Mobil Ditembaki Polisi! 113 Kg Sabu Asal Malaysia Tertinggal di Parit, Bandar Kabur ke Hutan
Ilustrasi dan infografis penggagalan peredaran 113 kg Sabu oleh Polda Sumatera Utara. Foto: SM News/Created by AI
SUMUT, SabangMerauke News — Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara menggagalkan peredaran 113 kilogram sabu jaringan internasional pada Rabu, 3 Juni 2026. Pengungkapan kasus ini berlangsung dramatis setelah petugas terlibat aksi kejar-kejaran dengan pelaku. Mobil yang digunakan kurir narkoba ditembaki saat mencoba melarikan diri.
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara, Kombes Andy Arisandi, mengungkapkan pengungkapan tersebut merupakan bagian dari perang panjang melawan sindikat internasional. Tim bergerak setelah memperoleh informasi terkait pengiriman narkoba dalam jumlah besar.
Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan operasi lapangan. Hasilnya, ratusan paket sabu berhasil diamankan. "Direktorat Narkoba Polda Sumatera Utara melakukan pengungkapan barang bukti berupa sabu sebanyak 113 kilo," kata Andy Arisandi, Rabu, 3 Juni 2026.
Awalnya operasi berjalan seperti pemantauan biasa. Petugas membuntuti kendaraan yang dicurigai membawa narkotika. Mobil Toyota Kijang Innova tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Situasi berubah ketika pengemudi sadar sedang diburu.
Pengemudi langsung menginjak pedal gas lebih dalam. Kendaraan melesat mencoba meninggalkan petugas. Jalanan berubah menjadi arena kejar-kejaran menegangkan. Polisi terus mengikuti dari belakang dengan jarak dekat.
Ketika peringatan tidak diindahkan, petugas mengambil tindakan tegas. Tembakan diarahkan ke bagian kendaraan pelaku. Peluru menghantam pintu depan sebelah kiri. Bekas tembakan terlihat jelas setelah kendaraan berhasil ditemukan.
Meski kendaraan mengalami kerusakan, pelaku tetap berusaha kabur. Mereka terus memacu mobil hingga kehilangan kendali. Kendaraan akhirnya keluar jalur dan masuk ke parit. Kondisi itu membuat mobil tidak bisa bergerak lagi.
Petugas segera mendekati lokasi kendaraan yang terjebak. Harapan menangkap pelaku saat itu cukup besar. Lokasi sudah berhasil dikuasai aparat. Situasi terlihat menguntungkan bagi petugas.
Akan tetapi, para pelaku berhasil memanfaatkan kondisi sekitar. Mereka keluar dari kendaraan dan berlari menuju kawasan hutan. Area yang dipenuhi semak dan pepohonan membuat pengejaran menjadi sulit. Sampai saat ini para pelaku masih diburu.
"Mobil pelaku baru berhenti ketika terperosok ke dalam parit. Sehingga mobil berhasil dihentikan dan barang bukti ditemukan," ujar Kombes Andy Arisandi.
Saat kendaraan diperiksa, petugas menemukan tumpukan paket sabu. Total berat keseluruhan mencapai 113 kilogram. Jumlah tersebut cukup untuk merusak kehidupan ribuan orang. Temuan itu langsung diamankan sebagai barang bukti utama.
Selain narkotika, polisi menemukan sejumlah dokumen identitas. Terdapat kartu tanda penduduk dan surat izin mengemudi. Semua dokumen ditemukan di dalam kendaraan. Temuan tersebut kemudian diperiksa lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan awal memunculkan fakta menarik. Identitas yang ditemukan diduga tidak asli. Data yang tercantum mengarah pada dugaan penyamaran terencana. Modus tersebut lazim digunakan oleh jaringan narkoba profesional. Tujuannya menghindari pelacakan aparat.
"Kemudian di TKP kami temukan kendaraan sudah terperosok ke parit dan tersangka melarikan diri pada saat itu," ungkap Kombes Andy Arisandi.
Jejak identitas palsu kemudian menjadi pintu masuk penyelidikan. Tim Direktorat Narkoba mulai menelusuri asal dokumen tersebut. Analisis dilakukan secara mendalam dan berlapis. Hasil awal mengarah ke wilayah Aceh.
Dari pengembangan sementara, polisi menduga sabu tersebut berasal dari Malaysia. Barang haram itu diduga masuk melalui jalur penyelundupan tertentu. Setelah tiba di Indonesia, sabu direncanakan menuju Aceh. Selanjutnya akan diedarkan ke berbagai daerah.
Aceh selama ini kerap menjadi jalur transit jaringan internasional. Letaknya yang strategis sering dimanfaatkan sindikat lintas negara. Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi aparat. Karena itu, pengawasan terus diperkuat.
Polisi kini mengirim tim ke sejumlah lokasi yang dianggap penting. Pengembangan kasus dilakukan secara simultan. Fokus utama berada pada penangkapan pelaku yang melarikan diri. Selain itu, jaringan di belakang pengiriman juga diburu.
"Kemudian anggota fokus dari dokumen-dokumen ini mengerucut ke wilayah Aceh. Tim kami bergerak menuju lokasi untuk melakukan penangkapan," kata Kombes Andy Arisandi.
Pengungkapan 113 kilogram sabu ini menunjukkan sindikat masih aktif bergerak. Jalur internasional tetap menjadi ancaman serius. Keuntungan besar membuat bisnis haram tersebut terus berjalan. Sindikat bahkan berani mengirim dalam jumlah fantastis.
Jika berhasil beredar, dampaknya sangat besar bagi masyarakat. Satu kilogram sabu saja bisa merusak banyak kehidupan. Apalagi jika jumlahnya mencapai ratusan kilogram. Kerugian sosial yang ditimbulkan tidak terbayangkan.
Kasus ini juga memperlihatkan tingkat kesiapan jaringan narkoba. Penggunaan identitas palsu menunjukkan operasi dilakukan secara profesional. Pelaku diduga telah menyiapkan berbagai skenario pelarian. Termasuk memanfaatkan medan hutan saat terdesak.
Penyidik masih mendalami siapa pemilik sebenarnya barang haram tersebut. Polisi juga menelusuri sumber pendanaan jaringan. Jalur distribusi serta penerima akhir masih terus dipetakan. Pengembangan kasus diperkirakan berlangsung lama.
Di balik tumpukan paket sabu yang ditemukan, terdapat cerita lebih besar. Cerita tentang sindikat yang bergerak lintas negara. Cerita mengenai jalur gelap yang menghubungkan Malaysia dan Indonesia. Cerita itu kini sedang dibongkar satu per satu.
Bagi aparat, operasi ini belum selesai. Barang bukti memang sudah diamankan. Akan tetapi para pelaku utama masih berada dalam pelarian. Perburuan terus dilakukan hingga seluruh jaringan terungkap.
Keberhasilan menggagalkan 113 kilogram sabu menjadi pukulan keras bagi sindikat. Nilai ekonominya mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Kerugian besar dipastikan menghantam jaringan tersebut. Aparat berharap efek kejut dapat memutus rantai distribusi berikutnya.
Saat ini fokus penyidik tertuju pada Aceh. Dari sana, petunjuk baru diharapkan bermunculan. Setiap dokumen dan barang bukti sedang dianalisis. Polisi berupaya memastikan tidak ada mata rantai yang terlewat.
Perburuan terhadap para pelaku masih berlangsung hingga Kamis, 4 Juni 2026. Aparat meyakini jejak mereka belum hilang sepenuhnya. Hutan mungkin memberi ruang pelarian sementara. Akan tetapi, jejak jaringan narkoba biasanya meninggalkan banyak petunjuk.
Kasus ini menjadi bukti bahwa perang melawan narkoba belum berakhir. Setiap pengungkapan besar selalu membuka jaringan yang lebih luas. Di balik satu kendaraan yang terperosok ke parit, tersimpan cerita tentang bisnis haram lintas negara. Cerita itu kini sedang diburu hingga ke akar paling dalam. R-02

