Rupiah Akhirnya Menguat, Efek Pidato Prabowo dan Kejutan BI Langsung Terasa
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah akhirnya mendapat napas segar setelah terus ditekan oleh gejolak ekonomi global beberapa pekan terakhir ini. Nilai tukar rupiah ditutup menguat 52 poin menuju Rp17.653 per dolar Amerika Serikat pada Rabu, 20 Mei 2026. Pasar langsung merespons pidato Presiden Prabowo Subianto serta keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hari ini.
Penguatan rupiah menjadi kabar lega setelah dolar Amerika Serikat terus menekan mata uang negara berkembang belakangan ini. Tekanan global muncul akibat konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta arus modal keluar dari pasar Asia. Situasi itu sempat membuat rupiah bergerak gelisah sepanjang perdagangan dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Prabowo Subianto ikut memberi perhatian besar terhadap kondisi ekonomi nasional saat rapat paripurna DPR tadi siang. Prabowo menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertahan di kisaran lima persen selama tujuh tahun terakhir ini. Sorotan itu langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena menyentuh kondisi kelas menengah dan daya beli masyarakat.
Analis Ibrahim Assuaibi menilai pasar menangkap pidato Presiden Prabowo sebagai sinyal keseriusan memperbaiki kondisi ekonomi nasional. “Prabowo menyoroti kelas menengah yang menurun dan angka kemiskinan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Ibrahim Assuaibi. Meski kondisi global berat, pemerintah tetap memasang target pertumbuhan ekonomi cukup tinggi pada tahun 2027 mendatang.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2027 berada pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen. Inflasi diperkirakan bergerak sekitar 1,5 sampai 3,5 persen demi menjaga daya beli masyarakat tetap aman. Nilai tukar rupiah tahun 2027 dipatok sekitar Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat nantinya.
Di tengah tekanan global, Bank Indonesia akhirnya memilih langkah agresif menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Suku bunga acuan naik dari level 4,75 persen menjadi 5,25 persen melalui rapat gubernur Bank Indonesia pada Mei 2026. Keputusan itu sekaligus mengakhiri strategi penahanan suku bunga selama delapan bulan terakhir.
Ibrahim Assuaibi menilai langkah Bank Indonesia cukup penting untuk menjaga stabilitas rupiah menghadapi tekanan ekonomi dunia belakangan ini. “Keputusan itu menjaga stabilitas rupiah serta target inflasi tahun 2026 hingga 2027,” kata Ibrahim Assuaibi. Pasar langsung membaca kebijakan tersebut sebagai sinyal kuat untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional Indonesia.
Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen mulai perdagangan. Suku bunga lending facility ikut naik menuju level enam persen demi memperkuat ketahanan ekonomi domestik nasional saat ini. Langkah tersebut dipilih agar tekanan eksternal tidak terlalu dalam menghantam pasar keuangan Indonesia pada waktu mendatang.
Research and Development ICDX, Tiffani Safinia, menilai penguatan rupiah dipicu respons cepat otoritas moneter Indonesia belakangan ini. “Pasar mencermati efektivitas intervensi pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah,” ujar Tiffani Safinia. Investor mulai melihat koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia semakin serius menghadapi tekanan ekonomi global tahun ini.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR ikut bergerak menguat menuju Rp17.685 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut membaik dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya saat rupiah sempat tertekan cukup tajam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar mulai memanfaatkan momentum penguatan rupiah setelah kebijakan suku bunga diumumkan siang tadi oleh Bank Indonesia.
Tekanan global masih membayangi pasar keuangan dunia akibat konflik Amerika Serikat dan Iran belakangan terakhir ini. Harga minyak mentah dunia tetap tinggi sehingga memicu kekhawatiran inflasi pada berbagai negara ekonomi utama dunia saat ini. Situasi tersebut ikut memperkuat dolar Amerika Serikat terhadap mayoritas mata uang negara berkembang di kawasan Asia belakangan ini.
Ibrahim Assuaibi menyebut pasar global juga menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed berikutnya. “Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mencapai 50 persen menurut CME FedWatch Tool,” ujar Ibrahim Assuaibi lagi. Kondisi itu membuat tekanan terhadap rupiah masih berpotensi muncul dalam beberapa bulan mendatang.
Sebelumnya, sebagian pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia hanya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin saja. Namun keputusan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin justru membuat pasar cukup terkejut siang tadi tadi. Langkah agresif tersebut dianggap menunjukkan fokus utama untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global yang berat.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, sejak awal memprediksi kenaikan BI Rate mencapai 50 basis poin. Fakhrul menilai Bank Indonesia perlu bergerak cepat menghadapi tekanan eksternal sebelum pasar bergerak semakin liar berikutnya nanti. Strategi stabilisasi agresif dianggap penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia sepanjang tahun 2026 ini.
Pelaku pasar mulai melihat langkah Bank Indonesia sebagai sinyal serius untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional menghadapi tekanan global. Kekhawatiran investor sebelumnya muncul akibat respons kebijakan yang dinilai terlambat menghadapi pelemahan rupiah beberapa pekan terakhir ini. Jika tekanan terus dibiarkan, arus modal keluar bisa semakin besar dan memukul pasar obligasi domestik Indonesia.
Meski rupiah menguat hari ini, tekanan global diperkirakan masih membayangi pasar keuangan Indonesia pada waktu mendatang. Yield obligasi Amerika Serikat masih tinggi, sementara harga minyak dunia terus bergerak liar akibat konflik geopolitik internasional. Namun, langkah agresif Bank Indonesia memberi pesan jelas bahwa pasar domestik tetap dijaga di tengah badai ekonomi global. R-02

