PT DSI Disebut Bisa Hentikan Kebocoran Triliunan Rupiah dari Ekspor CPO dan Batubara
Ilustrasi aktivitas pengolahan buah kelapa sawit di pabrik. (sumber: antarafoto)
JAKARTA, SabangMerauke News - Dunia ekspor Indonesia lagi ramai. Nama PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI mendadak jadi bahan obrolan panas. Badan usaha baru itu disebut bisa membuat permainan lama ekspor batu bara dan CPO perlahan kehilangan ruang.
Selama bertahun-tahun, ekspor komoditas strategis Indonesia sering meninggalkan tanda tanya besar. Angka penjualan terlihat biasa saja di laporan resmi perdagangan internasional. Padahal nilai transaksi sebenarnya diduga jauh lebih tinggi.
Di balik layar, permainan itu disebut memakai modus under invoicing. Nilai barang ditulis lebih murah dibanding harga asli pasar dunia. Negara akhirnya kehilangan potensi pemasukan sangat besar setiap tahun.
Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution atau ISEAI, Ronny P Sasmita, ikut menyoroti kondisi tersebut. Menurut Ronny, masalah lama itu bukan cerita baru dalam perdagangan komoditas nasional. Batu bara dan crude palm oil atau CPO menjadi contoh paling sering disorot.
“Sentralisasi ekspor merupakan solusi struktural cepat untuk menghentikan kebocoran pendapatan negara,” ujar Ronny, Kamis, 28 Mei 2026. Ia menilai pengawasan terpusat membuat ruang permainan harga semakin sempit. Negara juga lebih mudah memantau aliran devisa hasil ekspor.
Ronny menjelaskan banyak perusahaan memakai jalur perdagangan luar negeri untuk memainkan harga barang. Komoditas dari Indonesia dijual murah ke perusahaan afiliasi terlebih dahulu. Setelah masuk pasar global, harga kembali dinaikkan berkali-kali lipat.
Skema itu membuat devisa hasil ekspor tidak sepenuhnya masuk sistem keuangan domestik. Negara kehilangan pemasukan, sementara keuntungan besar berputar di luar negeri. Kondisi tersebut berlangsung cukup lama tanpa pengawasan kuat.
Di titik itulah PT DSI mulai dianggap penting. Pemerintah dinilai bisa memegang kontrol lebih besar terhadap volume dan harga ekspor nasional. Jalur perdagangan menjadi lebih terbuka dan mudah diawasi.
“Negara memegang kontrol penuh terhadap volume, kualitas, dan nilai riil komoditas,” kata Ronny. Menurutnya, sistem satu pintu membuat data perdagangan lebih transparan. Permainan laporan harga juga lebih sulit dilakukan.
Cerita lainnya ada pada posisi Indonesia di pasar global. Meski menjadi produsen CPO terbesar dunia dan eksportir batu bara utama, Indonesia sering hanya mengikuti permainan harga internasional. Posisi tawar Indonesia belum benar-benar kuat.
Penyebabnya sederhana. Eksportir berjalan sendiri-sendiri tanpa arah bersama. Akibatnya, pembeli luar negeri lebih mudah mengendalikan harga pasar. Ronny menilai PT DSI bisa mengubah situasi tersebut. Jika volume ekspor disatukan dalam satu kendali nasional, maka Indonesia memiliki kekuatan menentukan ritme pasokan dunia.
“Indonesia bisa memiliki posisi tawar lebih kuat melalui penyatuan volume ekspor,” ujar Ronny. Negara penghasil komoditas besar lain sudah lebih dulu memakai pola serupa. Indonesia dinilai terlambat masuk permainan besar tersebut.
Selain urusan harga, pemerintah juga dinilai lebih mudah menjaga kebutuhan dalam negeri. Batu bara dan CPO berkaitan langsung dengan energi serta pangan nasional. Pasokan domestik bisa diamankan sebelum barang dikirim keluar negeri.
Situasi global saat ini juga sedang tidak tenang. Harga energi dunia naik turun tanpa pola pasti. Konflik geopolitik membuat banyak negara mulai memperketat kontrol ekspor komoditas strategis.
Di tengah kondisi itu, kemunculan PT DSI langsung memancing pro dan kontra. Sebagian pelaku usaha khawatir perdagangan menjadi terlalu terpusat. Kekhawatiran soal dominasi bisnis mulai bermunculan.
Namun Ronny melihat persoalannya dari sudut berbeda. Menurutnya, isu utama bukan sekadar bisnis perdagangan biasa. Fokus terbesar ada pada penguatan kedaulatan ekonomi nasional.
“Pemerintah harus menggeser narasi menuju isu kedaulatan ekonomi nasional,” kata Ronny. Ia menilai pengelolaan sumber daya alam harus memberi manfaat lebih besar bagi negara. Dukungan publik dinilai bakal muncul jika hasilnya benar-benar terasa.
Kini perdebatan mengenai PT DSI terus bergulir. Dunia usaha menunggu arah aturan perdagangan berikutnya. Pasar internasional juga mulai memperhatikan langkah baru Indonesia.
Satu hal mulai terlihat jelas. Negara tampaknya ingin berhenti menjadi penonton dalam perdagangan komoditas sendiri. Setelah bertahun-tahun kebocoran terjadi, pintu ekspor perlahan mulai dijaga lebih rapat. R-02

