Kabar Buruk! Pekan Depan Rupiah Diproyeksi Makin Tertekan Rp 18 Ribu per Dollar AS
Nilai tukar rupiah diproyeksikan menghadapi tekanan berat sepanjang pekan depan. Analis mata uang memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dollar AS. Foto : AI
RIAU, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah diproyeksikan menghadapi tekanan berat sepanjang pekan depan. Analis mata uang memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dollar AS. Penguatan dollar Amerika Serikat menjadi faktor dominan pelemahan mata uang negara berkembang.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperingatkan tekanan rupiah masih sangat besar. Faktor eksternal dinilai terus menekan pergerakan mata uang Garuda sepanjang perdagangan global. Situasi tersebut diperkirakan berlangsung hingga akhir Mei 2026 mendatang.
“Untuk rupiah sendiri, ada kemungkinan besar menuju level Rp18.000 per dollar AS,” ujar Ibrahim. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan saat membahas proyeksi pasar keuangan nasional. Pelemahan rupiah dinilai sulit dihindari selama dollar AS terus menguat.
Menurut Ibrahim, indeks dollar Amerika Serikat diperkirakan bergerak pada rentang 97,600 hingga 101,00. Area tersebut menandakan penguatan dollar AS masih berpeluang berlanjut beberapa pekan mendatang. Kondisi tersebut otomatis memberi tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang.
“Kemungkinan besar support berada pada level 97.600 dan resistance mencapai 101.00,” jelas Ibrahim. Ia menilai pola penguatan dollar AS masih sama seperti pekan-pekan perdagangan sebelumnya. Arus modal asing diperkirakan kembali bergerak menuju aset berbasis dollar Amerika Serikat.
Penguatan dollar AS biasanya membuat investor global meninggalkan aset negara berkembang sementara waktu. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan besar terhadap pasar obligasi dan mata uang domestik Indonesia. Rupiah akhirnya bergerak melemah mengikuti ketidakpastian pasar internasional berkepanjangan.
Pada penutupan perdagangan Jumat, rupiah kembali terdepresiasi cukup dalam terhadap dollar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup melemah 50 poin menuju level Rp17.717 per dollar AS. Angka tersebut memperlihatkan tekanan pasar masih belum mereda hingga akhir pekan.
Ibrahim menilai pelemahan rupiah berasal dari kombinasi faktor internal dan eksternal sekaligus. Salah satu perhatian pasar internasional tertuju pada pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI. Pidato tersebut membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.
Pasar global menyoroti rencana pembentukan badan ekspor komoditas nasional satu pintu Indonesia. Lembaga pemeringkat internasional mulai menilai dampak kebijakan tersebut terhadap ekonomi nasional mendatang. Sorotan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek investasi Indonesia.
S&P Global Ratings menilai kebijakan ekspor terpusat berpotensi menekan penerimaan negara Indonesia. Sistem tersebut dinilai dapat mengganggu ekspor komoditas dan memperbesar risiko neraca pembayaran nasional. Ketidakpastian tersebut akhirnya memicu tekanan tambahan terhadap kurs rupiah.
Dalam laporan dikutip Reuters, S&P menyoroti risiko penurunan peringkat kredit Indonesia mendatang. Lembaga tersebut menilai ketidakpastian fiskal berpotensi memperbesar downside risk ekonomi nasional. Kondisi tersebut membuat investor asing semakin berhati-hati menempatkan dana investasi jangka panjang.
Rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI juga menjadi perhatian besar pasar. Perusahaan tersebut dirancang membeli seluruh komoditas ekspor nasional sebelum dijual ke luar negeri. Batu bara, minyak sawit, serta fero alloy menjadi komoditas awal sistem ekspor tersebut.
“Nah secara internal pidato Presiden kemarin direview pemeringkat internasional seperti S&P Global,” kata Ibrahim. Ia menilai risiko penurunan rating Indonesia semakin terbuka akibat tekanan fiskal nasional. Pelebaran defisit mendekati tiga persen dianggap memicu kekhawatiran pasar internasional.
Menurut Ibrahim, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 hingga 6 persen terlalu optimistis. Kondisi ekonomi global dinilai masih penuh tekanan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan internasional. Situasi tersebut diperkirakan belum membaik hingga memasuki tahun 2027 mendatang.
Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, rupiah tetap melemah. Kondisi tersebut memperlihatkan pertumbuhan ekonomi domestik belum cukup menenangkan pasar global. Investor masih memprioritaskan keamanan aset berbasis dollar Amerika Serikat sementara waktu.
Bank Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah nasional. Pemerintah juga menjalankan operasi pasar melalui penjualan surat utang negara dalam jumlah besar. Namun tekanan global membuat seluruh langkah tersebut belum menghasilkan penguatan signifikan.
“Segala cara sudah dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah, tetapi rupiah belum mampu menguat,” ujar Ibrahim. Penjualan surat utang negara mencapai Rp2 triliun hingga Rp4 triliun terus dilakukan pemerintah. Pasar tetap merespons negatif akibat tekanan eksternal semakin meningkat.
Selain faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik global turut memperburuk tekanan terhadap kurs rupiah nasional. Perundingan perdamaian Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi hambatan serius hingga akhir Mei 2026. Investor global meragukan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Masalah program nuklir Iran menjadi isu utama memicu ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar energi internasional akibat meningkatnya risiko konflik terbuka. Ketidakpastian tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak memperbesar ancaman inflasi global dan memperketat kebijakan moneter dunia internasional. Bank sentral negara maju diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun berjalan mendatang. Situasi tersebut kembali menguntungkan dollar AS dibanding mata uang negara berkembang.
Ibrahim memperkirakan Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga hingga 50 basis points. Langkah tersebut ditempuh apabila tekanan inflasi global terus meningkat sepanjang semester kedua 2026. Kebijakan moneter ketat Amerika Serikat dipastikan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.
Pengangkatan pejabat baru bank sentral Amerika Serikat juga diperkirakan tidak mengubah arah kebijakan moneter. Fokus utama The Fed tetap mengendalikan inflasi global menggunakan kebijakan suku bunga tinggi. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan bertahan beberapa bulan mendatang.
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global. Stabilitas rupiah menjadi perhatian utama investor menjelang pertengahan tahun 2026 mendatang. Ancaman rupiah menuju Rp18.000 per dollar AS semakin menjadi sorotan pasar nasional.(R-03)

