Ebola Mengganas di Afrika, Kemenkes RI Siaga Penuh Cegah Virus Masuk Indonesia
WHO telah menetapkan wabah Ebola di Kongo sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC). (reuters)
JAKARTA, SabangMerauke News - Dunia kembali dibuat tegang setelah virus Ebola mengganas di Afrika Tengah sepanjang Mei 2026. WHO langsung menetapkan status darurat kesehatan global demi mencegah penyebaran semakin luas. Indonesia pun bergerak cepat memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk internasional.
Kementerian Kesehatan RI memastikan sampai Jumat, 22 Mei 2026, belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Meski situasi nasional masih aman, kewaspadaan mulai ditingkatkan di bandara dan pelabuhan internasional. Petugas kesehatan kini terlihat lebih aktif memantau penumpang dari luar negeri.
“Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan memperkuat pengawasan,” ujar Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman.
Suasana bandara internasional kini terasa sedikit berbeda dibandingkan biasanya. Penumpang internasional menjalani pemeriksaan kesehatan lebih ketat sebelum memasuki wilayah Indonesia. Petugas kesehatan juga disiagakan penuh selama 24 jam menghadapi kemungkinan terburuk.
Langkah cepat itu muncul setelah WHO menetapkan Ebola sebagai Public Health Emergency of International Concern atau PHEIC. Status tersebut diumumkan sejak Minggu, 17 Mei 2026, setelah kasus Ebola melonjak di Republik Demokratik Kongo. Penyebaran virus mulai mengkhawatirkan karena bergerak lintas wilayah.
Virus Ebola kali ini berasal dari jenis Bundibugyo Virus Disease atau BVD. Jenis tersebut cukup berbahaya karena belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang tersedia luas. Situasi itu membuat banyak negara langsung memperketat pengawasan kesehatan nasional.
Data terbaru menunjukkan wabah Ebola di Kongo terus bertambah setiap harinya. Hingga Jumat, 22 Mei 2026, tercatat 543 kasus suspek dengan 136 korban meninggal dunia. Sebanyak 32 kasus sudah terkonfirmasi positif Ebola strain Bundibugyo.
Menteri Kesehatan Kongo, Roger Kamba, mengaku sumber awal wabah masih belum diketahui hingga sekarang. Tim kesehatan internasional juga masih mencari pasien pertama penyebaran virus mematikan tersebut. Kondisi fasilitas kesehatan yang terbatas ikut memperumit penanganan wabah. “Investigasi masih berlangsung dan sumber awal wabah belum ditemukan,” kata Roger Kamba.
Di wilayah Bunia, suasana mulai dipenuhi kecemasan warga sejak wabah menyebar luas. Rumah sakit dipadati pasien dengan gejala demam, tubuh lemas, dan muntah berkepanjangan. WHO juga mulai melakukan pelacakan ketat terhadap warga yang sempat kontak langsung dengan pasien.
Virus Ebola dikenal sangat mematikan dan menyebar melalui cairan tubuh penderita. Darah, muntahan, keringat, hingga benda terkontaminasi bisa menjadi jalur penularan virus tersebut. Penyakit ini juga dapat menular melalui luka terbuka maupun selaput lendir tubuh. “Ebola memiliki tingkat fatalitas sangat tinggi,” ujar Aji Muhawarman.
Gejala Ebola biasanya muncul mendadak setelah masa inkubasi dua hingga 21 hari. Pasien awalnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas. Kondisi kemudian berkembang menjadi muntah, diare, hingga perdarahan serius.
Meski terdengar mengerikan, Kemenkes meminta masyarakat Indonesia tetap tenang menghadapi situasi tersebut. Pemerintah memastikan sistem kesehatan nasional masih terkendali dan siap menghadapi ancaman Ebola. Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 juga menjadi modal penting saat ini.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menyebut kemampuan diagnosis Indonesia kini jauh lebih baik. Laboratorium nasional juga disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat jika ditemukan kasus mencurigakan.
Seluruh Balai Kekarantinaan Kesehatan diperintahkan untuk meningkatkan pengawasan. “Kemampuan diagnosis Indonesia sudah cukup siap menghadapi Ebola,” ujar Dante Saksono Harbuwono, Jumat, 22 Mei 2026.
Di sejumlah bandara, petugas kesehatan mulai aktif memantau kondisi penumpang internasional. Penumpang dari negara terdampak mendapat perhatian lebih ketat selama pemeriksaan berlangsung. Sistem pemantauan kesehatan juga berjalan selama 24 jam penuh.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya kabar liar di media sosial. Informasi palsu dinilai dapat memicu kepanikan dan memperkeruh suasana masyarakat. Edukasi kesehatan dinilai jauh lebih penting dibanding menyebarkan ketakutan. “Langkah terbaik tetap menjaga kebersihan dan hidup sehat setiap hari,” kata Aji Muhawarman.
Masyarakat diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah. Penggunaan masker dianjurkan saat kondisi tubuh kurang sehat atau mengalami gejala flu ringan. Kontak langsung dengan orang sakit juga perlu dihindari sementara waktu.
Kemenkes memberi perhatian khusus kepada warga Indonesia yang baru pulang dari negara terdampak Ebola. Mereka diminta segera memeriksakan diri jika mengalami demam dalam 21 hari setelah perjalanan. Riwayat perjalanan juga wajib disampaikan secara jujur kepada tenaga kesehatan.
Suasana dunia memang belum benar-benar tenang setelah pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Kini Ebola kembali muncul dan membuat banyak negara memperketat sistem kewaspadaan kesehatan nasional. Indonesia memilih bergerak cepat agar ancaman tersebut tidak berkembang menjadi masalah besar.
Aktivitas masyarakat Indonesia sendiri masih berjalan normal seperti biasa setiap harinya. Bandara tetap ramai, pelabuhan masih sibuk, dan penerbangan internasional terus beroperasi lancar. Namun, kali ini, kewaspadaan menjadi teman baru di setiap pintu masuk negeri. R-02

