Air Mata Mohamed Salah di Anfield! Perpisahan yang Bikin Liverpool Terguncang
Mohamed Salah menangis ketika pamit kepada fans Liverpool seusai ditahan imbang 1-1 kontra Brentford (Getty Images)
INGGRIS, SabangMerauke News - Malam di Anfield tidak terasa seperti pertandingan biasa. Lampu stadion tetap terang, tapi suasananya pelan-pelan berubah jadi panggung perpisahan. Mohamed Salah berjalan ke arah pinggir lapangan dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.
Mohamed Salah menutup perjalanannya bersama Liverpool saat menghadapi Brentford pada Senin dini hari, 25 Mei 2026. Laga itu berakhir 1-1, namun skor bukan cerita utama malam itu. Semua mata tertuju pada satu sosok yang bersiap meninggalkan klub setelah sembilan musim penuh cerita.
Sebelum peluit akhir, Salah sempat memberi satu momen terakhir. Sebuah assist untuk gol Curtis Jones yang membantu Liverpool mengamankan tiket Liga Champions musim depan. Seakan ia tidak ingin pergi tanpa meninggalkan satu jejak lagi di Anfield.
Saat namanya dipanggil keluar pada menit ke-74, stadion langsung berdiri. Tepuk tangan panjang mengalir dari tribun Kop hingga seluruh sudut stadion. Salah berjalan pelan, lalu berhenti sejenak sebelum bersujud dan mencium rumput Anfield untuk terakhir kalinya.
Rekan-rekan setim langsung menghampiri. Pelukan datang satu per satu, tanpa banyak kata. Momen itu seperti adegan perpisahan yang sudah ditulis jauh sebelum pertandingan dimulai.
Sebelum laga, suasana sudah terasa berbeda. Tribun Kop membentangkan mosaik bertuliskan “Mo 11”. Nama Salah terus bergema, seperti ingin menahan waktu agar tidak cepat berakhir.
Di ruang ganti, emosi itu ternyata sudah muncul lebih dulu. Salah mengaku beberapa kali menangis sebelum laga terakhir. Bahkan saat latihan, suasana perpisahan sudah terasa berat.
“Saya banyak menangis,” kata Salah. “Lebih banyak daripada sepanjang hidup saya,” lanjutnya. Kalimat itu keluar dengan nada pelan, seperti masih menahan sisa emosi.
Ia juga mengakui tidak biasa terlihat emosional di depan publik. Selama ini, Salah dikenal tenang, fokus, dan agresif di lapangan. Namun, di balik itu, perpisahan ini menyentuh sisi lain dirinya.
“Saya bukan tipe yang sering terlihat emosional,” ujar Salah. “Tapi di dalam diri, semua terasa sangat berat,” tambahnya. Kalimat itu seperti membuka sisi manusiawi dari seorang mesin gol.
Perpisahan ini juga menandai akhir perjalanan Andrew Robertson di Liverpool. Dua nama besar era modern The Reds itu meninggalkan klub bersamaan, menutup satu bab panjang yang penuh trofi dan drama.
Salah menyebut perjalanan mereka bukan sekadar soal kemenangan. Lebih dari itu, ada cerita tentang membangun ulang identitas Liverpool. Dari masa sulit hingga kembali bersaing di level tertinggi Eropa.
“Kami datang saat klub belum di posisi sekarang,” ujar Salah. “Kami membangun semuanya bersama,” lanjutnya. Kalimat itu terdengar seperti rangkuman satu era panjang di Anfield.
Ia juga menitipkan pesan untuk pemain yang masih bertahan. Menurutnya, Liverpool bukan hanya soal bakat, tetapi soal kerja keras tanpa henti. Suporter di Anfield hanya peduli pada usaha maksimal di lapangan.
“Fans di sini tidak peduli hanya pada hasil,” kata Salah. “Selama pemain berjuang sampai akhir, mereka akan mencintai kalian,” lanjutnya. Pesan itu terdengar seperti warisan terakhir yang ia tinggalkan.
Di atas lapangan, Liverpool menutup musim dengan hasil imbang 1-1. Hasil itu cukup untuk mengamankan posisi kelima Premier League dan tiket Liga Champions. Namun, tidak ada yang terlalu merayakan skor malam itu.
Semua perhatian tertuju pada perpisahan. Salah berdiri di tengah lapangan, menerima tepuk tangan yang tidak kunjung berhenti. Stadion enggan melepas sosok yang sudah menjadi wajah Liverpool selama hampir satu dekade.
Secara statistik, perjalanannya luar biasa. Ia mencetak ratusan gol, memberikan ratusan kontribusi, dan membawa Liverpool meraih banyak trofi. Termasuk Premier League dan Liga Champions yang menjadi puncak kejayaan klub.
Namun di malam itu, angka-angka terasa tidak terlalu penting. Yang tersisa hanya rasa kehilangan dan penghormatan. Suporter tahu, mereka baru saja menyaksikan akhir dari sebuah era.
Salah sendiri tidak menyimpan banyak penyesalan. Ia merasa semua target sudah tercapai bersama Liverpool. Dari trofi besar hingga momen pribadi yang tak terlupakan.
“Kalau ditanya ingin lebih, mungkin tidak,” ujarnya. “Kami sudah memenangkan hampir semuanya,” tambahnya. Kalimat itu terdengar tenang, seperti seseorang yang sudah selesai dengan perjalanannya.
Meski begitu, pintu kembali ke Anfield tidak sepenuhnya tertutup. Salah masih menyimpan harapan untuk suatu hari kembali. Namun, untuk saat ini, semuanya masih terlalu emosional untuk dibicarakan jauh ke depan.
“Saya ingin kembali suatu hari nanti,” kata Salah. “Tapi sekarang masih terlalu sulit,” lanjutnya. Kalimat itu seperti jeda panjang dalam sebuah cerita besar.
Saat malam semakin larut, stadion perlahan kosong. Namun, nama Salah masih terus terdengar di antara nyanyian suporter yang tersisa. Seakan Anfield belum siap benar-benar melepasnya.
Liverpool kini memasuki bab baru tanpa salah satu ikon terbesarnya. Tantangan besar menanti untuk menjaga standar tinggi yang sudah dibangun. Namun, satu hal jelas: jejak Mohamed Salah di Anfield tidak akan mudah dihapus. R-02

