Saham Konglomerat Berguguran, IHSG Sentuh Level Paling Berdarah Sejak April 2025
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG babak belur pada Kamis, 21 Mei 2026. Bursa Indonesia ditutup merah menyala setelah longsor 3,54 persen menuju level 6.094. Rupiah ikut terpeleset mendekati rekor terburuk sepanjang sejarah saat investor ramai-ramai melepas saham unggulan domestik.
Tekanan datang beruntun sejak pagi hingga penutupan perdagangan sore. Bursa Asia justru mayoritas hijau ketika pasar Indonesia seperti kehilangan rem. Sentimen kebijakan pemerintah, rupiah melemah, serta kenaikan BI Rate membuat pelaku pasar mendadak gelisah.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi mencapai Rp18,49 triliun sepanjang perdagangan Kamis sore. Sebanyak 663 saham tumbang, sementara cuma 88 saham berhasil menguat. Sisanya bergerak datar sambil menunggu arah pasar berikutnya.
IHSG sempat bergerak pada rentang 6.378 hingga titik terendah 6.080 sepanjang sesi perdagangan. Tekanan jual terlihat makin brutal menjelang penutupan sesi kedua. Saham-saham berkapitalisasi jumbo jadi korban paling berdarah sepanjang hari.
Saham PT Astra International Tbk atau ASII menjadi pemberat utama laju IHSG hari ini. Disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BRMS serta PT Bayan Resources Tbk atau BYAN. Saham Barito Group juga ikut terseret arus jual besar-besaran.
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC anjlok hingga 14,8 persen sore tadi. Saham PT Darma Henwa Tbk atau DEWA ikut ambruk mencapai 11,6 persen. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN juga terkapar 9,32 persen.
Sektor energi menjadi ladang merah paling dalam sepanjang perdagangan hari ini. Sektor barang baku ikut jatuh bersama saham konsumen nonprimer. Investor seperti mendadak takut memegang saham berbasis komoditas dan sumber daya alam.
Fixed Income and Macro Strategist PT Mega Capital Indonesia, Hendra Wardana, melihat sentimen domestik menjadi pemicu utama kepanikan pasar hari ini. Investor menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI sebagai badan pengatur ekspor SDA nasional.
“Pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait badan pengatur ekspor SDA,” ujar Hendra Wardana, Kamis, 21 Mei 2026.
Hendra menilai pelaku pasar mulai khawatir birokrasi ekspor bakal semakin panjang dan rumit. Kekhawatiran itu membuat saham komoditas langsung dijual besar-besaran sejak pembukaan perdagangan pagi. Investor asing juga terlihat mulai mengurangi eksposur pada pasar Indonesia.
PT Danantara Sumberdaya Indonesia sendiri bakal menjadi pengelola ekspor sejumlah komoditas strategis nasional. Komoditas tersebut meliputi batu bara, crude palm oil atau CPO, hingga ferro alloy. Pemerintah berharap skema baru itu mampu menekan praktik under invoicing ekspor.
Namun, pasar membaca cerita berbeda pada hari pertama pengumuman besar tersebut. Investor takut margin perusahaan bakal terganggu akibat sentralisasi ekspor nasional. Kekhawatiran itu berubah menjadi aksi panic selling hampir sepanjang sesi perdagangan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebut pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan domestik saat ini. Investor mulai khawatir intervensi pemerintah makin dalam terhadap mekanisme bisnis emiten nasional. “Investor khawatir terhadap potensi intervensi lebih besar terhadap mekanisme bisnis emiten komoditas,” kata Alrich Paskalis Tambolang.
Bukan cuma saham, nilai tukar rupiah juga ikut tergelincir cukup dalam pada perdagangan Kamis sore. Rupiah ditutup melemah 0,28 persen menuju Rp17.654 per dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.685 secara intraday.
Posisi tersebut nyaris menyentuh rekor terburuk sepanjang sejarah rupiah pada level Rp17.705 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah membuat sentimen pasar saham semakin kusut sepanjang hari. Investor asing terlihat terus keluar dari aset berisiko domestik.
Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat sudah melemah sekitar 5,5 persen terhadap dolar Amerika Serikat. IHSG bahkan terkoreksi sekitar 29 persen sejak awal tahun berjalan. Yield obligasi pemerintah juga masih bertahan pada level tinggi.
Bank Indonesia sebenarnya sudah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah agresif itu diambil demi menjaga stabilitas rupiah jangka pendek. Namun, pasar membaca kenaikan suku bunga sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “BI Rate naik memang menjaga rupiah, tetapi kurang mendukung narasi pertumbuhan domestik,” tulis Panin Sekuritas dalam riset terbarunya.
Pasar juga menyoroti rencana tambahan royalti serta pungutan sektor komoditas nasional beberapa waktu terakhir. Tekanan itu membuat saham energi dan barang baku semakin terpuruk. Saham pertambangan seperti kehilangan tenaga sejak awal pekan ini.
Analis Phintraco Sekuritas menilai sektor energi terpukul oleh kombinasi sentimen global dan kebijakan domestik terbaru. Harga minyak dunia melemah ketika pasar masih mencerna kebijakan ekspor satu pintu. Situasi tersebut memukul emiten migas dan batu bara sekaligus.
Kebijakan Menteri ESDM terkait kewajiban penyerahan participating interest sebesar 10 persen kepada pemerintah daerah ikut membebani pasar. Investor melihat kebijakan tersebut berpotensi menambah biaya dan ketidakpastian operasional perusahaan migas nasional. “Sentimen negatif datang bertubi-tubi sehingga tekanan jual sulit tertahan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam catatan sore tadi.
Sementara itu, pasar Asia justru bergerak lebih santai sepanjang perdagangan Kamis sore. Bursa Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapura, hingga Thailand berhasil ditutup hijau. IHSG malah menjadi indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia Pasifik.
Indeks Nikkei Jepang melesat lebih dari tiga persen pada penutupan perdagangan hari ini. KOSPI Korea Selatan bahkan melonjak tajam mencapai 8,42 persen. Bursa Taiwan juga berhasil naik 3,37 persen saat IHSG terus tersungkur.
Kondisi tersebut membuat pasar domestik terlihat semakin kontras dibandingkan dengan kawasan regional lainnya. Investor asing mulai memandang Indonesia sebagai pasar dengan risiko kebijakan yang cukup tinggi. Arus modal asing keluar terus mengalir sejak awal tahun.
Hendra Wardana menyebut dana asing keluar dari pasar Indonesia sudah melampaui Rp51 triliun sepanjang 2026. Angka tersebut memperlihatkan kepercayaan investor global sedang terganggu cukup serius.
Pelemahan rupiah memperbesar kekhawatiran terhadap risiko investasi domestik. “Kekhawatiran diperparah oleh pelemahan rupiah dan derasnya arus keluar dana asing,” ujar Hendra Wardana.
Secara teknikal, IHSG juga masih bergerak dalam tren bearish cukup kuat sejak beberapa pekan terakhir. Level psikologis 6.100 akhirnya jebol pada perdagangan Kamis sore. Investor kini mulai menatap area 6.000 sebagai benteng terakhir jangka pendek.
Jika level tersebut kembali runtuh, IHSG berpotensi meluncur menuju area 5.900 dalam waktu dekat. Tekanan jual masih mendominasi hampir seluruh sektor perdagangan domestik. Volume transaksi besar memperlihatkan kepanikan pasar belum benar-benar selesai.
Analis pasar menilai kondisi sekarang lebih dipenuhi sentimen emosional dibanding fundamental perusahaan semata. Investor memilih menyimpan uang tunai sambil menunggu arah kebijakan ekonomi pemerintah berikutnya. Pasar juga masih menanti langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Saham-saham konglomerasi menjadi sasaran utama aksi ambil untung investor dalam beberapa hari terakhir. Valuasi tinggi membuat emiten jumbo paling rentan terkena aksi jual besar. Kondisi tersebut mempercepat kejatuhan indeks sepanjang pekan ini.
Meski pasar berdarah, beberapa saham kecil masih mampu mencuri perhatian investor sepanjang perdagangan hari ini. Saham PT Satria Mega Kencana Tbk atau SOTS melesat hingga 25 persen. Saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk atau BOBA juga naik lebih 24 persen.
Namun penguatan saham kecil gagal membantu indeks utama keluar dari tekanan besar. Mayoritas investor tetap fokus pada saham unggulan dan sektor komoditas nasional. Ketika saham big caps runtuh, IHSG otomatis ikut terjun bebas.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan lanjutan pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas nasional. Investor berharap pemerintah segera memberi kepastian teknis supaya pasar kembali tenang. Jika ketidakpastian berlanjut, tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih panjang.
Alrich Paskalis Tambolang menyebut pasar sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap arah kebijakan domestik. Investor membutuhkan kepastian agar aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia. Tanpa stabilitas regulasi, pasar saham sulit bangkit cepat. “Mudahnya, pasar sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap kebijakan domestik,” ujar Alrich Paskalis Tambolang.
Kini seluruh mata pelaku pasar tertuju pada level 6.000 sebagai titik penentuan arah IHSG berikutnya. Jika level itu bertahan, peluang technical rebound masih terbuka dalam jangka pendek. Namun, jika jebol, pasar saham Indonesia berpotensi memasuki fase koreksi lebih dalam lagi. R-02

