Konflik Iran Memanas, Paus Leo XIV Tolak Pembenaran Perang AS
Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Pernyataan tegas Paus Leo XIV mengenai perang Iran mengguncang panggung internasional. Dari dalam pesawat menuju Spanyol, pemimpin Gereja Katolik itu menolak konsep perang adil dalam konflik modern. Kalimat singkatnya langsung menjadi sorotan dunia.
Perjalanan udara tersebut awalnya berlangsung santai pada Sabtu, 6 Juni 2026. Para wartawan mengajukan pertanyaan beragam. Mulai dari sepak bola hingga isu geopolitik. Paus Leo XIV menjawab dengan nada ringan. Ia bahkan sempat membahas Piala Dunia. Senyumnya terlihat saat menanggapi olahraga favorit miliaran orang.
Situasi berubah saat pertanyaan menyentuh konflik Iran. Ekspresi wajah Paus langsung berbeda. Nada bicaranya menjadi lebih serius. Sorotan tertuju pada komentar Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance. Politikus tersebut sebelumnya mengutip konsep just war. Teori itu digunakan untuk membela operasi militer terhadap Iran.
Bagi Paus Leo XIV, pernyataan tersebut bermasalah. Apalagi, teori itu berasal dari pemikiran Santo Agustinus. Tokoh tersebut memiliki hubungan erat dengan tradisi Agustinian. "Saya rasa sudah sangat jelas. Tidak ada perang yang adil di sana," kata Paus Leo XIV.
Kalimat itu meluncur tanpa keraguan. Pesan yang disampaikan juga sangat tegas. Tidak ada ruang abu-abu dalam jawabannya. Menurut Paus, teori perang adil lahir pada masa berbeda. Dunia saat itu jauh dari teknologi militer modern. Kapasitas penghancuran belum sebesar sekarang.
Ia menilai konsep tersebut tidak lagi relevan. Senjata modern mengubah seluruh lanskap peperangan. Dampaknya jauh melampaui bayangan manusia masa lalu. "Teori perang adil berasal dari abad lampau," ujar Paus Leo XIV.
Ia menjelaskan bahwa manusia masa kini memiliki kemampuan destruktif luar biasa. Rudal, drone, dan teknologi canggih mengubah medan perang. Korban sipil sering menjadi pihak paling menderita.
Pandangan tersebut sejalan dengan sikap Vatikan belakangan ini. Sejak konflik Iran memanas, seruan perdamaian terus disampaikan. Dialog selalu ditempatkan sebagai jalan utama. Dalam berbagai kesempatan, Paus Leo XIV mengingatkan pemimpin dunia bahwa eskalasi konflik akan memperbesar penderitaan dan aksi militer bukan jawaban terbaik.
Pernyataan terbaru itu juga memperpanjang ketegangan dengan Washington. Hubungan Vatikan dan Gedung Putih mulai memanas. Perbedaan pandangan terlihat semakin jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beberapa kali menunjukkan ketidaksenangan.
Kritik Paus terhadap konflik Iran menjadi pemicunya. Ketegangan tersebut berkembang menjadi adu pandangan terbuka. Sebelumnya, Paus juga mengkritik retorika keras Trump. Salah satu pernyataan Presiden AS soal Iran menuai perhatian luas. Vatikan menilai ucapan tersebut tidak dapat diterima.
Reaksi dari Washington kemudian muncul. Trump melontarkan kritik balik. Komentar tersebut menyasar langsung pemimpin Gereja Katolik itu. Meski demikian, Paus Leo XIV tidak mengubah sikapnya. Ia tetap konsisten menyuarakan perdamaian. Kritik yang datang tidak membuatnya mundur. "Saya akan terus menyuarakan perdamaian," tegas Paus Leo XIV.
Perselisihan tersebut turut memancing reaksi Eropa. Sejumlah tokoh politik Italia ikut bersuara. Dukungan terhadap Vatikan mulai bermunculan. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, termasuk yang angkat bicara. Ia menilai serangan verbal terhadap Paus tidak pantas. Pernyataannya menjadi perhatian media internasional.
Menariknya, ketegangan geopolitik itu muncul di tengah pembahasan sepak bola. Para wartawan sempat bertanya mengenai Piala Dunia. Jawaban Paus terdengar jauh lebih santai. Ia mengaku mendukung tim nasional Amerika Serikat. Meski demikian, ia tidak yakin bisa menyaksikan banyak pertandingan. Jadwal kepausan cukup padat. "Saya tentu mendukung Amerika Serikat," katanya.
Jawaban tersebut memancing senyum para jurnalis. Suasana kembali mencair sesaat. Pembicaraan bergeser ke negara-negara lain. Paus juga menyinggung Peru. Negara Amerika Selatan itu memiliki tempat khusus di hatinya. Ia pernah bertugas sebagai misionaris di sana.
Selain Peru, Italia juga disebut. Kedua negara gagal lolos ke putaran final. Situasi itu membuatnya memantau tim-tim lain. Ia mengaku tertarik mengikuti negara kecil. Tim yang jarang menjadi favorit justru menarik perhatian. Pendekatan itu mencerminkan karakternya.
Di tengah pembahasan sepak bola, muncul pertanyaan lain. Kali ini mengenai rivalitas Real Madrid dan Barcelona. Topik tersebut selalu memancing perdebatan. Paus sempat menahan senyum. Ia terlihat berhati-hati menjawab. Kalimat yang keluar kemudian memancing tawa. "Paus mendukung semua tim," ujarnya.
Lalu ia menambahkan satu kalimat. Kalimat itu langsung menjadi bahan berita. Para wartawan pun tertawa. "Tetapi Prevost mendukung Real Madrid," katanya. Nama Prevost merujuk pada identitas pribadinya. Sebelum menjadi Paus, ia dikenal sebagai Robert Francis Prevost. Pengakuan itu segera menyebar luas.
Dalam perjalanan ke Spanyol, Paus juga menunjukkan sisi humorisnya. Ia sempat menyinggung fenomena musik dunia. Nama Bad Bunny muncul dalam percakapan. Saat itu, penyanyi Puerto Rico tersebut sedang konser di Spanyol. Ribuan penggemar memadati berbagai kota. Popularitasnya sulit diabaikan.
Paus mengaku sulit bersaing dengan bintang musik tersebut. Ia bahkan bercanda soal pilihan masyarakat. Ucapannya mengundang gelak tawa. "Orang mungkin memilih Bad Bunny," katanya.
Meski bercanda, pesan yang disampaikan cukup dalam. Ia memahami perubahan zaman. Popularitas tokoh agama dan selebritas memiliki dinamika berbeda. Perjalanan ke Spanyol menjadi kunjungan luar negeri keempatnya. Madrid menjadi salah satu tujuan utama. Barcelona dan Kepulauan Canary juga masuk agenda.
Di tengah jadwal padat tersebut, konflik global tetap menjadi perhatian. Iran, Ukraina, dan berbagai kawasan perang terus dipantau. Vatikan berusaha memainkan peran moral. Paus Leo XIV juga menyoroti Ukraina. Ia mengaku prihatin terhadap situasi yang belum berakhir. Upaya perdamaian dinilai harus terus dilakukan.
Menurutnya, dunia terlalu sering terjebak konflik. Jalan dialog sering terlambat ditempuh. Akibatnya, korban terus bertambah. Pernyataan keras dari dalam pesawat itu akhirnya menjadi sorotan utama. Bukan soal sepak bola. Bukan pula soal konser musik.
Dunia justru mengingat satu kalimat sederhana. Kalimat yang lahir di antara awan. Kalimat yang menyentuh inti perdebatan perang modern. Di saat banyak negara berbicara tentang strategi militer, kekuatan senjata, dan kemenangan politik, Paus Leo XIV memilih jalur berbeda. Ia berbicara tentang kemanusiaan. Ia berbicara tentang perdamaian.
Sabtu, 6 Juni 2026, menjadi hari ketika sebuah penerbangan biasa berubah menjadi panggung pesan global. Dari kursi sederhana dalam pesawat kepausan, Paus Leo XIV mengirim sinyal kuat kepada dunia. Pesan itu tidak panjang. Tidak rumit. Tidak berputar-putar. "Tidak ada perang yang adil di sana." R-02

