Hanya Carlo Ancelotti Punya Gelar Liga Champions Lebih Banyak Dari Luis Enrique
Luis Enrique memenangkan tropy Liga Champions 2025/2026 bersama PSG (sumber: AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Luis Enrique kembali menulis sejarah besar setelah membawa PSG juara Liga Champions 2025/2026 di Budapest. Prestasi itu membuat pelatih asal Spanyol tersebut masuk kelompok elit pelatih tersukses sepanjang sejarah kompetisi paling bergengsi Eropa. Tiga trofi Liga Champions kini berada dalam genggamannya setelah sebelumnya berjaya bersama Barcelona pada musim 2014/2015.
Sabtu malam, 30 Mei 2026, menjadi panggung lain bagi pria berusia 56 tahun itu. Di tengah tekanan final dan perlawanan sengit Arsenal, Luis Enrique kembali menunjukkan sentuhan emasnya. Ia sukses mengantar PSG mempertahankan mahkota Eropa dan mencetak rekor yang tidak mudah ditiru pelatih mana pun.
PSG menang dramatis atas Arsenal pada final Liga Champions 2025/2026 di Puskás Arena, Budapest. Pertandingan berjalan panas selama 120 menit sebelum ditentukan adu penalti yang menegangkan. Klub asal Paris akhirnya menang 4-3 setelah skor bertahan 1-1 hingga babak tambahan.
Kemenangan tersebut terasa lebih spesial karena PSG datang sebagai juara bertahan. Tekanan besar menyelimuti mereka sejak awal musim kompetisi berlangsung. Namun, tim racikan Luis Enrique justru tampil semakin matang ketika tekanan mencapai titik tertinggi.
Arsenal sempat membuat pendukung PSG terdiam pada awal pertandingan penting tersebut. Kai Havertz membawa The Gunners unggul lebih dulu melalui serangan efektif. Gol itu membuat pertandingan berjalan sesuai skenario tim asuhan Mikel Arteta.
PSG tidak panik meski tertinggal dalam laga terbesar musim ini. Mereka tetap memainkan sepak bola agresif dengan tekanan tinggi sepanjang pertandingan. Kesabaran itu akhirnya menghasilkan hadiah berharga menjelang akhir waktu normal.
Ousmane Dembele maju sebagai algojo penalti dan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tendangan tenang penyerang Prancis tersebut mengubah skor menjadi imbang. Stadion kembali bergemuruh ketika peluang juara terbuka untuk kedua tim.
Setelah kedudukan sama kuat, pertandingan berubah menjadi duel taktik yang menguras energi. Arsenal dan PSG saling mengunci ruang serta meminimalkan kesalahan. Tidak ada tambahan gol hingga babak perpanjangan waktu berakhir.
Drama sesungguhnya muncul saat adu penalti dimulai di Budapest. Satu per satu, eksekutor menjalankan tugas dengan tekanan luar biasa. Ribuan pasang mata menatap setiap langkah para pemain menuju titik putih.
PSG tampil lebih tenang pada momen yang menentukan segalanya tersebut. Para penendang mereka berhasil menjaga fokus hingga akhir. Sebaliknya, Arsenal kehilangan keberuntungan pada kesempatan terakhir.
Bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, menjadi sosok yang paling terpukul malam itu. Tendangan kelimanya melambung tinggi dan gagal menemui sasaran. Bola yang terbang ke langit Budapest langsung mengakhiri mimpi panjang Arsenal.
Seketika para pemain PSG berhamburan ke lapangan merayakan kemenangan bersejarah. Luis Enrique melompat kegirangan dari area teknis. Senyum lebar menghiasi wajah sang pelatih yang kembali menaklukkan Eropa.
Trofi tersebut menjadi gelar Liga Champions kedua beruntun bagi PSG. Musim sebelumnya mereka menghancurkan Inter Milan dengan skor telak 5-0. Kini mereka membuktikan kesuksesan itu bukan sekadar keberuntungan sesaat.
PSG bahkan menjadi tim pertama sejak Real Madrid pada musim 2017/2018 yang mampu mempertahankan gelar. Pencapaian itu menunjukkan level konsistensi luar biasa dalam kompetisi paling sulit Eropa. Klub ibu kota Prancis tersebut kini berdiri sejajar dengan para raksasa benua.
Kesuksesan ini juga mempertegas transformasi besar PSG dalam beberapa tahun terakhir. Selama bertahun-tahun, mereka identik dengan kegagalan di panggung Liga Champions. Trofi yang selalu diburu justru terus menjauh setiap musim.
Situasi mulai berubah ketika Luis Enrique datang pada tahun 2023. Pada musim pertamanya, PSG berhasil mencapai babak semifinal. Fondasi kuat yang dibangun saat itu menjadi awal era kejayaan baru.
Musim berikutnya, PSG akhirnya meraih trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub. Banyak orang menganggap pencapaian itu sebagai puncak perjalanan. Namun, Luis Enrique justru mengubahnya menjadi titik awal dominasi.
Kini dua trofi beruntun menghiasi lemari kebanggaan PSG. Prestasi tersebut membuat nama Luis Enrique semakin dihormati di dunia sepak bola. Ia sukses melakukan sesuatu yang gagal diwujudkan oleh banyak pelatih hebat sebelumnya.
Luis Enrique mengaku perasaannya campur aduk setelah pertandingan berakhir. Kebahagiaan bercampur dengan kelelahan menyelimuti dirinya sepanjang malam. Namun, ada satu hal yang paling ia rasakan.
"Saya merasa campur aduk. Gembira, lelah, semuanya. Ini momen terbaik musim ini. Kami masih juara dua kali berturut-turut dan itu luar biasa," ujar Luis Enrique, pelatih PSG, dikutip dari BBC Sport.
Menurut Enrique, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh tim sepanjang musim. Ia menilai para pemain layak menikmati momen bersejarah itu. Dukungan suporter juga menjadi energi tambahan selama perjalanan kompetisi.
"Kami layak mendapatkannya. Pendukung kami mendukung sepanjang musim. Kami layak berada di final dan memenangkan pertandingan ini," katanya.
Meski menang, Enrique tidak lupa memberikan penghormatan kepada Arsenal. Ia menilai lawannya tampil sangat baik sepanjang pertandingan. Final tersebut menjadi salah satu laga paling sulit dalam kariernya.
"Selamat untuk Arsenal. Ini pertandingan yang sangat sulit. Mereka bermain sangat baik dan mencoba membawa pertandingan ke kekuatan mereka," ujar Enrique.
Ia menjelaskan PSG berusaha menguasai bola dan melakukan tekanan tinggi sejak awal. Strategi itu berjalan sesuai rencana pada banyak momen penting. Kesabaran menjadi kunci kemenangan timnya malam itu.
Keberhasilan terbaru ini membuat koleksi trofi Liga Champions Luis Enrique bertambah menjadi tiga. Gelar pertama datang bersama Barcelona pada musim 2014/2015. Saat itu tim Catalan mengalahkan Juventus dengan skor 3-1 pada partai final.
Dengan tiga trofi, Enrique kini sejajar dengan sejumlah nama legendaris dunia. Ia menyamai rekor Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Bob Paisley. Hanya sedikit pelatih yang mampu mencapai level tersebut.
Bob Paisley mengoleksi tiga trofi bersama Liverpool pada era kejayaan klub Inggris itu. Zidane mencatat sejarah dengan tiga gelar beruntun bersama Real Madrid. Guardiola juga meraih tiga trofi bersama Barcelona dan Manchester City.
Kini nama Luis Enrique berdiri sejajar dengan mereka semua. Satu demi satu pencapaian besar berhasil ia kumpulkan. Rekornya bahkan melampaui banyak pelatih besar dunia.
Di atas kelompok elit itu hanya tersisa satu nama. Carlo Ancelotti masih menjadi pemegang rekor dengan lima gelar Liga Champions. Catatan tersebut masih menjadi target yang sangat sulit dikejar.
Meski demikian, Enrique tidak tertarik membahas status atau warisan pribadi. Fokusnya tetap tertuju pada tim dan masa depan PSG. Ia memilih membiarkan orang lain menilai pencapaiannya. "Legenda? Saya tidak tertarik dengan hal itu," tegas Luis Enrique.
Jawaban singkat tersebut justru menggambarkan karakter sang pelatih. Ia lebih senang berbicara lewat hasil daripada pujian. Trofi demi trofi menjadi bukti paling kuat dari pekerjaannya.
Sementara itu, Arsenal harus kembali menunda mimpi mengangkat trofi Liga Champions pertama. Perjuangan mereka berakhir menyakitkan setelah hanya berjarak satu tendangan dari peluang juara. Kesedihan terlihat jelas di wajah para pemain saat peluit terakhir berbunyi.
Namun, perjalanan Arsenal musim ini tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Mereka mampu menembus final setelah melewati banyak lawan tangguh. Perlawanan sengit di Budapest menunjukkan kualitas skuad muda Mikel Arteta.
Di sisi lain, malam itu sepenuhnya milik PSG dan Luis Enrique. Ketika bola terakhir Arsenal melayang ke langit Budapest, sejarah kembali berubah arah. PSG tetap duduk di singgasana Eropa, sementara Luis Enrique semakin dekat menuju status abadi dalam dunia sepak bola. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Champions League
Tangis Arsenal Pecah di Budapest, PSG Pertahankan Takhta Eropa
-
UEFA Champions League
Arsenal Diburu Trauma Lama, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa

