Ambulans Pembawa Harapan Jadi Kuburan Berjalan, Tiga Tewas di Tol Pekanbaru-Dumai
Petugas polisi melakukan olah tempat kejadian kecelakaan sebuah ambulans yang menewaskan 3 orang di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, Minggu malam, 7 Juni 2026. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News - Kecelakaan maut kembali terjadi di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai. Sebuah ambulans bertabrakan dengan truk trailer. Tiga penumpang meninggal dunia di lokasi. Insiden terjadi Minggu, 7 Juni 2026 malam.
Peristiwa nahas itu berlangsung sekitar pukul 23.45 WIB di KM 25/800 Jalur B. Ruas jalan tersebut termasuk wilayah Tol Pekanbaru-Dumai. Jalur malam itu mendadak berubah menjadi lokasi duka.
Benturan keras melibatkan ambulans bernomor BM 7113 P. Kendaraan itu bertabrakan dengan truk trailer dengan nomor polisi B 9694 UIZ. Kedua kendaraan mengalami dampak serius.
Informasi kecelakaan segera diterima petugas. Satuan Patroli Jalan Raya bergerak cepat. Tim langsung menuju lokasi kejadian. Penanganan darurat dilakukan malam itu juga.
Direktorat Lalu Lintas Polda Riau mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai kecelakaan berat. Korban jiwa menjadi alasan utama. Kerusakan kendaraan juga tergolong parah. Situasi di lokasi cukup memprihatinkan.
Ketika petugas tiba, suasana masih kacau. Potongan kendaraan berserakan di jalan. Ambulans terlihat dalam kondisi rusak berat. Proses evakuasi dilakukan dengan cepat.
Kasat PJR Ditlantas Polda Riau, AKBP Eko Baskara, mengungkap fakta awal. Tim langsung melakukan olah tempat kejadian. Sejumlah saksi ikut dimintai keterangan. Bukti-bukti dikumpulkan malam itu.
"Saat petugas tiba di lokasi, sopir trailer tidak ditemukan," kata AKBP Eko Baskara. "Statusnya sempat dalam penyelidikan karena melarikan diri," lanjutnya.
Fakta tersebut menjadi perhatian penyidik. Keberadaan pengemudi trailer masih dicari. Polisi melakukan penelusuran lebih lanjut. Upaya pengejaran terus berjalan.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan dugaan penyebab kecelakaan. Ambulans diduga mengalami kehilangan kendali. Situasi itu dikenal sebagai off control. Dugaan tersebut masih terus didalami.
Ambulans dikemudikan Doni Afrizal. Pria berusia 39 tahun itu berasal dari Bangko. Alamatnya berada di Jalan Sekip. Ia mengemudikan kendaraan menuju Pekanbaru.
Perjalanan awal berlangsung normal. Ambulans bergerak dari arah Bathin Solapan. Kendaraan melaju menuju Kota Pekanbaru. Kondisi lalu lintas relatif sepi.
Masalah muncul saat memasuki KM 25/800 Jalur B. Dalam situasi tertentu, ambulans bergerak mendekati trailer. Jarak kedua kendaraan semakin dekat. Benturan pun tidak terhindarkan.
"Kendaraan ambulans menghantam sisi kiri trailer," ujar AKBP Eko Baskara. "Benturan terjadi saat ambulans melaju di belakangnya," lanjutnya.
Benturan pertama memicu kepanikan. Sopir ambulans berusaha menghindari dampak lebih besar. Refleks spontan dilakukan dalam hitungan detik. Setir dibelokkan ke arah kanan.
Langkah tersebut justru membawa masalah baru. Ambulans kehilangan keseimbangan. Kendaraan tidak lagi stabil. Beberapa saat kemudian ambulans terbalik.
Di sinilah tragedi besar terjadi. Penumpang di dalam ambulans menerima benturan keras. Ruang kabin mengalami kerusakan serius. Kesempatan menyelamatkan diri sangat terbatas.
Tiga orang dinyatakan meninggal dunia. Seluruh korban mengembuskan napas terakhir di lokasi. Petugas medis memastikan kondisi mereka. Duka langsung menyelimuti keluarga korban.
Korban pertama bernama Ade Misra. Perempuan berusia 38 tahun itu berstatus ibu rumah tangga. Ia berasal dari Jalan Siak Bagan Api. Namanya masuk daftar korban meninggal.
Korban kedua bernama Kasih Afrianti. Usianya juga 38 tahun. Ia tinggal di kawasan yang sama. Nasib tragis menimpanya malam itu.
Korban ketiga adalah Winda Handasari. Perempuan berusia 37 tahun tersebut berprofesi perawat. Ia ikut dalam rombongan ambulans. Kehadirannya semula untuk membantu perjalanan medis.
Kematian Winda menyisakan luka mendalam. Rekan-rekan tenaga kesehatan kehilangan sosok perawat. Profesi yang biasa menyelamatkan nyawa itu justru menjadi korban. Ironi tersebut terasa menyakitkan.
Selain korban meninggal, ada penumpang lain yang selamat. Korban mengalami luka ringan. Petugas segera memberikan pertolongan. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah sakit.
Di tengah proses evakuasi, petugas juga mengamankan lokasi. Arus kendaraan diatur kembali. Pengguna jalan diminta berhati-hati. Keselamatan menjadi prioritas utama.
Kerugian materi juga tidak sedikit. Ambulans mengalami kerusakan berat. Bagian depan kendaraan ringsek. Nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp50 juta.
Angka tersebut hanya hitungan materi. Kerugian terbesar tetap kehilangan nyawa manusia. Tiga keluarga harus menerima kabar buruk. Senin pagi mereka menyambut duka.
Petugas bekerja hingga dini hari. Barang bukti diamankan. Dokumentasi lokasi dilakukan. Seluruh temuan dicatat untuk penyidikan.
Kasus kemudian dilimpahkan ke Unit Laka Lantas. Penanganan berada di bawah Polsek Kandis. Polres Siak ikut melakukan pendalaman. Proses hukum terus berjalan.
Polisi masih fokus mencari pengemudi trailer. Identitas pengemudi sudah dikantongi. Beberapa langkah penyelidikan dilakukan. Keberadaannya diharapkan segera terungkap.
"Kami masih melakukan pengejaran," kata AKBP Eko Baskara. "Pengemudi trailer sedang dicari petugas," lanjutnya.
Selain penyelidikan, polisi mengingatkan pengguna jalan. Konsentrasi saat berkendara menjadi faktor penting. Kecepatan kendaraan juga harus terkendali. Risiko kecelakaan bisa ditekan.
Jalan tol sering dianggap aman. Jalur lurus membuat pengemudi merasa nyaman. Situasi tersebut kadang memunculkan kelengahan. Bahaya bisa datang tanpa peringatan.
Tragedi di Tol Permai menjadi pengingat keras. Satu detik kehilangan fokus dapat berakibat fatal. Satu keputusan refleks mampu mengubah segalanya. Nyawa manusia menjadi taruhannya.
Minggu malam itu seharusnya menjadi perjalanan biasa. Ambulans melintas membawa harapan. Tujuan perjalanan sudah di depan mata. Takdir berkata lain.
Kini, tiga nama tinggal menjadi kenangan. Ade Misra tak lagi pulang. Kasih Afrianti tak lagi menyapa keluarga. Winda Handasari tak lagi mengenakan seragam perawatnya.
Di KM 25/800 Tol Permai, jejak tragedi masih tersisa. Bekas benturan perlahan dibersihkan. Kendaraan telah dievakuasi. Cerita pilu itu tetap membekas.
Publik menunggu hasil penyelidikan lengkap. Banyak pertanyaan masih menggantung. Bagaimana persisnya ambulans kehilangan kendali? Mengapa sopir trailer memilih kabur?
Jawaban atas pertanyaan itu masih dicari. Polisi terus bekerja mengumpulkan fakta. Keluarga korban menanti kepastian. Sementara duka masih menyelimuti perjalanan yang berakhir tragis itu. R-02

