Tragis! Satpam MBG Korban Begal Dipulangkan Rumah Sakit Karena Tak Punya Biaya Operasi
Guntur Sudoro (41) sedang terbaring di RSUD Pirngadi, Kota Medan pada Selasa (19/5/2026). (sumber: kompas.com)
SUMUT, SabangMerauke News – Malam itu Guntur Sugoro cuma ingin mencari pinjaman uang Rp200 ribu. Uang itu rencananya dipakai membeli makan sambil menunggu gaji turun. Namun, perjalanan singkat menuju rumah temannya berubah seperti adegan film kriminal jalanan.
Pria 41 tahun tersebut kini harus hidup dengan peluru bersarang di punggungnya. Satpam dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG itu bahkan pulang dari rumah sakit karena tak sanggup membayar biaya operasi puluhan juta rupiah.
Cerita pahit Guntur mendadak menyita perhatian warga Sumatera Utara sejak Jumat, 23 Mei 2026. Kisahnya terasa sesak karena luka tembak datang saat hidup sedang seret-seretnya. Korban begal itu kini menahan nyeri sambil berharap bantuan segera datang. “Saya cuma mau pinjam uang buat makan,” kata Guntur Sugoro, Kamis, 21 Mei 2026.
Malam Senin, 11 Mei 2026, jalanan di Kecamatan Percut Sei Tuan sebenarnya terlihat biasa saja. Lampu kendaraan masih berlalu-lalang meski suasana mulai sepi. Guntur mengendarai sepeda motor dari rumahnya menuju Desa Saentis, Deli Serdang.
Namun, saat melintas di Jalan Pasaribu, situasi mendadak berubah mencekam. Dua sepeda motor berisi lima pria tiba-tiba memepet korban. Jalan yang tadi terasa biasa mendadak berubah seperti jebakan gelap tengah malam.
Guntur sempat mempertahankan motornya ketika para pelaku mulai menyerang. Punggungnya disabet menggunakan senjata tajam saat mencoba melawan. Beberapa detik kemudian, suara tembakan memecah suasana malam. “Saya dihadang terus mereka menyerang,” ujar Guntur.
Peluru dari senjata api rakitan menembus bagian punggung korban. Tubuhnya langsung lemas sebelum akhirnya jatuh di pinggir jalan. Kawanan begal itu kabur meninggalkan Guntur yang menahan sakit sendirian.
Warga sekitar kemudian membantu membawa korban ke RSUD Pirngadi Medan. Sejak malam kejadian, Guntur menjalani perawatan intensif akibat luka tembak tersebut. Dokter menemukan peluru masih tertinggal di tubuhnya.
Hari demi hari berlalu pelan seperti jarum jam rusak. Luka luar di punggung Guntur mulai membaik setelah perawatan beberapa hari. Namun, benda kecil berbahan timah itu masih bersarang di tubuhnya.
Dokter sebenarnya menyarankan operasi pengangkatan peluru. Biaya tindakan medis tersebut diperkirakan mencapai Rp60 juta hingga Rp100 juta. Angka itu terasa seperti gunung tinggi bagi pria bergaji harian Rp100 ribu.
Guntur baru dua bulan bekerja sebagai satpam dapur MBG. Ironisnya, gaji pun belum diterima sepenuhnya sejak mulai bekerja. Karena kondisi ekonomi sulit, operasi pengangkatan peluru akhirnya tertunda. “Saya enggak punya biaya operasi,” kata Guntur pelan.
Pada Selasa, 19 Mei 2026, rumah sakit memperbolehkan korban pulang. Dokter memastikan kondisi Guntur cukup stabil meski peluru masih tertinggal di tubuhnya. Ia hanya diminta rutin kontrol untuk mencegah infeksi.
Meski sudah berada di rumah, rasa sakit belum benar-benar pergi. Bagian punggung terasa mengganjal setiap bergerak atau bernapas panjang. Sesak napas kadang datang terutama saat malam mulai dingin. “Rasanya masih mengganjal terus,” ujar Guntur.
Rumah kecil tempat Guntur tinggal kini terasa lebih sunyi dibanding biasanya. Sesekali pria itu terlihat duduk sambil memegang bagian punggungnya perlahan. Peluru kecil dalam tubuhnya seperti pengingat pahit kerasnya hidup di kota Medan.
Kisah tersebut akhirnya sampai ke telinga Badan Gizi Nasional Sumatera Utara. Kepala BGN Sumut, Agung Kurniawan, langsung bergerak melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pengelola MBG. “Saya berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan dan Kepala SPPG,” kata Agung Kurniawan, Jumat, 23 Mei 2026.
Agung menilai Guntur sebenarnya bisa mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Sebab insiden terjadi saat korban masih berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya. Program MBG disebut sudah memfasilitasi jaminan tenaga kerja bagi relawan dan pegawai. “Harusnya bisa ter-cover BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Agung.
BGN Sumut juga mulai berkomunikasi dengan Polrestabes Medan terkait laporan pembegalan tersebut. Agung berharap proses hukum berjalan cepat sehingga pelaku segera tertangkap. Kasus ini dianggap menyedihkan karena menimpa pekerja kecil. “Kasihan kawan-kawan ini,” ucap Agung.
Di tengah perhatian publik yang terus membesar, Wali Kota Medan Rico Waas ikut turun tangan. Pemerintah Kota Medan mengaku sedang membujuk Guntur agar mau kembali menjalani operasi. “Iya, sedang kami bujuk supaya bisa dioperasi,” kata Rico Waas, Jumat, 22 Mei 2026.
Rico menjelaskan bahwa biaya operasi bisa ditanggung dengan APBD Kota Medan. Bantuan tersebut memakai Peraturan Wali Kota Nomor 26 Tahun 2026 tentang korban kejahatan jalanan. Aturan itu baru mulai diterapkan tahun ini.
Bagi warga Medan, cerita Guntur terasa seperti potret keras kehidupan jalanan. Seorang pekerja malam harus menahan peluru dalam tubuh karena biaya operasi terlalu mahal. Situasi itu membuat banyak warga ikut merasa miris.
Sementara itu, polisi masih memburu lima pelaku pembegalan tersebut. Kasus sudah dilaporkan ke Polrestabes Medan dengan nomor STTLP/B/1962/V/2026. Penyidik kini mengumpulkan rekaman CCTV serta memeriksa saksi sekitar lokasi kejadian.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Adrian Lubis, memastikan penyelidikan terus berjalan. Polisi mencoba mengidentifikasi identitas seluruh pelaku. “Kami masih melakukan penyelidikan,” kata Adrian Lubis.
Kasus begal bersenjata memang kembali membuat warga Medan waswas beberapa bulan terakhir. Jalanan malam sering terasa seperti arena bertahan hidup. Banyak pengendara mulai memilih pulang cepat demi menghindari risiko kejahatan.
Kini Guntur hanya berharap satu hal sederhana. Ia ingin peluru dalam tubuhnya segera diangkat agar bisa kembali hidup normal. Keinginan kecil itu terasa mahal bagi pekerja dengan penghasilan pas-pasan. “Iya, maunya dikeluarkan supaya bisa normal lagi,” ujar Guntur lirih.
Meski rasa sakit belum hilang, harapan perlahan mulai datang mengetuk pintu rumahnya. Dukungan warga, perhatian pemerintah, hingga bantuan BPJS mulai memberi secercah cahaya. Di rumah sederhana itu, Guntur masih bertahan sambil berharap tubuhnya benar-benar sembuh tanpa lagi ditemani peluru di punggungnya. R-02

