IHSG Nyungsep Parah! Senin Berdarah Hajar Investor Sampai Dompet Menangis
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: antarafoto.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas sejak bel pembukaan pada Senin, 8 Juni 2026. Data RTI Business mencatat IHSG dibuka melemah di 5.486,311. Pukul 09.20 WIB indeks masih merah di 5.445,79. Total transaksi investor tembus Rp4,17 triliun pagi itu. Sebanyak 588 saham melemah dan 61 saham menguat.
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, menyebut koreksi IHSG tembus 4% pada awal sesi. “Pelemahan ini sejalan dengan tekanan bursa global dan Asia,” ungkap Didit kepada Investor Daily, Senin, 8 Juni 2026. Data tenaga kerja AS jauh lebih kuat memicu ketakutan. Pasar khawatir The Fed tahan suku bunga tinggi lama.
M Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, minta investor tetap selektif pilih saham. “Fokus pada saham fundamental solid, valuasi murah, serta potensi rebound,” ujar Nafan. Indikator RSI sudah menunjukkan kondisi extremely oversold hari ini. Stochastic K%D dan RSI masih memberi sinyal negatif kuat. Volume perdagangan turun, ikut memperberat tekanan jual masif.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, sarankan wait and see sebelum average down. “Tema utama pasar sekarang adalah risiko kenaikan suku bunga The Fed,” kata Liza dalam kajiannya. Nonfarm Payrolls AS Mei 2026 tambah 172.000 pekerjaan. Angka itu jauh di atas konsensus, hanya 85.000.
Tekanan domestik datang dari nilai tukar rupiah yang lunglai. Senin, 8 Juni 2026, rupiah tercatat di Rp18.165 per dolar AS. Pelemahan ini jadi pemberat tambahan bagi sentimen investor lokal. Indeks dolar AS terbang ke 100,069 tertinggi sejak Maret. Investor global kembali memburu dolar dan meninggalkan emerging market. Rupiah terancam terus tertekan sepanjang pekan ini berjalan.
Geopolitik Timur Tengah ikut membakar bensin ke api pasar. Iran meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu, 7 Juni 2026. Ini serangan pertama sejak gencatan senjata April lalu. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, tuding AS langgar kesepakatan. Selat Hormuz jadi sorotan karena memengaruhi harga minyak. Ketegangan ini membuat investor global bersikap sangat hati-hati.
Dari sisi fiskal, defisit APBN ikut menjadi perhatian serius. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melaporkan defisit Rp180,4 triliun Mei 2026. Angka itu setara 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto. “Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif,” kata Purbaya akhir pekan lalu. Defisit naik tipis dibanding April sebesar Rp164,4 triliun. Investor khawatir biaya energi naik karena perang berkelanjutan.
Bursa regional ikut terseret sentimen negatif yang sama kuatnya. Nikkei melemah 3,94% ke 63.967,00 Senin pagi ini. Hang Seng turun 1,26% ke 24.646,00 bersamaan waktu. Shanghai terkoreksi 1,00% di level 3.987,40 pagi tadi. Strait Times ikut merah 1,44% ke 4.977,78. Wall Street, Jumat, 5 Juni 2026, juga kompak ambruk. Nasdaq jatuh 4,77% dan S&P 500 turun 2,64%.
CNBC Indonesia mencatat IHSG sempat menyentuh 5.348,95 dengan koreksi 4,39%. Sebanyak 606 saham melemah hanya 57 saham yang menguat. Nilai transaksi mencapai Rp2,85 triliun dengan volume 3,77 miliar saham. “Koreksi lebih 4% dalam 10 menit menunjukkan kepanikan mendominasi,” tulis CNBC Indonesia.
Di tengah merahnya indeks, beberapa saham justru tahan banting. PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) catat penguatan pagi ini. PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) ikut masuk zona hijau. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga melawan arus pelemahan. Investor disarankan disiplin menerapkan manajemen risiko ketat sekarang. Saham bervaluasi murah dengan fundamental solid jadi incaran utama.
Pemerintah dan Bank Indonesia fokus menjaga daya tarik aset domestik. SBN dan SRBI didorong untuk memberi imbal hasil lebih kompetitif. Langkah ini untuk menarik kembali dana asing yang kabur. Likuiditas perbankan dijaga lewat pengelolaan kas pemerintah BI. Tujuannya memperkuat rupiah dan meredam tekanan pasar keuangan. Data cadangan devisa Mei 2026 ditunggu pasar awal pekan.
Nafan menambahkan, sentimen risk-off global meningkat karena geopolitik memanas. “Ketidakpastian negosiasi AS-Iran serta penolakan terhadap gencatan senjata Israel-Lebanon membuat investor prudent,” tutup Nafan. Pasar sekarang menanti sikap The Fed pekan ini juga. Perkembangan Selat Hormuz menentukan arah harga minyak dunia. Jika inflasi naik, suku bunga tinggi bakal lebih lama.

