Era Emas Manchester City Terancam Tamat, Guardiola Dikabarkan Pergi Akhir Musim Ini
Pep Guardiola, Manajer Manchester City. (ist)
INGGRIS, SabangMerauke News - Manchester City mendadak seperti rumah besar yang kehilangan lampu utama. Pep Guardiola dikabarkan siap meninggalkan Etihad Stadium setelah sepuluh tahun penuh trofi dan dominasi. Kabar itu langsung membuat sepak bola Inggris ramai seperti pasar malam menjelang final piala.
Media Inggris mulai ramai membahas rumor tersebut beberapa jam sebelum Manchester City menghadapi Bournemouth. BBC, Sky Sports, Telegraph, hingga The Athletic ikut menyorot kabar perpisahan Guardiola dari City. Situasi itu membuat suasana Premier League berubah panas menjelang akhir musim.
Pep Guardiola datang ke Manchester City pada 2016 membawa satu koper besar berisi ide sepak bola modern. Banyak orang ragu apakah gaya bermainnya cocok menghadapi kerasnya Liga Inggris setiap pekan. Namun, Guardiola justru mengubah City menjadi mesin kemenangan paling mengerikan di Eropa.
Selama satu dekade bersama Manchester City, Guardiola mengumpulkan total 20 trofi untuk klub biru Manchester tersebut. Enam gelar Premier League menjadi bukti dominasi City selama era kepelatihannya di Etihad Stadium. Liga Champions juga akhirnya datang setelah bertahun-tahun menjadi mimpi besar klub.
Musim ini sebenarnya belum sepenuhnya selesai untuk Manchester City dan Pep Guardiola. City baru saja meraih double domestik usai menjuarai Carabao Cup dan mengalahkan Chelsea di Wembley. Namun, kabar perpisahan Guardiola justru menutupi suasana pesta trofi tersebut.
Daily Mail melaporkan manajemen Manchester City sudah memberi sinyal kepada sponsor mengenai kepergian Guardiola. Pengumuman resmi disebut akan muncul setelah laga terakhir musim menghadapi Aston Villa pekan depan. Momen itu dipilih agar suporter bisa memberi salam perpisahan langsung di Etihad Stadium.
Sehari setelah pertandingan terakhir musim, Manchester City juga dijadwalkan menggelar parade trofi bersama pendukung mereka. Situasi itu membuat akhir musim City terasa campur aduk antara pesta dan rasa kehilangan. Banyak fans mulai sadar era paling indah klub kemungkinan segera selesai.
Pep Guardiola sebenarnya masih memiliki kontrak satu musim lagi bersama Manchester City hingga 2027 mendatang. Namun, pelatih asal Spanyol tersebut disebut mulai merasa lelah menghadapi tekanan panjang Premier League. Sepuluh tahun mengejar trofi membuat energinya terkuras seperti mesin tanpa jeda.
Gary Neville menjadi salah satu sosok paling terkejut saat rumor Guardiola menyebar luas ke publik Inggris. Legenda Manchester United tersebut sedang menjadi komentator laga Arsenal melawan Burnley ketika kabar itu muncul. Neville mengaku suasana mendadak terasa aneh setelah berita tersebut beredar.
“Saya sangat terkejut mendengar kabar ini muncul malam sebelum pertandingan Manchester City,” ujar Gary Neville kepada Sky Sports, Selasa dini hari WIB, 19 Mei 2026. Menurutnya, berita sebesar itu bisa memengaruhi ruang ganti pemain dan atmosfer klub. Neville menilai momen tersebut terasa sangat besar untuk sepak bola Inggris.
Gary Neville kemudian membandingkan situasi Guardiola dengan momen pensiunnya Sir Alex Ferguson dari Manchester United. Ia juga mengingat perpisahan Jürgen Klopp dari Liverpool beberapa musim lalu. Menurut Neville, Guardiola sudah menjadi bagian penting dari sejarah Premier League modern.
“Ini seperti saat sepak bola kehilangan satu karakter utama,” kata Gary Neville lagi. Guardiola dianggap bukan sekadar pelatih biasa karena pengaruhnya terasa di seluruh Liga Inggris. Banyak klub mulai meniru gaya permainan Manchester City selama beberapa tahun terakhir.
Manchester City memang berubah total sejak Guardiola datang pertama kali pada musim panas 2016 silam. City bukan hanya sering menang, tetapi juga bermain dengan gaya dominan penuh penguasaan bola. Banyak pertandingan terasa seperti latihan menyerang bagi skuad biru langit tersebut.
Kevin De Bruyne, Rodri, Phil Foden, hingga Erling Haaland berkembang menjadi pemain kelas dunia bersama Guardiola. Sang pelatih terkenal akan detail dan perfeksionis dalam setiap sesi latihan maupun pertandingan besar. Metodenya keras, tetapi hasilnya hampir selalu menghadirkan trofi untuk Manchester City.
City bahkan sempat mencatat empat gelar Premier League beruntun selama masa kejayaan Guardiola di Inggris. Dominasi tersebut membuat banyak rival frustrasi karena sulit mengejar konsistensi Manchester City setiap musim. Guardiola seperti menemukan formula rahasia untuk menjaga tim tetap lapar akan kemenangan.
Meski penuh trofi, perjalanan Guardiola di Manchester City tidak selalu mulus sepanjang waktu. Kritik sempat datang ketika City gagal menjuarai Liga Champions dalam beberapa kesempatan penting sebelumnya. Namun, Guardiola akhirnya membungkam semua suara miring setelah membawa City menjadi raja Eropa.
Rumor perpisahan Guardiola langsung membuat media sosial dipenuhi reaksi emosional pendukung Manchester City seluruh dunia. Banyak suporter mengaku belum siap melihat Guardiola meninggalkan Etihad Stadium musim panas nanti. Sebagian lainnya mulai mengunggah kenangan manis selama era emas Manchester City.
Ada juga fans rival yang diam-diam merasa lega jika Guardiola benar-benar meninggalkan Premier League akhir musim nanti. Dominasi Manchester City selama bertahun-tahun memang membuat persaingan Liga Inggris terasa sangat berat. Banyak klub besar kesulitan mengejar konsistensi pasukan Guardiola setiap musim.
Daily Mail juga menyebut Manchester City mulai menyusun daftar kandidat pengganti Guardiola untuk musim depan. Nama Enzo Maresca muncul karena pernah menjadi asisten Guardiola di Etihad Stadium sebelumnya. Maresca dianggap memahami filosofi permainan City dari dalam ruang ganti klub.
Selain Maresca, Vincent Kompany ikut masuk dalam daftar calon pengganti Guardiola musim depan. Legenda Manchester City asal Belgia tersebut punya hubungan emosional yang sangat kuat dengan suporter City. Kompany juga dianggap memahami karakter klub setelah bertahun-tahun menjadi kapten utama.
Namun, menggantikan Guardiola jelas bukan pekerjaan ringan bagi siapa pun di dunia sepak bola modern. Standar Manchester City sudah terlalu tinggi selama satu dekade terakhir bersama pelatih asal Spanyol tersebut. Tekanan besar bakal langsung datang kepada pelatih baru sejak hari pertama.
Pep Guardiola sendiri belum memberi komentar resmi terkait rumor perpisahan tersebut sampai hari ini. Namun, beberapa gesturnya dalam pertandingan terakhir membuat banyak orang mulai curiga. Guardiola terlihat lebih emosional dibandingkan biasanya ketika merayakan kemenangan Manchester City musim ini.
Dalam satu kesempatan, Guardiola sempat memberi pesan keras kepada pemain Manchester City usai meraih dua trofi domestik. “Jangan pernah merasa spesial hanya karena memenangkan trofi,” ujar Pep Guardiola kepada skuad Manchester City. Kalimat itu terdengar seperti pesan penutup dari sosok yang mulai bersiap pergi.
Manchester City masih memiliki peluang mengejar gelar Premier League meski situasinya cukup rumit. City tertinggal lima poin dari Arsenal dengan dua pertandingan tersisa musim ini. Guardiola wajib membawa timnya mengalahkan Bournemouth dan Aston Villa sambil berharap Arsenal terpeleset.
Pertandingan melawan Bournemouth pada Rabu, 20 Mei 2026 dini hari WIB mendadak terasa jauh lebih emosional. Semua mata bakal tertuju kepada Pep Guardiola sepanjang laga di pinggir lapangan nanti. Fans City mulai mencoba menikmati setiap momen kecil bersama pelatih legendaris mereka.
Banyak pendukung Manchester City merasa Guardiola sudah mengubah identitas klub secara total selama satu dekade terakhir. City tidak lagi hanya dikenal sebagai klub kaya dengan pemain mahal di setiap musim. Guardiola membuat Manchester City memiliki karakter permainan jelas dan menakutkan.
Premier League juga terasa berbeda sejak Guardiola hadir membawa revolusi taktik modern ke Inggris. Pola pressing tinggi dan penguasaan bola cepat mulai ditiru banyak pelatih muda Liga Inggris. Pengaruh Guardiola bahkan terasa sampai level akademi sepak bola Inggris.
Jika rumor itu benar, Guardiola bakal meninggalkan Manchester City sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah klub. Trofi, rekor, dan malam-malam besar Eropa menjadi warisan mahal untuk Etihad Stadium. Banyak fans City mungkin sulit melihat pelatih lain duduk di kursi tersebut musim depan.
Sepak bola Inggris juga bakal kehilangan satu karakter paling unik dalam dua dekade terakhir. Guardiola menghadirkan rivalitas panas, drama besar, dan pertandingan luar biasa hampir setiap musim. Premier League tanpa Guardiola tentu terasa seperti konser besar tanpa penyanyi utama.
Sampai pengumuman resmi muncul, rumor tersebut masih terus menguasai pembicaraan publik Inggris sepanjang pekan ini. Manchester City tetap fokus mengejar peluang juara meski suasana mulai terasa emosional di dalam klub. Namun satu hal pasti, nama Pep Guardiola sudah terukir permanen dalam sejarah emas Manchester City. R-02

