Trump Diserang Lagi, Rentetan Tembakan Memaksa Gedung Putih Lockdown
Petugas dari Secret Service berjaga di depan Gedung Putih usai aksi penembakan pada Sabtu malam, 23 Mei 2026. (sumber: antarafoto)
AMERIKA SERIKAT, SabangMerauke News - Washington DC mendadak gempar setelah penembakan brutal pecah dekat Gedung Putih Sabtu malam, 23 Mei 2026. Donald Trump berada di dalam White House saat suara tembakan memecah pusat kota Amerika Serikat. Secret Service langsung membalas tembakan dan melumpuhkan pelaku hanya beberapa meter dari perimeter keamanan presiden.
Suasana Washington berubah seperti film aksi mendadak tanpa aba-aba. Polisi federal, Secret Service, FBI, hingga Garda Nasional memenuhi jalan utama dekat Gedung Putih. Lampu sirene memantul ke gedung-gedung tua ibu kota Amerika sepanjang malam.
Kepala Komunikasi Secret Service, Anthony Guglielmi, memastikan Trump tetap aman selama insiden berlangsung. Ia mengatakan aparat bergerak cepat setelah pelaku mengeluarkan senjata dari dalam tas. Tembakan pertama terdengar sekitar pukul 18.00 waktu setempat.
“Petugas membalas tembakan dan mengenai tersangka,” ujar Anthony Guglielmi, Kepala Komunikasi Secret Service Amerika Serikat, Minggu, 24 Mei 2026.
Pelaku sempat dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Aparat juga menemukan seorang warga sipil terkena peluru saat baku tembak berlangsung. Hingga Minggu pagi, kondisi korban sipil masih kritis.
Insiden berdarah itu terjadi di kawasan 17th Street dan Pennsylvania Avenue NW. Lokasi tersebut hanya berjarak sekitar satu blok dari Gedung Putih. Area itu biasanya dipenuhi wisatawan, jurnalis, dan pegawai pemerintahan.
Malam itu suasana sebenarnya terlihat biasa saja sebelum rentetan tembakan mendadak terdengar. Beberapa wartawan bahkan sedang meninggalkan kompleks Gedung Putih setelah agenda harian Trump selesai. Namun, suasana langsung berubah kacau hanya dalam hitungan detik.
Orang-orang spontan tiarap dan berlari mencari perlindungan. Beberapa turis bersembunyi di balik pagar pembatas jalan. Polisi berteriak meminta warga menjauh dari lokasi. “Kami mendengar sekitar 20 sampai 25 suara seperti kembang api,” ujar Reid Adrian, wisatawan asal Kanada, Minggu, 24 Mei 2026.
Reid awalnya mengira suara tersebut berasal dari pesta akhir pekan di pusat kota. Namun, kerumunan mendadak panik dan berhamburan ke berbagai arah. Sirene polisi langsung memenuhi udara Washington.
Secret Service bergerak cepat menutup akses menuju kawasan Gedung Putih. Jurnalis di halaman utara White House diperintahkan untuk masuk ke ruang konferensi pers. Area pers bahkan sempat dikunci hampir 40 menit.
Koresponden ABC News, Selina Wang, ikut merasakan kepanikan malam itu. Ia sedang merekam video media sosial ketika suara tembakan terdengar keras berulang kali. Selina langsung menjatuhkan badan ke tanah demi berlindung. “Suara tembakan terdengar seperti puluhan letusan,” tulis Selina Wang melalui akun media sosial X.
Petugas Secret Service bersenjata laras panjang terlihat berjaga di halaman Gedung Putih. Garda Nasional ikut menutup sejumlah akses jalan utama di Washington. Kendaraan lapis baja tampak masuk ke area perimeter keamanan.
FBI langsung turun membantu penyelidikan malam itu. Kepala FBI Kash Patel mengatakan investigasi dilakukan bersama Secret Service. Aparat masih mendalami motif penembakan tersebut. “FBI berada di lokasi dan membantu respons keamanan,” ujar Kash Patel, Direktur FBI Amerika Serikat.
Tak lama setelah identitas pelaku diumumkan, publik Amerika kembali terkejut. Penembak diketahui bernama Nasire Best, pria 21 tahun asal Amerika Serikat. Nama itu ternyata sudah pernah masuk radar Secret Service sebelumnya.
Menurut laporan CBS yang dikutip BBC, Nasire Best pernah ditangkap pada Juli 2025. Saat itu ia mencoba mendekati area Gedung Putih secara mencurigakan. Aparat kemudian membawanya ke fasilitas kesehatan jiwa.
Catatan itu membuat publik kembali mempertanyakan sistem keamanan Washington. Banyak warga menilai ancaman terhadap Trump semakin sering muncul dalam dua tahun terakhir. Situasi politik Amerika juga makin panas menjelang pemilu berikutnya.
Secret Service mengungkap pelaku sempat mendapat perintah untuk menjauh dari area tertentu. Aparat juga menyebut pelaku memiliki riwayat gangguan emosional. Namun, investigasi lengkap masih berlangsung hingga sekarang. “Pelaku pernah mendapat stay-away order sebelumnya,” ujar pejabat penegak hukum.
Meski pelaku gagal menembus perimeter Gedung Putih, insiden itu tetap memicu ketegangan nasional. Trump kembali menjadi sorotan setelah beberapa kali lolos dari ancaman serius. Pengamanan presiden kini dipastikan makin diperketat.
Sebelumnya, Trump pernah terluka ringan saat kampanye di Butler, Pennsylvania, pada Juli 2024. Saat itu, seorang pria bersenjata menembak ke arah panggung kampanye. Peluru sempat mengenai telinga kanan Trump.
Satu pendukung Trump tewas dalam insiden tersebut. Amerika langsung geger dan keamanan kampanye presiden diperketat besar-besaran. Namun, ancaman ternyata belum berhenti sampai situ.
Beberapa bulan kemudian, aparat kembali menangkap pria bersenjata di dekat lapangan golf Trump di Florida. Pelaku membawa senapan saat Trump bermain golf bersama koleganya. Secret Service berhasil menggagalkan aksi sebelum terjadi serangan.
Awal April 2026, pria lain juga mencoba menerobos pengamanan hotel di lokasi acara Trump. Aparat langsung menangkap pelaku sebelum berhasil mendekat ke area utama. Rentetan ancaman itu membuat Washington semakin sensitif terhadap keamanan presiden.
Malam penembakan dekat Gedung Putih kembali membuktikan ketegangan belum berakhir. Politikus Partai Republik langsung mengecam aksi kekerasan tersebut. Mereka meminta aparat memperkuat pengamanan nasional. “Kekerasan politik harus dihentikan,” tulis sejumlah anggota Partai Republik melalui media sosial X.
Sementara itu, warga Washington masih membicarakan malam mencekam tersebut hingga Minggu pagi. Banyak restoran dan toko di sekitar lokasi memilih untuk tutup lebih cepat. Jalan-jalan utama juga masih dijaga aparat bersenjata lengkap.
Suasana White House sebenarnya sempat terlihat tenang sebelum kejadian berlangsung. Gedung Putih bahkan sudah mengumumkan press lid sekitar pukul 17.06 waktu setempat. Artinya tidak ada agenda publik tambahan dari Presiden Trump malam itu.
Namun, satu jam kemudian, suara tembakan mendadak mengubah segalanya. Wartawan yang baru keluar kompleks White House langsung kembali berlari masuk. Beberapa kamera televisi nasional merekam suasana panik di sekitar lokasi.
Video-video amatir juga langsung menyebar di media sosial. Suara letusan terdengar keras bersahutan di pusat kota Washington. Banyak warga awalnya mengira ada pesta kembang api.
Namun, suara sirene dan aparat bersenjata segera menjelaskan situasi sebenarnya. Polisi federal mengevakuasi warga dari trotoar sekitar Gedung Putih. Area wisata langsung berubah seperti zona darurat.
Meski situasi kini terkendali, penyelidikan besar masih berlangsung. FBI dan Secret Service memeriksa rekaman CCTV, saksi mata, serta riwayat pelaku. Aparat ingin memastikan tidak ada jaringan lain yang terlibat.
Donald Trump sendiri belum memberikan pernyataan panjang terkait insiden tersebut. Namun, Gedung Putih memastikan presiden tetap menjalankan agenda internal secara normal. Pengamanan tambahan langsung diterapkan sepanjang akhir pekan.
Insiden ini kembali memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan politik Amerika saat ini. Gedung Putih memang berdiri kokoh di pusat Washington. Namun, malam itu, suara tembakan kembali membuat jantung Amerika berdegup lebih keras dari biasanya. R-02

