Rupiah Melemah, Rakyat Sengsara: PD KAMMI Pekanbaru Tagih Tindakan Nyata Bank Indonesia
Ketua Bidang Kebijakan Publik PD KAMMI Pekanbaru, M. Benny Fachrozie. Foto: Istimewa
RIAU, SabangMerauke News – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan tajam. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, termasuk di Pekanbaru, Provinsi Riau. Kenaikan harga kebutuhan pokok hingga menurunnya daya beli masyarakat disebut menjadi efek nyata dari tekanan ekonomi yang terus membesar.
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pengurus Daerah Pekanbaru melontarkan kritik keras terhadap Bank Indonesia (BI) yang dianggap lamban dan tidak sigap dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah. Organisasi mahasiswa tersebut menilai kondisi pelemahan rupiah yang terus berulang menunjukkan adanya persoalan serius dalam strategi pengendalian moneter nasional.
KAMMI Pekanbaru menyebut situasi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai gejolak biasa. Menurut mereka, dampak pelemahan kurs dolar kini telah terasa langsung di tengah masyarakat melalui lonjakan harga barang dan ancaman inflasi yang semakin membebani kehidupan warga.
Ketua Bidang Kebijakan Publik PD KAMMI Pekanbaru, M. Benny Fachrozie mengatakan, pemerintah dan Bank Indonesia seharusnya tidak hanya menyampaikan narasi optimisme tanpa langkah nyata yang dirasakan masyarakat kecil.
Ia menilai berbagai klaim mengenai kondisi ekonomi nasional yang disebut tetap aman tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas di lapangan. Menurutnya, masyarakat justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
“Pelemahan rupiah yang terus terjadi ini menjadi tamparan keras bagi kondisi ekonomi kita. Jangan hanya menyampaikan narasi bahwa ekonomi baik-baik saja, sementara masyarakat di pasar merasakan harga barang terus naik dan daya beli semakin melemah,” ujar Benny.
Ia juga menyoroti kondisi pasar tradisional di Pekanbaru yang disebut mulai merasakan dampak langsung dari tekanan nilai tukar. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai menjadi indikator bahwa pelemahan rupiah mulai memicu keresahan di tengah masyarakat.
Menurut Benny, Bank Indonesia seharusnya mampu menghadirkan langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi, khususnya dalam mengendalikan tekanan inflasi dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Ia menilai kebijakan yang ada saat ini belum cukup memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Tak hanya itu, Benny juga mengkritik sejumlah program yang selama ini dijalankan BI, termasuk Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Ia menilai berbagai program tersebut cenderung bersifat seremonial dan belum menyentuh akar persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
“Kami mempertanyakan efektivitas program-program yang selama ini dijalankan. Ketika dolar terus menguat dan rupiah melemah, masyarakat membutuhkan kebijakan nyata dan intervensi yang terukur, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.
Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan kehadiran negara melalui kebijakan moneter yang lebih agresif dan berpihak kepada rakyat. Ia juga meminta Bank Indonesia tidak hanya fokus pada pencitraan dan aktivitas formalitas, tetapi benar-benar menghadirkan solusi konkret untuk menjaga stabilitas harga di pasar.
Kritik serupa juga disampaikan Ketua Umum PD KAMMI Pekanbaru, Defriandy Nugroho. Ia menilai pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu bergerak lebih cepat untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari pelemahan rupiah terhadap ekonomi masyarakat.
Defriandy meminta seluruh pihak terkait melakukan evaluasi terhadap berbagai agenda yang dianggap tidak memiliki dampak langsung terhadap penanganan inflasi. Menurutnya, anggaran negara seharusnya lebih difokuskan pada program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kami mendesak adanya reformasi kebijakan moneter yang cepat dan langkah konkret di tingkat regional untuk menekan dampak inflasi. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata agar tekanan ekonomi tidak semakin berat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi yang tidak stabil berpotensi memicu persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera ditangani secara serius. Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia diminta tidak menganggap enteng pelemahan rupiah yang saat ini terjadi.
KAMMI Pekanbaru juga menekankan pentingnya koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan TPID dalam menjaga kestabilan harga dan pasokan kebutuhan pokok di daerah. Menurut mereka, langkah cepat dan terukur sangat dibutuhkan untuk mencegah lonjakan inflasi yang lebih tinggi di Pekanbaru maupun wilayah Riau secara umum.
Di sisi lain, masyarakat kini berharap pemerintah mampu menghadirkan solusi konkret untuk menjaga kestabilan ekonomi. Sebab, tekanan terhadap harga kebutuhan pokok dinilai semakin dirasakan oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah yang paling rentan terhadap kenaikan harga.
Pelemahan rupiah yang berkepanjangan dinilai bukan hanya persoalan angka di pasar keuangan, tetapi juga menyangkut kondisi riil masyarakat sehari-hari. Karena itu, berbagai pihak berharap adanya langkah strategis dan kebijakan yang efektif agar stabilitas ekonomi dapat kembali terjaga dan daya beli masyarakat tidak semakin tergerus. (R-03)

