IHSG Ambruk Usai BI Naikkan Suku Bunga, Saham Big Caps Berguguran
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan kembali menutup perdagangan di zona merah pada Rabu sore tadi, 20 Mei 2026. IHSG turun 0,82 persen atau 52 poin menuju level 6.318 setelah bergerak cukup liar seharian. Tekanan muncul sesaat setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Perdagangan sesi kedua terasa berat sejak pengumuman suku bunga acuan diumumkan Bank Indonesia siang tadi. IHSG sempat bergerak pada rentang 6.459 hingga menyentuh level terendah 6.215 sepanjang perdagangan hari ini. Tekanan jual kembali muncul ketika investor mulai menghitung dampak kenaikan bunga terhadap pasar saham domestik.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi perdagangan mencapai Rp22,35 triliun. Sebanyak 41,12 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 2,47 juta kali. Dari seluruh saham diperdagangkan, 483 saham melemah sementara 208 saham masih mampu bertahan menguat hari ini.
Saham berbasis komoditas menjadi pemberat utama IHSG sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan. Sektor barang baku ambruk 4,67 persen disusul transportasi turun 4,22 persen serta energi melemah 2,64 persen. Investor terlihat mulai menjauhi saham sensitif terhadap gejolak harga minyak dan kenaikan biaya pendanaan perusahaan.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA menjadi perhatian setelah anjlok 14,7 persen hari ini. Saham PT Barito Pacific Tbk atau BRPT ikut terpeleset cukup dalam hingga turun 10,1 persen sore tadi. Tekanan besar pada saham barang baku membuat laju IHSG makin berat menjelang akhir perdagangan sesi kedua.
Sektor energi juga ikut tergelincir cukup dalam sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia tadi sore. Saham PT Golden Eagle Energy Tbk atau SMMT jatuh 14,5 persen menuju level terendah perdagangan harian. Sementara saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN melemah lebih dari sembilan persen.
Tekanan juga terasa pada saham lapis besar anggota indeks LQ45 sepanjang perdagangan. Saham PT Bumi Resources Tbk atau BUMI turun hampir tujuh persen hingga penutupan perdagangan. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMN ikut tergelincir lebih dari enam persen.
Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk atau ADMR juga masuk daftar saham paling tertekan.Sementara saham PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA melemah enam persen pada sesi penutupan perdagangan. Tekanan berlanjut pada saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau ADRO turun lebih dari empat persen.
Meski mayoritas saham melemah, beberapa emiten masih mampu mencuri perhatian investor sepanjang perdagangan hari ini. Saham PT LCK Global Kedaton Tbk atau LCKM melesat lebih dari 29 persen pada penutupan perdagangan. Saham PT Super Energy Tbk atau SURE ikut menguat hampir 25 persen sepanjang sesi perdagangan berlangsung.
Pergerakan IHSG hari ini terasa cukup liar sejak pembukaan hingga menjelang penutupan perdagangan sesi kedua sore. Indeks sempat menguat pada awal sesi sebelum akhirnya terperosok cukup dalam menjelang tengah hari tadi siang. Setelah itu, IHSG bergerak datar sambil menunggu respons investor terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen melalui rapat gubernur periode Mei 2026 hari ini. Suku bunga deposit facility ikut naik menjadi 4,25 persen sementara lending facility menyentuh level enam persen. Langkah agresif itu dipilih menjaga stabilitas rupiah menghadapi tekanan global akibat konflik Timur Tengah belakangan ini.
Keputusan Bank Indonesia ternyata melebihi ekspektasi mayoritas pelaku pasar sebelumnya beberapa hari terakhir kemarin tadi. Konsensus Bloomberg sebelumnya memperkirakan BI Rate hanya naik 25 basis poin menuju level lima persen saja. Kenaikan lebih besar membuat investor mulai mengubah strategi penempatan dana pada pasar saham domestik Indonesia.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menjadi ekonom paling tepat membaca arah kebijakan Bank Indonesia tadi siang. Fakhrul sebelumnya memperkirakan BI Rate naik agresif hingga mencapai level 5,25 persen pada Mei 2026 ini. Menurut Fakhrul, fokus utama Bank Indonesia mulai bergeser menuju stabilitas rupiah dan arus modal asing domestik.
“Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor dalam kondisi pasar penuh tekanan,” ujar Fakhrul Fulvian. Ia menilai pasar mulai mempertanyakan arah rupiah serta koordinasi kebijakan ekonomi nasional menghadapi tekanan global belakangan ini. Jika stabilisasi terlambat dilakukan, biaya menjaga pasar keuangan domestik bisa menjadi jauh lebih mahal nantinya.
Tekanan eksternal juga masih membayangi pasar saham Asia sepanjang perdagangan hari ini tadi sore menjelang penutupan. Bursa Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, hingga China kompak bergerak melemah sepanjang perdagangan regional Asia. Investor global masih cemas terhadap arah suku bunga Amerika Serikat serta konflik Timur Tengah semakin memanas.
Research Phintraco Sekuritas menilai kenaikan BI Rate berhasil membantu penguatan nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat menguat menuju Rp17.605 per dolar Amerika Serikat berdasarkan data pasar spot Bloomberg sore tadi. Namun, tekanan pada IHSG diperkirakan masih muncul selama sentimen global belum benar-benar mereda beberapa waktu mendatang.
“IHSG diperkirakan bergerak variatif pada support 6.200 hingga resistance 6.450,” tulis Phintraco Sekuritas. Analis melihat tekanan global masih cukup kuat menahan minat investor masuk menuju pasar saham domestik Indonesia. Aksi rebalancing MSCI akhir Mei juga ikut membuat investor memilih lebih berhati-hati menempatkan dana investasi.
Arus dana asing juga masih mencatat tekanan keluar dari pasar domestik sepanjang perdagangan hari ini. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net sell sekitar Rp130,88 miliar pada pasar reguler Indonesia hari ini. Situasi tersebut menambah tekanan terhadap saham big caps sehingga IHSG gagal keluar dari zona merah.
Meski tekanan belum reda, pasar tetap menunggu arah kebijakan berikutnya dari Bank Indonesia dan bank sentral Amerika. Pelaku pasar juga menanti risalah rapat Federal Reserve guna membaca peluang kenaikan suku bunga berikutnya nanti. Jika tekanan global mereda, IHSG berpeluang kembali bangkit setelah sempat terguncang cukup dalam hari ini. R-02

