IHSG Naik Tajam Saat Dunia Tegang, Saham Perbankan Jadi Penyelamat
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Suasana Bursa Efek Indonesia terasa jauh lebih cerah pada Senin, 25 Mei 2026. Setelah beberapa hari bergerak naik turun, IHSG akhirnya ditutup menguat di zona hijau. Indeks naik 0,72 persen ke level 6.206,35.
Sejak pagi pasar sebenarnya bergerak cukup liar. Kadang naik, lalu turun lagi seperti tarik tambang. Namun menjelang sore, saham-saham bank besar mulai tancap gas. Investor langsung ramai memburu saham perbankan. Suasana pasar berubah lebih hidup daripada pekan lalu. Warna hijau perlahan memenuhi papan perdagangan.
Saham BBRI menjadi bintang utama perdagangan hari itu. Saham bank pelat merah tersebut melonjak 3,93 persen ke level Rp3.170 per saham. Nilai transaksinya mencapai Rp766 miliar. Kenaikan BBRI langsung mengangkat IHSG cukup tinggi. Berdasarkan data Bloomberg, saham itu menyumbang hampir 19 poin penguatan indeks. Angka tersebut membuat BBRI jadi perhatian utama investor.
Saham BBCA juga ikut melesat. Saham BMRI dan BBNI bergerak naik bersama. Saham bank besar kembali jadi tempat favorit investor. Tidak cuma sektor perbankan yang bersinar. Saham transportasi dan properti ikut bergerak naik cukup tinggi. Pasar terlihat lebih berani mengambil risiko.
Sebanyak 470 saham ditutup menguat sepanjang perdagangan. Sementara 236 saham turun dan 114 saham bergerak datar. Nilai transaksi pasar mencapai Rp16,95 triliun.
Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan sentimen global menjadi bahan bakar utama penguatan pasar. “Bursa regional Asia bergerak menguat karena risiko global mulai membaik,” ujar Maximilianus Nico Demus, Senin, 25 Mei 2026.
Perhatian investor memang sedang tertuju ke hubungan Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi kedua negara disebut semakin dekat menuju kesepakatan damai. Kabar itu langsung membuat pasar Asia lebih tenang.
Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz ikut menambah optimisme investor. Jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Ketika tensi geopolitik mulai mereda, harga minyak ikut turun.
Situasi itu membuat investor kembali berani masuk pasar saham. Aset berisiko mulai dilirik lagi setelah sempat dihindari. Bursa Asia pun kompak bergerak hijau.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai saham perbankan menjadi mesin utama penggerak IHSG. “Hari ini IHSG didorong oleh emiten perbankan dan perkembangan negosiasi AS-Iran,” kata Herditya Wicaksana.
Meski pasar terlihat cerah, tekanan sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Investor masih memantau proses rebalancing MSCI. Kebijakan baru pemerintah juga masih jadi perhatian pasar.
Di saat bersamaan, rupiah justru melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah ditutup sekitar Rp17.744 per dolar AS. Kondisi itu membuat sebagian investor tetap berhati-hati.
Bank Indonesia sebelumnya melaporkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia mencapai US$9,15 miliar pada kuartal pertama 2026. Angka itu lebih besar dibanding tahun lalu. Kekhawatiran terhadap kondisi eksternal Indonesia pun masih terasa.
Namun, sebagian analis tetap melihat peluang penguatan pasar masih terbuka. Indikator teknikal mulai menunjukkan sinyal positif. Peluang kenaikan terbatas masih mungkin terjadi.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa hari mendatang. “IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.100 sampai 6.300,” ujar Alrich Paskalis Tambolang.
Bursa Asia sendiri ikut memberi angin segar pada perdagangan Senin sore. Indeks Nikkei Jepang melonjak lebih dari tiga persen. Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite juga bergerak naik.
Di tengah suasana itu, investor domestik mulai terlihat lebih percaya diri. Saham bank besar kembali jadi pilihan utama. Setelah lama bergerak lesu, IHSG akhirnya bisa bernapas sedikit lega.
Meski begitu, pasar saham tetap penuh kejutan setiap hari. Satu kabar global bisa langsung mengubah arah perdagangan. Karena itu, investor masih memilih berjalan pelan sambil terus mengamati keadaan. R-02

