Heboh Dugaan Bullying SMK Pertanian Riau, Orang Tua Murid Tempuh Jalur Hukum
Ilustrasi bullying atau perundungan di sekolah. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Dugaan bullying atau perundungan di SMK Pertanian Riau akhirnya masuk meja penyelidikan Polresta Pekanbaru. Dua siswa korban datang bersama orang tua untuk menjalani pemeriksaan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak.
Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi suara praktik pertanian mendadak berubah tegang sejak laporan masuk awal Maret lalu. Orang tua korban mulai gelisah setelah anak mereka mengaku mengalami kekerasan di lingkungan asrama sekolah. Cerita itu kemudian menyeret perhatian publik hingga aparat kepolisian turun melakukan penyelidikan.
Kuasa hukum korban, Syahrul, S.H., mengatakan laporan dugaan kekerasan tersebut sudah dilayangkan sejak Senin, 2 Maret 2026. Namun, sampai akhir Mei, proses hukum dinilai berjalan lambat dan belum memberi kepastian kepada korban. “Hari ini kami meminta kepastian hukum atas dugaan kekerasan sesama penghuni asrama,” ujar Syahrul, Jumat, 29 Mei 2026.
Syahrul menyebut kedua siswa korban datang memenuhi panggilan penyidik bersama keluarga masing-masing. Pemeriksaan dilakukan oleh Unit PPA Polresta Pekanbaru untuk mendalami kronologi dugaan pengeroyokan di lingkungan asrama sekolah. “Korban berharap perkara ini segera terang dan ada keadilan,” kata Syahrul.
Cerita dugaan perundungan itu berkembang cepat di kalangan wali murid dan masyarakat Pekanbaru. Banyak orang tua mulai mempertanyakan kondisi pengawasan siswa di lingkungan asrama sekolah tersebut. Nama SMK Pertanian Riau pun ikut terseret menjadi bahan perbincangan media sosial sepanjang pekan ini.
Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, membenarkan proses penyelidikan masih berlangsung hingga sekarang. Penyidik masih mengumpulkan keterangan saksi dan mendalami informasi dari sejumlah siswa penghuni asrama. “Saat ini masih tahap penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi,” ujar Anggi.
Di tengah ramainya tudingan bullying, pengelola SMK Pertanian Riau langsung memberi penjelasan berbeda kepada publik. Sekolah menilai insiden tersebut bukan aksi perundungan seperti cerita yang berkembang selama beberapa hari terakhir. Menurut sekolah, keributan terjadi akibat perkelahian antarpelajar satu angkatan di asrama.
Wakil Humas SMK Pertanian Riau, Rini Sepbrina SPt MMA, mengatakan kedua siswa yang terlibat sama-sama duduk di kelas XI. Mereka juga disebut berteman dan tinggal dalam lingkungan asrama yang sama sejak awal sekolah. “Tidak ada bullying, kejadian itu perkelahian antarpelajar,” ujar Rini, Jumat, 29 Mei 2026.
Versi sekolah menyebut keributan bermula saat dua siswa keluar malam tanpa izin pengasuh asrama. Padahal seluruh penghuni asrama diwajibkan tetap berada di lingkungan sekolah pada malam hari. Saat keluar, kedua siswa disebut membawa telepon genggam yang sebenarnya dilarang oleh sekolah.
Larangan penggunaan telepon seluler menjadi aturan ketat di lingkungan asrama sekolah tersebut sejak lama. Namun malam itu, kedua siswa diduga dipergoki teman-teman lainnya ketika bermain handphone di luar pengawasan. Adu mulut kemudian pecah dan suasana mendadak panas di lingkungan asrama.
“Diduga terjadi cekcok setelah mereka dipergoki bermain handphone malam hari,” kata Rini. Keributan kemudian berubah menjadi perkelahian yang kini berujung laporan ke kepolisian. Cerita itu membuat suasana sekolah mendadak ramai diperbincangkan masyarakat Pekanbaru.
Sekolah mengaku sudah berusaha menyelesaikan persoalan tersebut melalui mediasi kekeluargaan sejak awal kejadian. Bidang kesiswaan bahkan sudah tiga kali mempertemukan keluarga kedua siswa untuk mencari jalan damai. Namun, pertemuan terakhir justru berlangsung alot dan belum menghasilkan kesepakatan.
“Pada mediasi terakhir yang datang justru kuasa hukum, bukan orang tua siswa,” ujar Rini. Sejak saat itu, komunikasi kedua kubu disebut mulai berjalan kaku dan sulit menemukan titik damai. Kasus tersebut akhirnya terus berlanjut hingga masuk proses penyelidikan kepolisian.
Meski situasi memanas, sekolah memastikan aktivitas belajar para siswa tetap berjalan seperti biasa setiap harinya. Guru dan pengasuh asrama diminta menjaga suasana sekolah tetap kondusif agar tidak memengaruhi pelajar lainnya. Namun, isu dugaan bullying tetap sulit dibendung setelah cerita tersebar luas di media sosial.
Perhatian publik semakin besar setelah muncul kabar bahwa sejumlah siswa belum diperbolehkan mengikuti Praktik Kerja Lapangan atau PKL. Informasi itu memunculkan dugaan adanya hukuman khusus terhadap siswa yang terlibat dalam persoalan di asrama sekolah. Namun, sekolah langsung membantah kabar tersebut.
Rini menjelaskan keterlambatan mengikuti PKL bukan hanya dialami siswa yang terlibat keributan. Ada sekitar 14 siswa lain yang juga belum memperoleh rekomendasi berkelakuan baik dari bagian kesiswaan sekolah. “Masih ada proses administrasi dan pembinaan yang belum selesai,” ujar Rini.
Sekolah menegaskan persoalan administrasi dan pembinaan siswa tidak berkaitan langsung dengan dugaan pengeroyokan tersebut. Beberapa siswa lain juga disebut belum memenuhi syarat akademik sehingga belum memperoleh rekomendasi PKL. Situasi itu kemudian dianggap berkembang liar setelah dikaitkan dengan kasus asrama.
Di sisi lain, keluarga korban berharap proses hukum berjalan secara terbuka dan memberi rasa aman kepada siswa. Mereka khawatir kasus serupa bisa kembali terjadi jika persoalan tidak diselesaikan secara serius. Sorotan publik terhadap lingkungan asrama sekolah pun makin besar dalam beberapa hari terakhir.
Kasus dugaan bullying ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya pengawasan aktivitas siswa di lingkungan asrama. Ruang pendidikan yang seharusnya nyaman mendadak berubah menjadi cerita panjang penuh ketegangan dan saling bantah. Polisi kini berada di tengah pusaran cerita untuk mencari fakta sebenarnya.
Polresta Pekanbaru masih terus memeriksa saksi dan mendalami kronologi kejadian secara lengkap sampai akhir Mei 2026. Sementara sekolah berharap persoalan tersebut tidak merusak masa depan pendidikan para siswa yang terlibat konflik. Cerita ini pun masih terus bergulir, menunggu akhir yang belum benar-benar terlihat. R-02

