CT Scan RSUD Kepulauan Meranti Rusak Sebulan, Pasien Sempat Dirujuk ke Luar Daerah, Kadiskes Buka Suara
RSUD Kepulauan Meranti tampak samping. Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Sejumlah masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti mengeluhkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti. Rumah sakit yang menjadi fasilitas kesehatan rujukan utama di daerah itu dinilai masih menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya terkait ketersediaan dan kondisi alat medis.
Keluhan tersebut mencuat di media sosial setelah seorang warga menuliskan pengalamannya mengenai adanya pasien yang terpaksa dirujuk ke luar daerah akibat kerusakan alat medis yang dibutuhkan untuk penanganan pasien.
Dalam unggahannya, warga tersebut meminta pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih terhadap kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan di RSUD Kepulauan Meranti. Menurutnya, keterbatasan alat medis membuat pasien harus menjalani rujukan ke rumah sakit di luar daerah, yang tentunya membutuhkan biaya besar serta waktu tempuh yang tidak singkat.
Selain persoalan jarak, warga juga menyoroti beban ekonomi yang harus ditanggung keluarga pasien selama menjalani proses pengobatan di luar daerah. Belum lagi, kata dia, pelayanan kesehatan yang diterima di rumah sakit tujuan terkadang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
"Harapan kami alat-alat pendukung kesehatan di RSUD dapat dilengkapi sehingga pasien tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah. Selain jauh, biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit," tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Unggahan itu kemudian menuai beragam tanggapan dari warganet. Sejumlah netizen menyampaikan dukungan agar pemerintah daerah lebih serius memperhatikan fasilitas kesehatan yang ada. Namun, ada pula yang mengaitkan persoalan tersebut dengan kebijakan pembangunan daerah.
Salah satu akun bernama Ani menilai pemerintah daerah seharusnya memprioritaskan pembenahan fasilitas dan peralatan di RSUD yang sudah ada dibandingkan membangun fasilitas kesehatan baru. Dimana diketahui, saat ini pemerintah baru saja selesai membangun Rumah Sakit Penyagun di Kecamatan Rangsang.
"Begini lah kalau ego seorang pemimpin yang mana tidak mau tunduk dengan kekuasaan nya sendiri membangun Rumah Sakit Penyagun yg tidak sedikit modal nya. Kalau lah dia pelihara dan perbaikilah RSUD dengan peralatan yang kurang, InsyaAllah sudah lebih baik RSUD Kepulauan Meranti," tulis akun tersebut dalam kolom komentar.
Komentar itu pun memicu diskusi panjang di kalangan pengguna media sosial. Sebagian masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap kebutuhan alat kesehatan di RSUD Kepulauan Meranti agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan maksimal dan tidak lagi bergantung pada rujukan ke luar daerah.
Belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti maupun pemerintah daerah terkait keluhan masyarakat tersebut.
Menyikapi keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti yang ramai diperbincangkan di media sosial, wartawan mencoba mengkonfirmasi langsung pihak rumah sakit guna mendapatkan penjelasan mengenai persoalan yang dikeluhkan warga.
Masyarakat berharap persoalan itu menjadi perhatian bersama demi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Direktur RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti, dr. Joko Santoso, membenarkan bahwa alat yang mengalami kerusakan tersebut adalah CT Scan yang digunakan untuk pelayanan radiologi. Menurutnya, kerusakan terjadi pada komponen hardisk dan server sehingga membutuhkan waktu untuk proses perbaikan.
"Iya benar, sekitar sebulan lamanya ada kerusakan pada alat CT Scan. Komponen yang mengalami kerusakan adalah hardisk dan server sehingga kami harus melakukan pemesanan suku cadang ke Jakarta," kata dr. Joko Santoso saat dikonfirmasi, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, CT Scan yang dimiliki RSUD Meranti merupakan alat yang sudah lama digunakan. Dengan intensitas operasional yang tinggi selama 24 jam setiap hari, kerusakan dinilai sebagai hal yang wajar terjadi. Selain faktor usia alat, kondisi kelistrikan yang kerap mengalami gangguan juga menjadi salah satu penyebab yang dapat mempengaruhi kinerja peralatan medis tersebut.
Meski demikian, pihak rumah sakit tidak tinggal diam. Begitu terjadi kerusakan, langkah perbaikan langsung dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan normal.
"Alat ini memang sudah cukup lama digunakan sehingga wajar jika terjadi kerusakan. Apalagi operasionalnya selama 24 jam dan ditambah kondisi listrik yang sering hidup-mati. Namun kami langsung melakukan perbaikan dan saat ini alat tersebut sudah bisa digunakan kembali. Yang jelas kami tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat," ujarnya.
Joko menegaskan bahwa keberadaan CT Scan sangat vital dalam pelayanan kesehatan karena berfungsi sebagai salah satu alat penunjang diagnostik utama sebelum dokter mengambil tindakan medis terhadap pasien.
Menurutnya, hampir seluruh proses pemeriksaan lanjutan bergantung pada hasil radiologi yang dihasilkan alat tersebut. Data dan informasi medis pasien yang diperoleh melalui CT Scan menjadi dasar bagi dokter spesialis dalam menentukan diagnosis dan langkah penanganan yang tepat.
"Alat ini sangat penting karena menjadi penunjang diagnostik berbagai penyakit. Data hasil pemeriksaan pasien tersimpan dan terhubung dengan layanan poli lainnya. Jika pemeriksaan radiologi tidak dilakukan, maka pasien juga tidak bisa melanjutkan pemeriksaan ke poli terkait karena indikasi penyakitnya belum diketahui. Dokter tentu tidak bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien tanpa hasil pemeriksaan tersebut," jelasnya.
Meski sempat mengalami kendala selama proses perbaikan, pihak RSUD memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan dengan berbagai upaya yang dilakukan, termasuk koordinasi penanganan pasien sesuai kebutuhan medis yang ada.
Dengan kembali beroperasinya alat CT Scan tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti dapat kembali berjalan optimal sehingga kebutuhan masyarakat terhadap layanan diagnostik dan pengobatan dapat terpenuhi tanpa harus banyak bergantung pada rujukan ke luar daerah.
Menanggapi keluhan masyarakat terkait kerusakan alat medis di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti yang sempat menyebabkan terganggunya pelayanan kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, meminta masyarakat untuk dapat memahami kondisi tersebut.
Menurut Ade, kerusakan pada peralatan medis merupakan hal yang tidak dapat dihindari mengingat alat kesehatan digunakan secara terus-menerus dalam menunjang pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian, pihaknya memastikan bahwa upaya perbaikan selalu dilakukan agar pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.
"Kami meminta hal ini untuk dimaklumi karena yang namanya alat tentu ada kemungkinan mengalami kerusakan. Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap kami upayakan berjalan dengan baik. Kami juga terus melakukan perbaikan terhadap fasilitas yang mengalami kendala, sehingga masyarakat kami harapkan dapat bersabar," kata Ade Suhartian saat dikonfirmasi, Selasa (2/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Kesehatan tetap berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana yang ada di RSUD.
Ade juga menanggapi sejumlah komentar masyarakat di media sosial yang mengaitkan kondisi fasilitas RSUD dengan pembangunan Rumah Sakit Penyagun. Menurutnya, kedua hal tersebut merupakan program yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
Dijelaskan Ade, pembangunan Rumah Sakit Penyagun telah memiliki perencanaan dan skema pendanaan tersendiri yang berbeda dengan pengelolaan maupun pengembangan fasilitas di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti.
"Itu tidak bisa dikaitkan. Kami tetap terus berbenah terhadap fasilitas yang dimiliki RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin baik. Sementara pembangunan Rumah Sakit Penyagun merupakan program yang sudah memiliki jalurnya sendiri dan tidak ada kaitannya dengan penganggaran maupun operasional RSUD," jelasnya.
Lebih lanjut, Ade menerangkan bahwa saat ini pembangunan Rumah Sakit Penyagun sedang dalam tahapan pengurusan izin fungsional sebelum nantinya dapat beroperasi melayani masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa sumber anggaran pembangunan rumah sakit tersebut berasal dari pemerintah pusat melalui program pembangunan rumah sakit di wilayah perbatasan, sehingga bukan merupakan kebijakan yang mengurangi alokasi anggaran untuk RSUD.
"Rumah Sakit Penyagun saat ini masih dalam proses izin fungsional. Anggaran pembangunannya berasal dari APBN melalui program pembangunan rumah sakit perbatasan. Jadi itu bukan kebijakan pemerintah daerah yang mengambil anggaran RSUD. Sementara untuk kebutuhan RSUD sendiri menggunakan APBD dan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah," tukasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait pembangunan fasilitas kesehatan baru di Kepulauan Meranti. Pemerintah berharap masyarakat dapat memahami bahwa peningkatan layanan kesehatan dilakukan melalui berbagai program yang saling melengkapi, baik melalui penguatan fasilitas yang sudah ada maupun pembangunan sarana kesehatan baru untuk memperluas akses pelayanan bagi masyarakat. (R-01)

