Bursa Asia Pesta Hijau, IHSG Malah Tersungkur hingga Nyaris Jebol 5.900
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Layar monitor raksasa di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, terlihat berbeda dari biasanya, Jumat, 22 Mei 2026. Ketika layar serupa di bursa Asia ramai-ramai berwarna hijau, layar di Jakarta malah tampil sendirian dengan warna merah menyala. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan seperti tersandung batu besar di tengah jalan.
Pada pukul 09.10 WIB, IHSG jatuh 117 poin atau turun 2 persen menuju level 5.966. Penurunan itu langsung membuat suasana pasar mendadak tegang sejak pagi hari. Banyak investor terlihat buru-buru melepas saham sebelum tekanan makin dalam.
Yang bikin heran, bursa Asia justru sedang tampil cerah sepanjang pagi. Nikkei Jepang menguat, Hang Seng Hong Kong melonjak, sementara bursa Korea Selatan ikut bergerak hijau. IHSG akhirnya terlihat seperti anak yang salah masuk ke pesta pagi ini.
Volume perdagangan juga langsung ramai sejak menit awal pasar dibuka. Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi mencapai 5,25 miliar saham dengan nilai Rp2,36 triliun. Frekuensi transaksi menyentuh lebih dari 265 ribu kali perdagangan.
Mayoritas saham ikut tumbang tanpa banyak perlawanan. Sebanyak 439 saham melemah, sementara hanya 141 saham berhasil menguat pagi ini. Sisanya memilih diam tanpa banyak bergerak.
Tekanan terbesar datang dari saham energi, barang baku, dan konsumen nonprimer. Sektor-sektor tersebut memang sudah lebih dulu terpukul pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Luka lama itu ternyata masih terasa hingga perdagangan Jumat pagi.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai kondisi pasar sebenarnya cukup aneh pagi ini. Bursa regional sedang menikmati sentimen positif dari perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak dunia juga mulai turun perlahan.
Namun, pasar saham Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Investor terlihat lebih fokus pada sentimen dalam negeri dibandingkan dengan kabar baik global pagi ini. Akibatnya, tekanan jual kembali mendominasi hampir seluruh sektor saham.
“Pasar merespons kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia,” tulis BRI Danareksa Sekuritas, Jumat, 22 Mei 2026. Kalimat itu langsung menggambarkan suasana pasar yang sedang penuh rasa cemas. Investor terlihat belum nyaman menyimpan dana terlalu lama di pasar domestik.
Sorotan terbesar datang dari rencana pemerintah untuk melakukan sentralisasi ekspor komoditas strategis nasional. Nantinya ekspor komoditas akan dipusatkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI. Kebijakan tersebut mulai direncanakan akan berjalan penuh pada Januari 2027 mendatang.
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, mengatakan masa transisi masih diberikan kepada eksportir lama. Skema hybrid juga akan diterapkan sebelum seluruh ekspor berpindah menuju BUMN ekspor nasional tersebut. Namun, pasar ternyata belum sepenuhnya tenang mendengar penjelasan itu.
“Eksportir existing masih diberi waktu penyesuaian sampai akhir 2026,” ujar Budi Santoso di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026. Meski terdengar menenangkan, investor tetap membaca adanya risiko baru bagi iklim investasi. Kekhawatiran itu akhirnya ikut menyeret IHSG semakin dalam.
Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings juga ikut memberi catatan keras terhadap kebijakan tersebut. Mereka menilai sentralisasi ekspor berpotensi memengaruhi penerimaan negara serta neraca pembayaran Indonesia. Komentar itu langsung membuat pasar makin gelisah.
“Ketidakpastian kebijakan dapat meningkatkan risiko terhadap peringkat Indonesia,” tulis S&P Global Ratings dalam laporan terbaru. Kalimat pendek itu seperti bensin yang disiram ke api panas pasar domestik. Investor asing akhirnya memilih menekan tombol jual sejak pagi.
Moody’s juga memberi nada serupa meski dengan bahasa yang lebih halus. Mereka menilai kebijakan tersebut memang bisa memperkuat devisa nasional dalam jangka panjang. Namun, risiko distorsi pasar tetap dianggap perlu diwaspadai.
Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah juga belum benar-benar nyaman. Rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.668 per dolar Amerika Serikat pagi ini. Angka itu membuat pasar saham semakin sensitif terhadap sentimen negatif baru.
Phintraco Sekuritas memperkirakan tekanan IHSG masih belum selesai dalam waktu dekat. Jika tekanan jual terus berlanjut, indeks diperkirakan bisa menguji area psikologis 6.000, bahkan 5.882. Level tersebut kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Minim katalis positif membuat tekanan jual kembali mendominasi,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya. Investor kini terlihat lebih suka menunggu dibandingkan dengan masuk pasar terlalu cepat. Banyak yang memilih duduk tenang sambil melihat arah pasar berikutnya.
CGS International Sekuritas juga melihat tekanan tambahan yang datang dari aksi jual saham keluar dari indeks MSCI. Rebalancing indeks global membuat beberapa saham domestik ramai dilepas oleh investor asing. Situasi tersebut membuat pasar lokal semakin berat bergerak naik.
Meski suasana pasar sedang panas, sejumlah analis masih membagikan saham pilihan perdagangan hari ini. BRI Danareksa merekomendasikan CPIN dan AMRT untuk dicermati investor. Sementara Phintraco menjagokan HMSP, INDF, TINS, WIIM, dan CPIN.
Panin Sekuritas memilih JSMR, TINS, dan INDF sebagai saham menarik saat pasar melemah. Mirae Asset Sekuritas menjagokan PGAS, ULTJ, dan WIIM untuk perdagangan Jumat ini. Sedangkan BNI Sekuritas memasukkan BRPT, WIFI, PTRO, dan JPFA ke daftar pilihan.
Di tengah tekanan pasar domestik, bursa Asia justru tampak santai sepanjang pagi. Hang Seng Hong Kong melesat lebih dari 1 persen, sementara Nikkei Jepang ikut naik stabil. Bursa Singapura hingga Shanghai juga bergerak nyaman di zona hijau.
Kontras itu membuat IHSG terlihat seperti sedang melawan arus sendirian pagi ini. Saat pasar Asia menikmati udara segar, pasar saham Indonesia justru seperti berlari di tengah hujan deras. Investor domestik pun kembali menghadapi Jumat pagi dengan perasaan campur aduk.
Kini pelaku pasar menunggu langkah berikutnya dari pemerintah untuk menenangkan investor. Jika sentimen negatif terus bermunculan, tekanan pasar diperkirakan belum akan selesai dalam waktu dekat. Namun, jika suasana mulai membaik, peluang rebound tetap terbuka perlahan.
Untuk sementara, IHSG masih terlihat berjalan pelan sambil menahan beban berat di pundaknya. Pasar belum benar-benar menemukan alasan kuat untuk kembali percaya diri. Dan pagi ini, warna merah kembali menjadi cerita utama Bursa Efek Indonesia. R-02

