UEFA Champions League
Tangis Arsenal Pecah di Budapest, PSG Pertahankan Takhta Eropa
Selebrasi pemain PSG menjadi juara Liga Champions 2025/2026 usai mengalahkan Arsenal di final. (sumber: AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Paris Saint-Germain (PSG) menjadi juara Liga Champions 2025/2026 setelah menaklukkan Arsenal lewat adu penalti dramatis di Budapest, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Kemenangan itu mengukuhkan dominasi Les Parisiens sebagai penguasa baru sepak bola Eropa. Arsenal sempat menggenggam trofi impian, namun akhirnya harus melihat pesta lawan berlangsung di depan mata.
Malam di Puskas Arena terasa seperti cerita yang berubah arah pada halaman terakhir. Arsenal memulai laga dengan keberanian dan kepercayaan diri tinggi sepanjang pertandingan. PSG justru menunjukkan mengapa mereka datang sebagai juara bertahan yang sulit dijatuhkan.
Kai Havertz membuat ribuan pendukung Arsenal melompat kegirangan saat laga baru berjalan enam menit. Penyerang Jerman itu memanfaatkan kemelut di kotak penalti lalu melepaskan tembakan tajam. Bola meluncur deras melewati Matvey Safonov dan mengubah skor menjadi 1-0.
Gol tersebut membuat Arsenal tampil semakin percaya diri sepanjang babak pertama pertandingan berlangsung. Pasukan Mikel Arteta menekan tinggi dan memaksa PSG kehilangan ritme permainan. Beberapa kali para pemain PSG terlihat frustrasi menghadapi organisasi pertahanan Arsenal yang rapat.
PSG sebenarnya mencoba membalas melalui Fabian Ruiz dan Khvicha Kvaratskhelia sejak awal pertandingan. Namun, peluang demi peluang gagal menghasilkan gol penyeimbang bagi wakil Prancis tersebut. Arsenal bahkan hampir menambah keunggulan melalui peluang emas Havertz pada menit ke-26.
Safonov menjadi penyelamat PSG ketika keluar dari sarangnya dengan sangat tepat waktu. Kiper Rusia itu menggagalkan peluang yang berpotensi mengubah jalannya pertandingan. Stadion kembali bergemuruh saat penyelamatan tersebut menjaga harapan PSG tetap hidup.
Kontroversi sempat muncul pada menit ke-16 ketika PSG meminta hadiah penalti dalam pertandingan. Bola dianggap mengenai tangan Bukayo Saka saat terjadi kemelut di kotak terlarang. Namun, wasit Daniel Siebert memilih melanjutkan permainan tanpa menunjuk titik putih.
Hingga turun minum, Arsenal tetap unggul dan terlihat lebih dekat menuju gelar impian. Para pemain PSG terus menguasai bola, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama berakhir.
Penalti Dembele Ubah Cerita
Babak kedua dimulai dengan PSG yang tampil jauh lebih agresif dan berani menyerang. Luis Enrique meminta para pemainnya meningkatkan tempo permainan sejak menit awal. Tekanan demi tekanan terus mengalir menuju pertahanan Arsenal yang mulai kelelahan.
Momentum terbesar pertandingan datang pada menit ke-62 saat Khvicha Kvaratskhelia menerobos kotak penalti. Cristhian Mosquera terlambat melakukan tekel dan menjatuhkan winger asal Georgia tersebut. Daniel Siebert langsung menunjuk titik putih setelah melihat pelanggaran terjadi.
Pemeriksaan VAR berlangsung beberapa saat sebelum keputusan tetap dipertahankan tanpa perubahan. Pendukung PSG yang sempat cemas akhirnya bersorak keras di tribun stadion. Ousmane Dembele kemudian berjalan perlahan menuju titik penalti dengan penuh ketenangan.
Dembele tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut pada menit ke-65 pertandingan berlangsung. Tendangannya mengarah ke pojok bawah dan mengecoh David Raya sepenuhnya. Skor berubah menjadi 1-1 dan suasana final kembali memanas.
Gol tersebut menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah pertandingan malam itu. PSG mendadak tampil lebih percaya diri dan menguasai jalannya laga sepenuhnya. Arsenal perlahan mundur dan lebih sering bertahan di area sendiri.
Kvaratskhelia hampir membuat PSG berbalik unggul pada menit ke-78 pertandingan berjalan. Tembakannya sempat berubah arah setelah mengenai pemain lawan di kotak penalti. Bola kemudian membentur tiang dan membuat pendukung Arsenal menahan napas.
Vitinha menjadi otak permainan PSG sepanjang babak kedua yang sangat menegangkan. Gelandang Portugal itu mengatur tempo permainan dengan ketenangan luar biasa. Setiap serangan PSG hampir selalu bermula dari kaki sang gelandang kreatif.
UEFA Technical Observer Group kemudian memilih Vitinha sebagai pemain terbaik pertandingan tersebut. Sang gelandang mencatatkan 162 sentuhan bola selama berada di lapangan. Ia juga menghasilkan 141 umpan akurat dari 150 percobaan sepanjang pertandingan.
"Vitinha mengendalikan permainan dan terus mendorong timnya bermain ke depan," tulis UEFA Technical Observer Group dalam penilaiannya.
Meski PSG mendominasi penguasaan bola hingga 75 persen, gol tambahan tak kunjung hadir. Arsenal bertahan dengan disiplin dan menutup hampir seluruh ruang berbahaya. Waktu normal berakhir dengan skor imbang 1-1.
Ketegangan Extra Time
Babak tambahan waktu menjadi panggung ketegangan yang semakin sulit diprediksi siapa pemenangnya. Kedua tim mulai bermain lebih hati-hati karena kesalahan kecil sangat berbahaya. Setiap serangan terasa seperti kesempatan terakhir menuju sejarah.
Luis Enrique melakukan sejumlah pergantian untuk menjaga intensitas permainan timnya tetap tinggi. Warren Zaire-Emery, Lucas Beraldo, dan Illia Zabarnyi menambah energi segar. PSG tetap menjadi tim yang lebih dominan sepanjang babak tambahan.
Mikel Arteta merespons dengan memasukkan Martin Zubimendi dan Eberechi Eze ke lapangan. Arsenal berharap tenaga baru mampu mengimbangi tekanan yang terus meningkat. Kai Havertz akhirnya ditarik keluar setelah bekerja keras sepanjang pertandingan.
Peluang pertama datang dari Arsenal pada menit ke-93 melalui skema serangan cepat. Declan Rice mengirim umpan terobosan yang membuka ruang bagi Noni Madueke. Namun, Willian Pacho berhasil memotong bola sebelum mencapai Viktor Gyokeres.
PSG membalas lewat aksi Achraf Hakimi yang menusuk dari sisi kanan serangan timnya. Bek Maroko itu melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti Arsenal. Bola melayang tipis di atas mistar dan gagal menghasilkan gol kemenangan.
Kontroversi kembali muncul pada menit ke-102 saat Madueke terjatuh di kotak penalti. Arsenal meminta hadiah penalti setelah benturan dengan Willian Pacho terjadi. Namun, Daniel Siebert menolak klaim tersebut dan melanjutkan pertandingan.
Keputusan itu memicu protes keras dari kubu Arsenal yang mulai frustrasi. Declan Rice menerima kartu kuning karena melakukan protes berlebihan kepada wasit. Mikel Arteta juga mendapat hukuman serupa dari pengadil pertandingan.
PSG memperoleh peluang emas pada menit ke-107 melalui Desire Doue yang berdiri bebas. Bradley Barcola mengirim bola berbahaya menuju area depan gawang Arsenal. David Raya bereaksi cepat dan menyelamatkan timnya dari kebobolan.
Arsenal hampir mencuri kemenangan menjelang akhir babak tambahan waktu pertandingan. Jurrien Timber lebih dulu mengancam melalui tembakan dari sudut sempit. Sesaat kemudian, Viktor Gyökeres juga memperoleh peluang yang berhasil diblok oleh pertahanan PSG.
Peluit panjang akhirnya berbunyi setelah 120 menit penuh ketegangan dan drama. Tidak ada gol tambahan tercipta meski peluang bermunculan dari kedua tim. Nasib trofi Liga Champions harus ditentukan melalui adu penalti.
Tangis Arsenal, Pesta PSG
Adu penalti menghadirkan suasana yang lebih menegangkan dibandingkan pertandingan sebelumnya. Para pemain berdiri di tengah lapangan sambil menahan rasa cemas. Ribuan pasang mata tertuju ke titik putih yang menentukan sejarah.
Goncalo Ramos membuka adu penalti dengan eksekusi sempurna untuk PSG malam itu. Viktor Gyokeres langsung membalas sehingga kedudukan kembali menjadi seimbang. Desire Doue membawa PSG unggul sebelum Eberechi Eze gagal menjalankan tugasnya.
Kesempatan Arsenal kembali terbuka ketika Nuno Mendes juga gagal mencetak gol. Declan Rice sukses menyamakan skor dan membuat ketegangan semakin meningkat. Namun, PSG kembali unggul melalui sepakan tenang Achraf Hakimi.
Gabriel Martinelli menjaga asa Arsenal setelah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Lucas Beraldo kemudian mencetak gol yang membuat PSG memimpin 4-3. Semua tekanan akhirnya jatuh ke pundak Gabriel Magalhaes.
Bek Arsenal itu berjalan menuju titik putih dengan beban yang sangat besar. Jika gagal, mimpi Arsenal mengangkat trofi Liga Champions akan berakhir. Jika sukses, adu penalti masih berlanjut ke penendang berikutnya.
Gabriel mengambil ancang-ancang sebelum melepaskan tendangan keras menuju gawang PSG. Bola justru melambung tinggi melewati mistar dan terbang ke langit Budapest. Dalam sekejap stadion berubah menjadi lautan emosi yang bertolak belakang.
Para pemain PSG berlari memasuki lapangan untuk merayakan kemenangan yang terasa luar biasa. Sebaliknya, para pemain Arsenal jatuh terduduk sambil menutupi wajah mereka. Mimpi yang dibangun sepanjang musim runtuh hanya dalam satu tendangan.
Luis Enrique kembali mengantar PSG menuju puncak tertinggi sepak bola Eropa. Gelar ini menjadi trofi Liga Champions kedua secara beruntun bagi klub Paris tersebut. PSG semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan baru yang menguasai benua biru. "Tim ini menunjukkan karakter luar biasa hingga menit terakhir pertandingan," ujar Luis Enrique, pelatih PSG.
Sementara itu, Mikel Arteta tetap mencoba melihat sisi positif dari perjalanan Arsenal. Pelatih asal Spanyol tersebut memuji perjuangan para pemainnya sepanjang musim. Meski gagal menjadi juara, Arsenal tetap menunjukkan perkembangan yang signifikan. "Kami memberikan segalanya di lapangan dan harus bangga dengan perjuangan ini," kata Mikel Arteta.
Malam itu, Budapest menyaksikan dua cerita berbeda lahir dalam waktu bersamaan. PSG menulis babak baru kejayaan mereka di Eropa dengan tinta emas. Arsenal pulang membawa luka, namun juga harapan untuk kembali lebih kuat musim depan.
Ketika bola terakhir Gabriel melayang ke langit Budapest, sejarah langsung berubah arah. PSG tetap duduk di singgasana Eropa, sementara Arsenal kembali menunda mimpi. Sepak bola sekali lagi membuktikan dirinya sebagai panggung drama paling kejam sekaligus indah di dunia. R-02
BERITA TERKAIT :
-
UEFA Champions League
Arsenal Diburu Trauma Lama, PSG Siap Pertahankan Takhta Eropa
-
UEFA Champions League
Duel Gila di Budapest! PSG dan Arsenal Sama-sama Datang sebagai Juara Liga

