Trump Turun Tangan! Selat Hormuz Dibuka Bikin IHSG Melejit Naik, Saham Ini Cuan Gede
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menanjak kembali menuju zona hijau segar awal pekan ini. Lantai bursa langsung menyala terang benderang menyambut kedatangan pemburu cuan dalam negeri. Pasukan modal berbondong-bondong mengamankan posisi portofolio investasi masing-masing agar terhindar dari potensi kerugian.
Papan perdagangan memajang angka pertumbuhan yang cukup memuaskan hati para pemilik modal digital. Indeks kebanggaan nasional bertengger manis pada level 6.187,65 tepat saat lonceng pembukaan berbunyi. Kenaikan tipis sebesar 0,42 persen menjadi modal awal yang sangat berharga bagi ketahanan pasar.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, membenarkan adanya pergerakan dinamis pada pasar saham. "IHSG berpeluang menguat terbatas dan rawan koreksi dengan support 6.054 serta resistance 6.279," ujarnya, Senin, 25 Mei 2026. Penjelasan resmi tersebut disampaikan langsung kepada para wartawan ekonomi senior melalui sambungan telepon.
Geliat transaksi perdagangan berjalan sangat ramai semenjak menit pertama pasar modal resmi dibuka. Volume perdagangan saham menembus angka fantastis hingga mencapai 3,22 miliar lembar saham beredar. Nilai perputaran uang tercatat menyentuh angka 1,67 triliun rupiah dalam waktu sangat singkat.
Frekuensi perpindahan tangan kepemilikan aset terjadi sebanyak 188.300 kali transaksi oleh para trader. Sebanyak 376 saham berhasil terbang tinggi menikmati atmosfer keuntungan hijau yang sangat menyegarkan. Sementara 192 saham terpaksa menelan pil pahit akibat terjerembap masuk zona merah merona.
Sisanya sebanyak 391 emiten memilih jalan ninja dengan bertahan di posisi stagnan tanpa pergerakan. Nilai total kapitalisasi pasar bursa saham Indonesia kini perkasa menyentuh angka Rp10.651 triliun. Angka raksasa tersebut menjadi bukti nyata kekuatan ekonomi domestik masih sangat menjaga kokoh.
Momentum kebangkitan bursa saham seolah menjadi oase penyejuk setelah pekan lalu dihantam badai. Para investor kini bisa sedikit tersenyum lebar melihat saldo akun sekuritas kembali berwarna hijau.
Namun, kebahagiaan ini diprediksi berjalan sangat pendek karena terpotong oleh agenda libur hari besar. Pekan balapan saham hanya akan berlangsung efektif selama tiga hari perdagangan aktif saja. Hari Rabu dan Kamis besok pasar tutup total menyambut datangnya perayaan Idul Adha.
Para pelaku pasar modal wajib hukumnya mencermati berbagai macam sentimen ekonomi luar negeri. Fokus utama dunia internasional masih tertuju pada perkembangan konflik Iran yang kian memanas. Amerika Serikat dikabarkan mulai membuka jalan damai untuk meredakan ketegangan wilayah Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan jalur laut strategis tersebut harus bebas dari hambatan. Selat Hormuz merupakan urat nadi penting yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak bumi. Kabar perdamaian ini langsung disambut sorak-sorai gembira oleh para pelaku industri energi.
Sentimen positif global tersebut sukses membuat bursa saham wilayah Asia kompak ikut menghijau hari ini. Indeks Nikkei 225 Jepang melompat sangat tinggi hingga mencapai level tertinggi baru pagi ini. Penguatan serupa juga melanda bursa saham Hang Seng Hong Kong serta Shanghai Composite China.
Mata uang rupiah terpantau bergerak sangat tenang tanpa ada guncangan berarti terhadap dolar. Nilai tukar mata uang Garuda terhadap dolar Amerika berada pada level Rp17.712. Stabilitas nilai tukar menjadi benteng pertahanan krusial bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan.
Sayangnya, kabar kurang sedap datang dari pengumuman evaluasi indeks global bergengsi FTSE Russell. Empat emiten asal Indonesia resmi ditendang keluar dari daftar keanggotaan indeks saham internasional. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk alias DSSA terdepak dari kategori berbobot besar.
Kategori mikro juga kehilangan tiga emiten sekaligus yaitu saham DAAZ, HILL, dan juga MLIA. Keputusan pahit ini akan mulai berlaku efektif pada hari Senin tanggal 22 Juni. Sentimen negatif tersebut memicu kekhawatiran terjadinya aksi jual massal oleh para investor asing.
Kondisi pasar modal makin penuh dinamika akibat rencana besar pembentukan Badan Ekspor Tunggal. Pemerintah berencana menyerahkan seluruh kendali penjualan komoditas strategis ke tangan badan usaha milik negara. PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI ditunjuk menjadi pelaksana tunggal ekspor komoditas nasional.
Mekanisme baru ini sedianya akan mulai diterapkan secara penuh pada tanggal 1 Januari 2027. Kebijakan radikal tersebut sengaja dibuat demi memperkuat pengawasan devisa hasil ekspor komoditas andalan. Dampak aturan baru ini sangat memengaruhi psikologis para pemilik saham sektor pertambangan batu bara.
Saham unggulan PT Merdeka Copper Gold Tbk alias MDKA memimpin rombongan penguatan indeks LQ45. Harga saham produsen emas tersebut melesat naik sebesar 3,31 persen ke level 2.810. Keberhasilan ini langsung diikuti oleh saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk yang ikut meroket.
Saham sejuta umat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI tak mau ketinggalan berpesta. Harga saham bank pelat merah tersebut menguat hampir dua persen menuju level 3.110 per lembar. Investor domestik terlihat sangat agresif mengoleksi saham perbankan berkapitalisasi besar ini sejak pagi.
Nasib apes justru menimpa saham milik konglomerat kondang PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk alias CUAN. Saham emiten infrastruktur tambang tersebut merosot tajam hingga menyentuh batas penurunan harian terdalam sekali. Kejatuhan harga saham CUAN menguapkan potensi keuntungan ratusan miliar rupiah milik para investor.
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC ikut ambruk sebesar 6,34 persen sore. Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama rontoknya harga saham perusahaan energi swasta. Para pemburu saham komoditas terpaksa gigit jari melihat portofolio mereka mendadak merah membara kembali.
Emiten batu bara legendaris PT Bumi Resources Tbk juga ikut terseret ke dalam zona pelemahan. Harga saham bersandi BUMI terpangkas 3,78 persen hingga terdampar pada level 178 rupiah per lembar. Aksi ambil untung oleh sebagian trader lokal mempercepat kejatuhan harga saham batu bara.
Indeks Jakarta Islamic Index atau JII justru bergerak melawan arus dengan berakhir di zona merah. Indeks saham syariah melemah 0,69 persen akibat rontoknya beberapa saham berbasis komoditas perkebunan sawit. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan bahwa rotasi sektor saham sedang terjadi sangat cepat.
Perusahaan sekuritas terkemuka BRI Danareksa merekomendasikan beberapa saham pilihan utama untuk perdagangan harian. Saham CPIN, HRTA, dan ESSA dinilai memiliki potensi besar untuk mencetak keuntungan bagi para investor. Analisis teknikal menunjukkan bahwa ketiga emiten tersebut sedang berada dalam fase akumulasi harga.
Sementara Panin Sekuritas lebih menjagokan saham IMPC, NCKL, dan PTRO sebagai mesin pencetak uang baru. Ketiga saham pilihan tersebut dinilai memiliki ketahanan fundamental yang sangat kuat menghadapi fluktuasi pasar. Investor disarankan melakukan strategi belanja secara bertahap demi meminimalkan risiko kerugian investasi modal.
Kesimpulan akhir pergerakan pasar saham Indonesia hari ini sangat menarik dan penuh drama. Pasar saham daratan menguat terbatas, sedangkan pasar global sedang menanti kepastian kesepakatan damai dunia. Selalu pantau pergerakan harga saham terkini lewat aplikasi resmi demi mengamankan keuntungan investasi berharga. R-02

