Sering Makan Daging Merah Malam Hari? Studi Ungkap Dampaknya Bikin Tubuh Tak Bisa Istirahat
Ilustrasi daging merah. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Kebiasaan mengonsumsi daging merah secara berlebihan kini menjadi sorotan serius setelah berbagai penelitian mengungkap dampaknya terhadap kualitas tidur dan kesehatan tubuh. Pola makan tinggi protein dan lemak, terutama pada malam hari, disebut dapat memicu gangguan tidur, meningkatkan inflamasi, hingga memperparah risiko sleep apnea.
Temuan tersebut tercantum dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine. Studi itu mengungkap bahwa daging merah membutuhkan proses pencernaan yang lebih berat dibanding jenis makanan lain. Akibatnya, tubuh dipaksa bekerja ekstra bahkan saat malam hari ketika seharusnya memasuki fase istirahat.
“Waktu makan yang terlalu larut malam berkaitan erat dengan pola dan kualitas tidur yang buruk,” demikian kutipan laporan penelitian tersebut, Sabtu (6/6/2026).
Kondisi ini dinilai semakin berbahaya ketika konsumsi daging dilakukan mendekati waktu tidur. Aktivitas pencernaan yang terlalu tinggi di malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Dampaknya, seseorang menjadi lebih sulit tidur nyenyak dan mudah terbangun saat malam.
Tak hanya itu, konsumsi daging merah berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan sleep apnea atau kondisi henti napas sesaat saat tidur. Gangguan ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan membuat kualitas istirahat menurun drastis.
Selain sleep apnea, pola makan tinggi daging merah juga berpotensi memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan atau refluks asam. Kondisi tersebut sering membuat dada terasa panas, tenggorokan tidak nyaman, dan memicu gangguan tidur berkepanjangan.
“Konsumsi daging yang tinggi berkaitan dengan durasi dan kualitas tidur yang buruk,” tulis laporan lain dalam jurnal Aging and Disease.
Para peneliti menjelaskan, daging merah memang mengandung triptofan, yaitu asam amino yang berfungsi membantu produksi hormon serotonin dan melatonin sebagai pengatur rasa kantuk. Namun, kandungan asam amino lain dalam daging justru dapat menghambat penyerapan triptofan ke otak.
Akibat persaingan tersebut, pasokan triptofan yang berhasil masuk ke otak menjadi jauh lebih sedikit. Dampaknya, produksi hormon pemicu kantuk alami menurun dan tubuh menjadi lebih sulit terlelap.
Penelitian itu bahkan menemukan fakta mengejutkan. Setiap peningkatan konsumsi daging sebesar 100 gram per hari disebut mampu meningkatkan risiko gangguan tidur hingga 60 persen.
“Diketahui bahwa setiap peningkatan konsumsi daging sebesar 100 gram per hari, risiko seseorang untuk mengalami gangguan tidur juga akan meningkat hingga 60 persen,” ungkap laporan penelitian tersebut.
Tidak berhenti di situ, asupan protein dan lemak berlebih dari daging merah juga diduga memicu penurunan sensitivitas insulin. Kondisi ini dapat meningkatkan peradangan atau inflamasi dalam tubuh yang akhirnya berdampak pada rusaknya siklus tidur harian.
Para ahli kesehatan mengingatkan masyarakat agar mulai membatasi konsumsi daging merah, terutama pada malam hari. Mengatur pola makan lebih seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, dan protein sehat dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas tidur sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Selain memperhatikan jumlah konsumsi, waktu makan juga menjadi faktor penting. Makan terlalu malam dengan menu berat berlemak tinggi dapat membuat tubuh terus bekerja saat waktu istirahat tiba. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan tidur berkualitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihan organ.
Kurang tidur dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, hingga gangguan jantung. Karena itu, pola konsumsi harian kini tidak lagi hanya soal kenyang, tetapi juga menentukan kualitas kesehatan jangka panjang.
Masyarakat pun diimbau mulai lebih bijak dalam memilih menu makanan harian. Konsumsi daging merah sebenarnya tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber zat besi dan protein, namun harus dilakukan dalam porsi yang wajar dan tidak berlebihan. (R-05)

