Pape Thiaw Gila! Senegal Berani Pasang Target Juara di Piala Dunia 2026
Starting XI Timnas Senegal saat melawan Maroko di Final Piala Afrika 2025, di Rabat, 18 Januari 2026. (AP Photo)
JAKARTA, SabangMerauke News - Senegal tidak datang menuju Piala Dunia 2026 sekadar membawa koper dan mimpi biasa. Negara kecil dari Afrika Barat itu datang membawa keyakinan besar, nyaris terdengar seperti ancaman untuk dunia. Di tengah dominasi negara raksasa Eropa dan Amerika Selatan, Senegal mulai bicara soal trofi juara dunia.
Semua bermula dari satu kalimat pendek milik Pape Thiaw beberapa bulan lalu. Pelatih Timnas Senegal itu berbicara santai selepas pertandingan pada Maret 2026. Namun, ucapannya langsung menyebar cepat dan membuat publik sepak bola terdiam sesaat.
“Jika satu detik saya ragu bisa memenangkan Piala Dunia bersama Senegal, maka saya akan mundur,” kata Pape Thiaw, Kamis, 28 Mei 2026. Kalimat itu terdengar nekat, liar, bahkan sedikit gila. Namun, semakin dipikirkan, ucapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya berlebihan.
Senegal memang sedang hidup dalam masa terbaik sepanjang sejarah sepak bola mereka. Dalam satu dekade terakhir, performa Senegal terus stabil di level Afrika. Mereka tidak lagi hadir sebagai penggembira yang mudah dipulangkan oleh lawan besar.
Di Piala Afrika, Senegal selalu melangkah jauh hingga fase akhir turnamen. Jika kalah pun, mereka sering tumbang dari tim yang akhirnya keluar menjadi juara. Konsistensi itu perlahan membentuk mental baru dalam ruang ganti Senegal.
Piala Dunia 2018 menjadi luka paling aneh untuk Senegal. Mereka gagal lolos fase grup bukan karena kalah selisih gol atau produktivitas serangan. Senegal tersingkir gara-gara aturan fair play setelah menerima kartu kuning lebih banyak.
Empat tahun kemudian, nasib buruk kembali datang menjelang Qatar 2022. Sadio Mane mengalami cedera dan gagal tampil pada awal turnamen. Kehilangan pemain terbaik jelas membuat Senegal seperti singa kehilangan taring utama.
Meski begitu, Senegal tetap mampu menunjukkan perlawanan di level dunia. Mereka tidak runtuh seperti banyak tim Afrika lainnya saat kehilangan pemain penting. Justru sejak saat itu, keyakinan Senegal semakin tumbuh dari dalam.
Jurnalis Prancis-Senegal, Babacar Diarra, melihat perubahan mental tersebut dengan jelas. Menurutnya, Senegal saat ini berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tim ini terlihat lebih matang, lebih tenang, dan lebih percaya diri menghadapi negara besar.
“Saat ini Senegal punya kombinasi pengalaman dan talenta muda yang sangat kuat,” ujar Babacar Diarra. Ia menilai generasi sekarang memiliki peluang terbesar untuk menembus sejarah baru sepak bola Afrika. Banyak pemain senior masih berada dalam level kompetitif terbaik mereka.
Nama Sadio Mané tetap menjadi wajah utama Senegal menuju Piala Dunia 2026. Penyerang berusia 34 tahun itu masih menjadi simbol kebanggaan nasional. Di ruang ganti, Mane bukan sekadar kapten, melainkan sumber energi seluruh skuad.
Di belakang Mane, ada Kalidou Koulibaly yang tetap kokoh menjaga lini pertahanan Senegal. Idrissa Gana Gueye menghadirkan pengalaman panjang dari kerasnya sepak bola Eropa. Sementara Edouard Mendy masih dipercaya menjadi penjaga terakhir di bawah mistar.
Menariknya, kekuatan Senegal tidak lahir secara instan dari program singkat semata. Negara itu membangun fondasi sepak bola dari akademi lokal selama bertahun-tahun. Dari lapangan sederhana di Dakar, mimpi besar mulai tumbuh perlahan.
Generation Foot menjadi nama paling terkenal dalam revolusi sepak bola Senegal modern. Akademi tersebut sudah bekerja sama dengan klub Prancis, FC Metz, selama lebih dari dua dekade. Hubungan itu membuka jalan bagi pemain muda Senegal menuju Eropa.
Dari akademi tersebut, lahirlah nama-nama besar seperti Sadio Mané dan Ismaïla Sarr. Pape Matar Sarr juga muncul dari jalur yang sama sebelum menembus sepak bola elit. Senegal seperti memiliki pabrik rahasia pembuat pemain berbakat.
Selain Generation Foot, ada Diambars, Dakar Sacré-Cœur, hingga Casa Sports. Akademi-akademi itu terus menghasilkan pemain muda setiap tahun tanpa banyak sorotan media dunia. Namun, hasilnya mulai terasa menakutkan bagi lawan-lawan Senegal.
Sebanyak 13 pemain skuad Piala Afrika 2025 berasal dari akademi lokal Senegal. Fakta tersebut memperlihatkan kekuatan pembinaan pemain muda di negara Afrika Barat itu. Senegal tidak sekadar mengandalkan bakat alami tanpa sistem jelas.
Namun, di balik cerita indah itu, ada ironi yang terasa pahit. Banyak akademi lokal Senegal belum menikmati keuntungan besar dari pemain yang mereka hasilkan. Klub Eropa justru memperoleh manfaat finansial jauh lebih besar.
Total nilai transfer 13 pemain Senegal mencapai 411 juta euro sepanjang karier mereka. Angka itu setara sekitar Rp8,4 triliun dalam kurs saat ini. Namun, akademi lokal hanya memperoleh sebagian kecil dari jumlah fantastis tersebut.
Mantan direktur akademi Casa Sports, Cherif Sadio, mengaku situasi itu sering membuat klub lokal frustrasi. Banyak klub kesulitan berkembang karena pemasukan mereka sangat terbatas. Padahal pemain-pemain besar lahir dari lapangan kecil milik mereka.
“Kadang klub kecil Senegal kesulitan bertahan hidup meski menghasilkan pemain kelas dunia,” ujar Cherif Sadio. Ia menyebut sepak bola Senegal masih dibayangi masalah administrasi yang cukup rumit. Kesalahan registrasi pemain bahkan bisa membuat klub kehilangan hak pembayaran FIFA.
Kasus Nicolas Jackson menjadi contoh paling nyata dari masalah tersebut. Saat striker Senegal itu pindah dari Villarreal menuju Chelsea, Casa Sports hampir kehilangan kompensasi transfer. Nilai transfer Jackson mencapai 37 juta euro atau sekitar Rp760 miliar.
Casa Sports semestinya memperoleh sekitar 185 ribu euro dari perpindahan tersebut. Setelah dokumen berhasil diperbaiki, dana akhirnya tetap masuk ke klub. Namun, cerita itu memperlihatkan rapuhnya sistem administrasi sepak bola Senegal.
Meski menghadapi banyak masalah domestik, Senegal tetap bergerak cepat membangun kekuatan baru. Federasi kini aktif memburu pemain diaspora keturunan Senegal di Eropa. Fokus utama mereka berada pada pemain usia muda sebelum direbut negara lain.
Pendekatan budaya menjadi senjata utama Senegal dalam proses perekrutan tersebut. Banyak pemain diaspora tumbuh dalam keluarga yang tetap menjaga tradisi Senegal. Bahasa, makanan, hingga cerita kampung halaman masih melekat dalam kehidupan mereka.
Strategi itu berhasil meyakinkan Ibrahim Mbaye dan Mamadou Sarr membela Senegal. Padahal keduanya sempat bermain untuk kelompok umur Timnas Prancis sebelumnya. Senegal bergerak lebih cepat agar tidak kehilangan talenta seperti masa lalu.
Pada 2022, Senegal gagal mendapatkan Boubakar Kamara yang memilih memperkuat Prancis. Kekalahan itu menjadi alarm penting bagi federasi sepak bola Senegal. Sejak saat itu, pendekatan terhadap pemain diaspora berubah jauh lebih agresif.
Kini Senegal memiliki kombinasi menarik antara pemain lokal dan diaspora Eropa. Pemain muda menghadirkan kecepatan serta tenaga besar dalam permainan modern. Sementara pemain senior menjaga kestabilan mental dalam pertandingan besar.
Perlahan, Senegal mulai berubah menjadi ancaman nyata menuju Piala Dunia 2026. Mereka tidak lagi puas hanya lolos fase grup atau sekadar mencuri perhatian dunia. Senegal ingin berdiri sejajar dengan negara-negara elite sepak bola internasional.
Di jalanan Dakar, mimpi itu mulai terasa hidup setiap hari. Anak-anak kecil mengenakan jersey Mane sambil bermain bola hingga malam datang. Di warung kopi, obrolan soal juara dunia terdengar semakin sering muncul.
Dulu, mimpi seperti itu terdengar terlalu tinggi untuk negara Afrika kecil. Sekarang situasinya berbeda karena Senegal punya pemain, sistem, dan mental bertarung. Mereka juga memiliki pelatih yang berani bicara tanpa rasa takut.
Ucapan Pape Thiaw kini terasa seperti api yang menyebar ke seluruh negeri. Keyakinan itu tumbuh dari stadion, ruang ganti, hingga jalanan penuh debu di Dakar. Senegal sedang membangun sesuatu yang terasa berbahaya untuk dunia sepak bola. R-02
Skuad Timnas Senegal di Piala Dunia 2026
Kiper: Edouard Mendy (Al-Ahli), Yehvann Diouf (Nice), Mory Diaw (Le Havre).
Bek: Krepin Diatta (Monaco), Antoine Mendy (Nice), Abdoulaye Seck (Maccabi Haifa), Kalidou Koulibaly (Al-Hilal), Ilay Camara (Anderlecht), Moussa Niakhate (Lyon), Mamadou Sarr (Chelsea), El-Hadji Malick Diouf (West Ham United), Moustapha Mbow (Paris FC), Ismail Jakobs (Galatasaray).
Gelandang: Idrissa Gueye (Everton), Habib Diarra (Sunderland), Pape Matar Sarr (Tottenham), Pape Gueye (Villarreal), Lamine Camara (Monaco), Pathe Ciss (Rayo Vallecano), Bara Ndiaye (Bayern Munich).
Penyerang: Sadio Mane (Al-Nassr), Bamba Dieng (Lorient), Iliman Ndiaye (Everton), Nicolas Jackson (Bayern Munich), Assane Diao (Como), Ibrahim Mbaye (Paris St-Germain), Cherif Ndiaye (Samsunspor), Ismaila Sarr (Crystal Palace).

