Kata Menteri Pertanian Beras Aman, Tapi 111 Kabupaten/ Kota Stok Menipis Picu Kenaikan Harga
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut harga beras di 111 kabupaten/kota mengalami kenaikan. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut harga beras di 111 kabupaten/kota mengalami kenaikan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan harga rata-rata beras nasional berada di angka Rp 15.324 per kilogram.
“Beras, rata-rata nasional 15.325 rupiah per kilogram, 111 kabupaten kota mengalami kenaikan harga beras,” kata Amalia dalam rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (18/5/2026).
Amalia lalu mengungkapkan penyebab harga beras terkerek naik di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Kapuas Kalimantan Barat (Kalbar) beras naik karena stok menipis. Di sana, beras mengalami inflasi atau naik 6,54 persen pada minggu kedua bulan Mei secara month to month (M to M).
Menurutnya, kelangkaan disebabkan Kabupaten Kapuas yang belum memasuki masa panen. Hal itu mengakibatkan stok beras di pasar sedikit.
“Ini fenomenanya karena stok menipis kemudian ada di situ belum panen karena memang beras masih belum panen,” ujar Amalia.
Dalam paparannya, Amalia menyebut kenaikan mencakup beras lokal yakni, siam unus, mayang catur, dan mayang anjir.
“Karena memang beras masih belum panen sehingga barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit,” ujar Amalia.
BPS memperkirakan, stok beras di Kapuas akan kembali bertambah pada Juni mendatang. Hal merujuk pada hasil Kerangka Survei Area (KSA) BPS.
“Kemungkinan akan naik di bulan Juni,” tuturnya.
Selain Kapuas, beras di Kota Palangkaraya, Kabupaten Tanah Laut, dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) juga mengalami kenaikan karena stok menipis.
Di Palangkaraya, suplai beras terbatas karena produksi lokal yang meliputi beras mayang hanyar, karang dukuh, dan pangkuh hibrida belum banyak dipanen.
Adapun di Tanah Laut, beras naik signifikan karena mengikuti harga gabah yang juga mengalami kenaikan, Jenis padi tahunan disebut sudah jauh dari musim panen sementara padi ciherang sudah mulai panen namun belum berdampak signifikan ke pasar.
“Pasokan juga tidak banyak dari supplier,” bunyi paparan Amalia.
Sementara, di HST padi sudah banyak dipetik namun banyak kabupaten di Kalimantan Selatan belum panen. Hal ini membuat suplai gabah terbatas dan harganya masih naik.
“Jika melihat di penggilingan harga beras juga mengalami kenaikan,” kata dia.
Kenaikan beras juga terjadi di Kota Denpasar, Bali dengan angka 2,76 persen (M to M) dan berkontribusi 0,11 persen pada inflasi.
Menurut Amalia, kenaikan itu terjadi karena harga di tingkat petani di Jembrana, Badung, Gianyar, dan Denpasar juga meningkat.
“Juga harga dari distributornya mengalami kenaikan,” ucapnya.
Adapun pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium Rp 13.500 per kilogram untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Kemudian, Rp 14.000 per kilogram untuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur.
Lalu, Rp 15.500 per kilogram untuk daerah Maluku dan Papua. Terpisah, perusahaan negara Perum Bulog menyatakan telah menyalurkan 240.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan beras SPHP merupakan instrumen pemerintah untuk mengendalikan harga beras. Beras itu disalurkan ke berbagai wilayah dan dijual dengan HET yang telah ditentukan pemerintah.
"Per hari ini, penyaluran beras SPHP oleh Bulog sudah sebanyak 240.000 ton ke berbagai daerah di Indonesia,” kata Rizal dalam keterangan tertulis, Senin.(R-04)

