka bakar berat dialami para korban. Tubuh mereka mengalami kerusakan serius. Perawatan intensif segera dilakukan. Perjuangan panjang dimulai dari ruang rumah sakit.
Salah satu korban berinisial SS (13 tahun) mengalami kondisi paling parah. Selama dua bulan, tim medis berusaha menyelamatkannya. Berbagai tindakan dilakukan. Harapan sempat muncul.
Namun, takdir berkata lain. SS akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan panjang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Keluarga korban masih menanti kejelasan hingga hari ini.
Dua korban lainnya berhasil bertahan hidup. Luka fisik masih membekas. Trauma psikologis juga menjadi tantangan besar. Perjalanan pemulihan mereka belum selesai.
Kasus ini memasuki babak baru setelah keluarga korban membuat laporan polisi. Keputusan tersebut diambil demi memperoleh kepastian hukum. Keluarga ingin mengetahui penyebab kejadian secara jelas. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab.
Nurul Hidayah, bibi salah satu korban, menjadi sosok yang aktif mendorong pengungkapan kasus. Keluarga merasa perlu mencari kejelasan. Perjalanan panjang akhirnya membawa kasus ini ke ranah hukum.
Laporan diterima Polres Lombok Tengah pada Kamis, 4 Juni 2026. Sejak saat itu, penyelidikan mulai bergerak lebih intensif. Berbagai saksi dipanggil. Bukti-bukti mulai dikumpulkan.
Perhatian publik semakin besar setelah video korban viral. Rekaman tersebut menyebar luas di berbagai platform. Banyak warga baru mengetahui tragedi itu setelah melihat video tersebut. Gelombang simpati pun bermunculan.
Ada beberapa alasan mengapa kasus ini menjadi perhatian nasional. Pertama, peristiwa terjadi cukup lama sebelum viral. Kedua, korban dan terduga pelaku sama-sama anak. Ketiga, dugaan motif mengarah pada aksi balas dendam.
Jika dugaan tersebut terbukti, kasus ini memiliki dampak besar. Bukan hanya soal kekerasan terhadap anak. Peristiwa ini juga menyangkut sistem perlindungan di lingkungan pendidikan berasrama.
Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat pendidikan karakter. Orang tua menitipkan anak dengan harapan memperoleh ilmu dan pembinaan. Karena itu, setiap dugaan kekerasan selalu menarik perhatian luas.
Kini publik menunggu hasil penyelidikan. Pertanyaan terbesar masih menggantung. Siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini? Kapan tersangka akan ditetapkan? R-02

