Mengerikan! Harimau, Trenggiling hingga Soala Terancam Hilang Selamanya dari Bumi Asia
Ilustrasi Harimau Sumatera. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Krisis kepunahan satwa liar di Asia kini memasuki fase mengkhawatirkan. Lebih dari 4.300 spesies hewan tercatat masuk kategori terancam punah dan sangat terancam punah. Sejumlah satwa ikonik seperti badak Jawa, badak Sumatra, harimau, trenggiling hingga gibon kini berada di ambang kehilangan habitat dan populasi secara permanen.
Ancaman itu bukan lagi sekadar peringatan ilmiah. Banyak spesies kini hidup dalam jumlah sangat kecil, bahkan sebagian dikhawatirkan sudah menghilang dari alam liar sebelum dikenal luas masyarakat dunia.
Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan Asia, khususnya Asia Tenggara, menjadi salah satu wilayah dengan tekanan biodiversitas paling berat di dunia. Kerusakan hutan, ekspansi perkebunan, pembangunan pesisir, perubahan iklim, hingga perdagangan satwa liar ilegal menjadi faktor utama penyebab percepatan kepunahan.
Badak Jawa menjadi simbol nyata ancaman tersebut. Satwa langka yang hanya ditemukan di Indonesia itu kini tersisa dalam jumlah sangat terbatas. Kondisi serupa juga dialami badak Sumatra yang populasinya terus menyusut akibat hilangnya habitat dan rendahnya tingkat reproduksi.
Selain dua spesies tersebut, harimau Asia juga terus menghadapi tekanan besar. Habitat yang semakin sempit membuat konflik antara manusia dan satwa liar meningkat. Perburuan ilegal untuk perdagangan bagian tubuh harimau turut memperparah kondisi populasi mereka.
Ancaman tidak hanya terjadi di daratan. Ekosistem laut Asia Tenggara juga mengalami tekanan berat. Dugong, kuda laut, karang, hingga ikan lele raksasa menghadapi ancaman akibat pembangunan pesisir, eksploitasi berlebihan, pencemaran, serta meningkatnya suhu laut.
Salah satu spesies paling misterius yang kini berada di ujung kepunahan adalah soala, mamalia langka yang hidup di Pegunungan Annamite di Laos dan Vietnam. Hewan yang dijuluki “Asian unicorn” itu baru ditemukan ilmuwan pada 1992. Namun hanya dalam beberapa dekade, keberadaannya di alam liar semakin sulit ditemukan hingga sebagian peneliti khawatir spesies tersebut telah punah.
Kondisi itu menunjukkan cepatnya kerusakan lingkungan terjadi di kawasan Asia Tenggara. Hutan tropis yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan spesies endemik kini terus menyusut akibat perubahan fungsi lahan.
Laos menjadi salah satu contoh nyata. Negara tersebut kehilangan sekitar 25 persen tutupan hutannya sepanjang 2001 hingga 2025. Banyak kawasan hutan berubah menjadi perkebunan jagung, singkong, dan pisang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan industri.
Perubahan fungsi hutan menyebabkan satwa kehilangan sumber makanan, lokasi berkembang biak, hingga jalur migrasi alami. Dalam banyak kasus, hewan liar akhirnya masuk ke wilayah permukiman karena ruang hidup mereka semakin sempit.
Selain kerusakan habitat, perdagangan satwa liar ilegal masih menjadi ancaman serius. Asia Tenggara dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan satwa terbesar di dunia.
Awal bulan ini, otoritas Laos menyita cula badak asal Afrika. Sementara di Thailand, perdagangan gading gajah masih ditemukan berlangsung melalui media sosial. Tidak hanya itu, trenggiling, kura-kura, burung langka, kuda laut, hingga karang juga masih menjadi komoditas pasar gelap internasional bernilai miliaran dolar AS.
Perdagangan ilegal juga menyasar kayu bernilai tinggi. Di Myanmar, kayu jati dibalak secara ilegal untuk industri kapal pesiar, sedangkan rosewood di Thailand masih diburu untuk pasar furnitur premium.
Direktur Traffic Asia Tenggara, Kanitha Krishnasamy, menyebut terlalu banyak spesies diambil dari alam liar demi memenuhi bisnis perdagangan ilegal yang sangat menguntungkan.
Meski demikian, sejumlah perkembangan positif mulai terlihat di beberapa negara. Thailand misalnya mencatat peningkatan populasi dugong di wilayah selatan serta bertambahnya jumlah harimau di kawasan hutan timur setelah pengawasan konservasi diperkuat.
Laos yang selama hampir satu dekade tidak menemukan harimau liar juga mulai menyusun program pemulihan populasi harimau dalam 10 tahun ke depan. Pemerintah negara itu bahkan menargetkan penanaman 10 juta pohon sepanjang tahun ini guna memperbaiki kerusakan hutan.
Namun para pemerhati lingkungan menilai langkah tersebut masih belum cukup jika kerusakan habitat terus berlangsung lebih cepat dibanding upaya pemulihan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 1 juta spesies hewan dan tumbuhan di dunia kini menghadapi ancaman kepunahan. Sekitar 75 persen lingkungan daratan dan 66 persen lingkungan laut telah mengalami perubahan signifikan akibat aktivitas manusia.
Saat ini hanya sekitar 17 persen wilayah daratan dan delapan persen wilayah laut dunia yang berstatus kawasan lindung. Karena itu, PBB menargetkan perlindungan 30 persen daratan, sungai, dan laut dunia pada 2030, sekaligus memulihkan 30 persen ekosistem yang rusak.
Asia Tenggara selama ini dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas terbesar dunia. Namun di kawasan yang sama, pembangunan ekonomi, konsumsi manusia, dan konservasi kini saling bertabrakan dalam skala besar.
Jika tidak ada langkah perlindungan yang lebih serius, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal banyak satwa Asia dari gambar, dokumenter, atau museum.
Daftar 10 Hewan yang Terancam Punah di Dunia
- Badak Jawa
- Badak Sumatra
- Harimau Sumatra
- Trenggiling
- Soala
- Gibon
- Dugong
- Kuda Laut
- Orangutan
- Gajah Asia. (R-05)

