Terungkap Setelah Berbulan-Bulan Diam, Siswi Ini Simpan Rahasia Kekerasan Seksual
Ilustrasi pelecehan seksual anak oleh orang tua. Foto: SM News/Created by AI
SUMUT, SabangMerauke News – Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali menggemparkan Kabupaten Deli Serdang. Seorang siswi diketahui menjadi korban dalam perkara yang kini ditangani aparat penegak hukum. Kasus itu terungkap setelah korban memberanikan diri bercerita kepada temannya.
Keberanian tersebut menjadi titik awal terbukanya fakta yang selama ini tersimpan rapat. Korban disebut hidup dalam ketakutan selama berbulan-bulan. Tekanan psikologis membuatnya memilih diam.
Informasi mengenai kasus itu kemudian sampai kepada berbagai pihak. Laporan awal diterima dari anggota DPRD Deli Serdang. Selanjutnya dilakukan asesmen untuk mengetahui kondisi korban.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Deli Serdang, Junaidi Malik, mengatakan asesmen menemukan adanya dugaan tindak kekerasan seksual terhadap korban. "Dari hasil asesmen ditemukan dugaan kekerasan seksual terhadap korban," kata Junaidi Malik, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurut Junaidi, korban selama ini menyimpan rasa takut mendalam. Ancaman diduga membuat korban tidak berani berbicara. Situasi tersebut berlangsung cukup lama. Korban akhirnya memilih membuka cerita kepada seorang teman. Langkah sederhana itu mengubah segalanya. Kasus yang tersembunyi mulai terungkap satu per satu.
Berdasarkan hasil pendampingan awal, dugaan peristiwa tersebut terjadi berulang kali. Rentang waktunya disebut berlangsung sejak Februari hingga Juni 2026. Selama periode itu, korban hidup dalam tekanan.
Ketakutan sering menjadi tembok besar bagi korban. Banyak anak memilih memendam pengalaman pahit. Kondisi tersebut membuat kasus sulit terdeteksi sejak awal.
Junaidi menilai peristiwa ini menjadi pengingat penting. Perlindungan anak harus diperkuat di berbagai lingkungan. Terutama dalam lingkup keluarga. "Kekerasan berdampak fisik dan psikologis. Korban memerlukan pemulihan menyeluruh," ujar Junaidi.
Menurutnya, proses pendampingan tidak berhenti pada penanganan hukum. Korban juga membutuhkan dukungan psikologis jangka panjang. Pemulihan mental menjadi bagian penting. Perhatian kemudian tertuju pada proses penyidikan. Aparat kepolisian mulai mengumpulkan berbagai keterangan. Sejumlah langkah hukum terus berjalan.
Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Deli Serdang menangani perkara tersebut. Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap berbagai unsur terkait. Pengumpulan alat bukti juga terus berlangsung.
Kanit PPA Satreskrim Polresta Deli Serdang, AKP Hendri Ginting, membenarkan adanya penanganan kasus tersebut. Seorang pria telah diamankan untuk menjalani proses hukum. "Pelaku saat ini telah ditahan. Pemeriksaan masih berlanjut," kata Hendri Ginting.
Penyidik masih mendalami seluruh fakta. Keterangan saksi terus dikumpulkan. Berbagai alat bukti juga sedang dilengkapi. Menurut Hendri, dugaan tindak pidana terjadi saat korban berada dalam kondisi tidak berdaya. Fakta-fakta tersebut menjadi bagian penting penyidikan. Semua informasi akan diuji melalui proses hukum.
Kasus ini menyita perhatian masyarakat. Banyak warga merasa prihatin terhadap kondisi korban. Dukungan moral terus mengalir dari berbagai kalangan. Di balik proses hukum yang berjalan, terdapat cerita panjang mengenai keberanian. Tidak mudah bagi seorang anak membuka pengalaman yang menakutkan. Apalagi saat ancaman terus menghantui.
Banyak korban memilih diam selama bertahun-tahun. Sebagian takut tidak dipercaya. Sebagian lain khawatir menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.
Kasus di Deli Serdang ini menunjukkan pola serupa. Korban memerlukan waktu sebelum akhirnya berbicara. Keberanian itu muncul setelah menemukan orang yang dipercaya. Informasi lain turut terungkap selama pendampingan. Ibu korban diketahui bekerja di luar negeri. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu latar situasi keluarga.
Meski demikian, fokus utama saat ini tetap tertuju pada korban. Pendampingan terus diberikan agar kondisi psikologisnya terjaga. Pemulihan menjadi langkah yang tidak kalah penting.
Peristiwa ini juga memunculkan refleksi mendalam. Rumah semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak. Tempat anak tumbuh tanpa rasa takut. Saat ruang aman itu terganggu, dampaknya bisa sangat besar. Luka emosional sering bertahan lebih lama. Bekasnya tidak selalu terlihat secara kasatmata.
LPA Deli Serdang menegaskan pentingnya penguatan sistem perlindungan anak. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial memiliki peran penting. Setiap tanda harus mendapat perhatian.
Kasus tersebut juga menunjukkan pentingnya keberanian untuk berbicara. Satu cerita kepada teman akhirnya membuka jalan pertolongan. Dari langkah kecil itu, proses perlindungan mulai berjalan.
Minggu, 7 Juni 2026, kasus ini masih dalam penanganan aparat. Penyidikan terus berlangsung. Pendampingan terhadap korban juga terus diberikan.
Di tengah proses hukum yang berjalan, perhatian terbesar tetap tertuju pada masa depan korban. Harapan muncul agar pemulihan berjalan baik. Harapan lain hadir agar kasus serupa tidak kembali terulang.
Perkara ini menjadi pengingat keras bagi semua lingkungan. Anak membutuhkan ruang aman untuk berbicara. Saat keberanian itu muncul, setiap suara perlu didengar dengan serius. R-02

