Israel Cegat Kapal Bantuan Gaza, Lima WNI Hilang Kontak di Laut Mediterania
Prajurit Israel menodong penumpang kapal misi Global Sumud Flotilla di perairan Mediterania. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Armada kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang membawa relawan internasional, susu bayi, obat-obatan, serta bantuan logistik untuk Gaza, Palestina, dicegat tentara Israel. Lima warga Indonesia dilaporkan ditahan, sementara empat lainnya masih terpisah di beberapa kapal berbeda.
Kabar itu langsung membuat suasana Jakarta ikut tegang sejak pagi tadi. Pemerintah bergerak cepat membuka jalur diplomasi melalui Kementerian Luar Negeri dan jaringan kedutaan kawasan Timur Tengah. Laut internasional mendadak terasa sempit ketika kapal sipil diperlakukan seperti ancaman besar.
Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, mengaku terus memantau situasi sembilan WNI dalam misi kemanusiaan tersebut. Komunikasi darurat langsung dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri setelah kabar intersepsi kapal menyebar luas sejak pagi. “Saya sudah berkomunikasi dengan Kemlu untuk segera melakukan pendekatan melalui jalur diplomasi,” ujar Dudung.
Dudung menjelaskan pemerintah belum memperoleh kepastian lokasi seluruh relawan Indonesia hingga siang tadi. Informasi terakhir menyebut lima WNI sudah ditahan tentara Israel, sedangkan empat lainnya masih berlayar terpisah. Laut Mediterania terasa seperti labirin ketika komunikasi kapal mulai terputus satu demi satu.
Misi Global Sumud Flotilla berangkat dari Marmaris, Turki, sejak Kamis, 14 Mei 2026, menuju Gaza. Lebih dari 50 kapal sipil membawa hampir 500 aktivis kemanusiaan dari puluhan negara di dunia yang berbeda. Mereka datang membawa bantuan pangan, susu bayi, logistik medis, serta harapan kecil warga Palestina.
Perjalanan itu berubah mencekam ketika kapal perang Israel mulai mengepung armada sipil dekat Siprus. Siaran langsung para relawan memperlihatkan pasukan bersenjata lengkap mendekati kapal menggunakan perahu cepat militer. Aktivis di atas kapal langsung mengenakan pelampung sambil mengangkat tangan demi menghindari situasi lebih buruk.
Detik-detik pencegatan itu langsung menyebar luas di media sosial internasional sejak Senin sore kemarin, 18 Mei 2026. Rekaman memperlihatkan suara panik relawan bercampur dengan alarm kapal yang meraung panjang di tengah laut. Beberapa menit kemudian, sambungan komunikasi mendadak hilang tanpa kabar jelas dari puluhan kapal berbeda.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla langsung menuduh Israel melakukan penculikan terhadap relawan sipil internasional tersebut. Mereka menilai intersepsi kapal bantuan melanggar hukum maritim internasional dan kebebasan navigasi laut dunia. “Global Sumud Flotilla sedang diserang,” tulis penyelenggara melalui akun media sosial resmi mereka.
Ketegangan makin terasa setelah media Israel melaporkan sekitar 100 aktivis sudah diamankan tentara Tel Aviv. Para relawan dipindahkan menuju kapal Angkatan Laut Israel sebelum dibawa ke pelabuhan Ashdod di bagian selatan. Kapal bantuan kemanusiaan mendadak berubah seperti penjara terapung di tengah Laut Mediterania yang biru.
Indonesia ikut terseret dalam pusaran panas diplomatik akibat penahanan lima relawan dan jurnalis nasional tersebut. Mereka terdiri dari aktivis kemanusiaan, wartawan media nasional, serta relawan jaringan bantuan kemanusiaan Indonesia. Nama-nama mereka langsung ramai dibagikan masyarakat melalui media sosial sejak pagi tadi.
Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia, Maimon Herawati, menyebut lima WNI yang diduga sudah ditangkap tentara Israel. Mereka terdiri dari Andi Angga Prasadewa, Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Rahendro Herubowo, serta Andre Prasetyo Nugroho. Empat WNI lainnya masih berada dalam armada berbeda dan belum kehilangan kontak total.
Nama Andre Prasetyo Nugroho mendadak viral setelah video SOS miliknya menyebar luas di internet. Jurnalis Tempo itu merekam pesan darurat sebelum intersepsi kapal benar-benar terjadi di laut internasional. Video tersebut terasa dingin sekaligus menyesakkan ketika ditonton ribuan pengguna media sosial Indonesia.
“Saya Andre Nugroho, warga Indonesia yang mengikuti Global Sumud Flotilla,” ucap Andre dalam rekaman videonya. Ia meminta masyarakat menyebarkan video tersebut jika komunikasi dirinya mendadak hilang bersama rombongan kapal bantuan. Kalimat itu sederhana, tetapi langsung membuat media sosial Indonesia ramai sepanjang pagi tadi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menegaskan Indonesia mengecam keras intersepsi kapal bantuan tersebut. Kemlu juga meminta Israel segera membebaskan seluruh awak dan armada kemanusiaan internasional tanpa syarat tambahan. “Kami mendesak Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional,” kata Yvonne.
Kemlu juga mengaktifkan jalur koordinasi bersama KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman sejak awal insiden muncul. Langkah itu ditempuh demi memastikan keselamatan seluruh WNI sekaligus mempercepat perlindungan diplomatik mereka. Diplomasi Indonesia mendadak sibuk seperti ruang darurat ketika kabar penahanan relawan terus bertambah.
Sementara itu, sepuluh negara ikut mengecam aksi Israel terhadap armada bantuan sipil tersebut secara bersama-sama. Indonesia bergabung bersama Turki, Pakistan, Spanyol, Brasil, Yordania, hingga Kolombia mengeluarkan pernyataan resmi internasional. Mereka menilai intersepsi kapal sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan hukum humaniter.
Pernyataan bersama itu menyoroti keselamatan para relawan sipil yang sedang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Negara-negara tersebut mendesak pembebasan segera seluruh aktivis serta penghormatan penuh terhadap hak kemanusiaan mereka. Laut internasional dinilai tidak boleh berubah menjadi arena penangkapan sipil seenaknya.
Ketegangan sebenarnya sudah terasa sejak beberapa jam sebelum operasi militer Israel dimulai di Mediterania Timur. Kementerian Luar Negeri Israel sempat memperingatkan armada bantuan agar mengubah jalur pelayaran menuju Gaza segera. Israel bahkan menuding misi kemanusiaan tersebut sekadar aksi mencari perhatian dunia internasional.
Namun, para relawan tetap melanjutkan perjalanan meski ancaman intersepsi mulai muncul sejak pagi hari sebelumnya. Mereka menganggap blokade Gaza sudah terlalu lama membuat warga sipil kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar sehari-hari. Kapal-kapal kecil itu tetap melaju membawa susu bayi di tengah ancaman kapal perang bersenjata lengkap.
Berdasarkan rekaman siaran langsung, pasukan Israel mulai mendekati kapal sekitar pukul 10.30 waktu Siprus. Kapal perang terlihat mengepung armada sipil sekitar 250 mil laut dari wilayah Gaza bagian utara. Relawan di atas kapal tampak tenang meski wajah mereka jelas menyimpan ketegangan besar sepanjang intersepsi.
Beberapa relawan bahkan sempat melambaikan tangan sambil mengenakan pelampung keselamatan berwarna oranye terang. Pemandangan itu terasa ganjil ketika kapal bantuan sipil berhadapan langsung dengan personel bersenjata lengkap di laut. Laut Mediterania siang itu tampak tenang, tetapi suasananya jauh dari kata damai.
Global Sumud Flotilla sendiri bukan misi pertama yang mencoba menembus blokade laut menuju Gaza dalam beberapa tahun terakhir. Banyak armada bantuan sebelumnya juga dicegat sebelum berhasil mencapai wilayah pesisir Palestina secara penuh. Namun, misi tahun ini terasa lebih besar karena melibatkan ratusan relawan lintas negara di dunia.
Sebanyak 426 peserta dari 40 negara ikut dalam konvoi bantuan kemanusiaan tersebut menuju Gaza melalui Mediterania. Mereka berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Australia, Pakistan, Kanada, hingga Indonesia yang mengirim beberapa relawan kemanusiaan. Kapal-kapal kecil itu sebenarnya hanya membawa logistik sipil, bukan perlengkapan militer berbahaya.
Menurut Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1982, kapal sipil memiliki hak kebebasan navigasi internasional. Penyitaan kapal asing di laut bebas hanya diperbolehkan dalam kondisi hukum yang sangat terbatas dan ketat. Karena itu, aksi Israel langsung memantik kecaman luas dari berbagai negara di dunia.
Di Indonesia, kabar penahanan WNI langsung ramai dibicarakan sejak pagi di berbagai platform media sosial nasional. Nama para jurnalis dan relawan kemanusiaan terus dibagikan warganet bersama tagar dukungan terhadap Palestina dan Gaza. Timeline media sosial berubah seperti ruang solidaritas virtual penuh doa dan kemarahan publik.
Banyak masyarakat meminta pemerintah mengambil langkah diplomatik yang lebih keras demi membebaskan seluruh relawan Indonesia segera. Beberapa organisasi jurnalis nasional juga mulai menyuarakan perlindungan terhadap wartawan Indonesia dalam misi kemanusiaan tersebut.
Hingga Senin malam tadi, pemerintah masih terus menunggu kepastian terbaru mengenai kondisi seluruh WNI dalam armada tersebut. Jalur komunikasi diplomatik tetap dibuka sambil memantau perkembangan keamanan kawasan Mediterania Timur secara intensif. R-02
Daftar 9 WNI Tergabung dalam Misi
- Herman Budianto Sudarsono. (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa - (GPCI - Rumah Zakat) Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad - (GPCI - Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171) Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (Republika) Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho - (Tempo) Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (GPCI - iNewsTV, Berita1, CNN) Kapal Ozgurluk

