Wilmar Group and Musim Mas Group Apes Lagi, Menkeu Purbaya Sebut Perusahaan Mainkan Ekspor Minyak Sawit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap dugaan manipulasi harga ekspor CPO melibatkan 10 perusahaan besar. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap dugaan manipulasi harga ekspor CPO melibatkan 10 perusahaan besar. Pemerintah menemukan indikasi transfer pricing melalui Singapura dengan selisih harga ekspor mencapai 50 persen. Perusahaan sawit nasional kini menghadapi pemeriksaan kewajiban pembayaran kepada negara.
Pemerintah mulai menyoroti praktik ekspor minyak sawit mentah menuju pasar internasional. Dugaan manipulasi harga ditemukan melalui transaksi perusahaan perdagangan berbasis Singapura. Selisih harga penjualan menuju Amerika Serikat mencapai angka sangat besar.
Purbaya menyampaikan data dugaan manipulasi tersebut sebenarnya sudah berada di tangan pemerintah. Temuan itu disebut berasal dari pemantauan transaksi ekspor selama beberapa bulan terakhir. Pemerintah kini menyiapkan langkah pemeriksaan terhadap seluruh perusahaan terkait.
“Data itu sudah ada tiga bulan lalu,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa. “Perusahaan harus membayar kewajiban sesuai hasil pemeriksaan nantinya,” sambungnya. Pemerintah memastikan penindakan tetap mempertimbangkan keberlangsungan industri sawit nasional.
Nama sejumlah raksasa sawit nasional ikut terseret dalam daftar pemeriksaan pemerintah pusat. Purbaya membenarkan adanya perusahaan besar yang masuk dugaan manipulasi harga ekspor tersebut. Dua nama paling mencolok berasal dari grup sawit terbesar Indonesia.
Perusahaan tersebut yakni Wilmar International dan Musim Mas Group. Purbaya membenarkan kedua grup tersebut masuk daftar perusahaan yang diperiksa pemerintah. Pernyataan itu disampaikan langsung saat menjawab pertanyaan wartawan.
“Ada Wilmar, Musim Mas? Dua-duanya betul,” kata Purbaya singkat kepada wartawan. Pernyataan itu langsung memicu perhatian pelaku industri sawit nasional. Pasalnya, kedua grup memiliki jaringan ekspor sawit sangat besar secara global.
Selain dua grup besar tersebut, nama PT Salim Ivomas Pratama Tbk ikut disebut dalam pemeriksaan pemerintah. Namun, Purbaya belum memberikan kepastian penuh terkait keterlibatan perusahaan tersebut. Ia hanya menyebut kemungkinan nama perusahaan berada dalam daftar pemeriksaan.
“Sepertinya ada,” ujar Purbaya menjelaskan kemungkinan keterlibatan perusahaan lain. Pemerintah masih terus mendalami seluruh dokumen transaksi ekspor perusahaan sawit terkait. Pemeriksaan dilakukan terhadap data ekspor Indonesia serta dokumen perdagangan luar negeri.
Purbaya menjelaskan modus dugaan manipulasi dilakukan melalui perusahaan perdagangan berbasis Singapura. Ekspor CPO dicatat normal saat keluar dari Indonesia menuju negara transit tersebut. Namun, pencatatan harga berubah ketika produk dijual kembali menuju Amerika Serikat.
Selisih harga penjualan disebut mencapai angka sangat mencolok hingga menyentuh 50 persen. Pemerintah menduga praktik tersebut dilakukan untuk menekan kewajiban pembayaran kepada negara. Dugaan itu mengarah pada praktik transfer pricing dalam perdagangan internasional.
“Mungkin lebih ke transfer pricing, di sini benar, di sananya salah,” jelas Purbaya. “Data ekspornya lebih rendah daripada seharusnya, sekitar 50 persen di bawah,” lanjutnya. Pemerintah kini mengumpulkan bukti tambahan untuk mendukung proses pemeriksaan lanjutan.
Kasus dugaan manipulasi ekspor CPO tersebut diperkirakan berdampak besar terhadap penerimaan negara nasional. Pemerintah menegaskan seluruh perusahaan wajib memenuhi kewajiban pembayaran sesuai aturan berlaku. Langkah pemeriksaan diharapkan memberi efek jera terhadap praktik manipulasi perdagangan internasional.(R-04)

