Rupiah Sentuh Rp17.733, Bank Indonesia Didorong Naikkan Suku Bunga
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali terpeleset menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026. Mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.733 per dolar AS pukul 13.54 WIB sebelum ditutup melemah di level Rp17.705 per dolar AS. Pasar keuangan domestik terasa ramai seperti warung kopi ketika pertandingan final masuk babak tambahan waktu.
Tekanan terhadap rupiah belum benar-benar reda meski Bank Indonesia masih aktif menjaga pasar valuta asing dan obligasi. Intervensi terus dilakukan, tetapi arus dolar terasa lebih deras dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya tahun ini. Rupiah akhirnya kembali bergerak limbung seperti payung tua diterpa angin sore mendadak kencang.
Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah sepanjang perdagangan hari ini. Won Korea Selatan memimpin pelemahan kawasan, disusul dolar Taiwan dan rupiah Indonesia. Hanya baht Thailand masih sanggup berdiri tenang meski penguatannya tipis sekali.
Harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel sepanjang pekan ini. Ketegangan geopolitik Timur Tengah membuat investor global memilih dolar AS sebagai tempat berlindung paling nyaman. Situasi pasar terasa seperti langit mendung yang belum juga selesai menurunkan hujan deras.
Pelaku pasar mulai percaya fokus utama Bank Indonesia bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini. Stabilitas rupiah dan kepercayaan investor mulai terasa jauh lebih penting menjelang hasil RDG BI diumumkan. Suasana pasar pun mendadak serius seperti ruang ujian ketika pengawas mulai masuk kelas.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya memberi sinyal perhatian besar terhadap stabilitas pasar keuangan domestik. Pernyataan itu langsung dibaca pasar sebagai petunjuk perubahan arah kebijakan moneter Indonesia. Investor akhirnya mulai sibuk menghitung peluang kenaikan suku bunga acuan minggu ini.
Konsensus Bloomberg memperkirakan BI Rate berpotensi naik menuju level 5 persen setelah tekanan rupiah makin besar. Beberapa ekonom bahkan mulai membuka peluang kenaikan lebih tinggi jika tekanan pasar terus memburuk. Rupiah yang terus melemah membuat pasar seperti menunggu sirene darurat dibunyikan kapan saja.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai tekanan rupiah datang dari faktor global dan domestik sekaligus. Harga minyak yang tinggi membuat ruang fiskal pemerintah terasa makin sempit sepanjang beberapa bulan terakhir. Beban subsidi energi juga berpotensi membengkak ketika kurs rupiah makin menjauh dari asumsi APBN.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI besok,” ujar Rully Nova, Selasa, 19 Mei 2026. Ia menilai tekanan harga minyak dunia membuat pasar semakin berhati-hati membaca arah kebijakan ekonomi nasional. Kondisi itu membuat rupiah seperti pelari maraton yang mulai kehilangan napas memasuki kilometer terakhir.
Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat juga ikut memberi tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang sepanjang tahun ini. Obligasi tenor 10 tahun AS tercatat berada di level 4,631 persen dan menjadi rekor tertinggi baru 2026. Investor global akhirnya lebih tertarik menyimpan dana di Amerika Serikat dibanding pasar berkembang Asia.
Selisih imbal hasil obligasi Indonesia dan Amerika Serikat makin menipis dalam beberapa pekan terakhir perdagangan global. Situasi itu membuat minat investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia perlahan mulai berkurang. Pasar obligasi domestik pun terasa lebih sepi dibanding biasanya sepanjang sesi perdagangan sore tadi.
“Minat pelaku pasar asing menurun terhadap obligasi pemerintah karena selisih yield makin menipis,” kata Rully Nova lagi. Pernyataan itu memperlihatkan tekanan rupiah bukan hanya dipicu kebutuhan dolar musiman semata. Kombinasi sentimen global dan domestik membuat rupiah makin sulit menemukan ruang bernapas lega.
Rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.740 per dolar AS pada perdagangan intraday siang tadi sebelum perlahan membaik menjelang penutupan pasar. Meski membaik tipis, posisi penutupan tetap menjadi level terburuk sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS. Grafik pergerakan rupiah terlihat seperti roller coaster tanpa rem ketika pasar mulai kehilangan rasa tenang.
Kurs JISDOR Bank Indonesia juga ikut melemah menuju Rp17.719 per dolar AS dibanding perdagangan sebelumnya di Rp17.666 per dolar AS. Tekanan rupiah terlihat nyata dari pasar spot hingga indikator resmi Bank Indonesia sore tadi. Angka-angka di layar perdagangan mendadak terasa menegangkan seperti skor penalti pertandingan semifinal.
Pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga acuan menjadi pilihan paling realistis menghadapi tekanan rupiah saat ini. Langkah itu dinilai penting demi menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan arus modal keluar. Situasinya mirip menahan pintu ketika angin besar mulai masuk terlalu kencang dari luar rumah.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia masih diyakini memiliki cadangan devisa cukup kuat menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Namun intervensi jangka panjang tetap memerlukan biaya besar jika tekanan global belum kunjung mereda. Pasar akhirnya terus menunggu langkah berikutnya seperti penonton menanti adegan akhir film menegangkan.
Permintaan dolar musiman juga ikut memperberat tekanan rupiah sepanjang kuartal kedua tahun 2026 ini. Kebutuhan impor energi dan pembayaran luar negeri membuat permintaan valuta asing meningkat cukup besar. Rupiah akhirnya kembali terseret arus deras ketika pasokan dolar terasa makin ketat.
Sebagian investor memilih menunggu hasil resmi RDG BI sebelum kembali masuk ke pasar saham dan obligasi domestik. Sikap hati-hati itu membuat perdagangan hari ini terasa lebih tegang dibanding awal bulan lalu. Ruang dealing room pasar keuangan mungkin terasa lebih sunyi dibanding kantin kantor menjelang jam pulang.
Jika tekanan global terus membesar, kenaikan BI Rate diperkirakan menjadi langkah paling masuk akal menjaga stabilitas ekonomi nasional tahun ini. Meski berisiko menekan pertumbuhan kredit, stabilitas rupiah tetap dianggap prioritas utama menjaga kepercayaan pasar. Sebab rupiah yang terlalu lemah bisa membuat harga impor ikut naik perlahan.
Menjelang pengumuman RDG BI pada Rabu, 20 Mei 2026, pasar keuangan Indonesia masih dipenuhi rasa cemas dan hitungan rumit. Rupiah belum benar-benar menemukan pijakan kuat ketika dolar AS masih tampil perkasa sepanjang pekan ini. Mata uang Garuda akhirnya harus kembali bertahan di tengah badai global yang belum juga reda. R-02

