Pertalite Asli Tembus Rp16 Ribu, Negara Bakar Uang Rp15 Triliun Setiap Bulan
Ilustrasi seorang petugas SPBU melayani pengisian BBM jenis Pertalite. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga asli Pertalite diam-diam melonjak menembus Rp16 ribu per liter pada pertengahan Mei 2026 ini. Pemerintah masih menahan harga jual Pertalite Rp10 ribu per liter demi menjaga daya beli masyarakat luas. Selisih harga itu membuat kebutuhan kompensasi energi diperkirakan membengkak hingga Rp14,8 triliun setiap bulan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut tekanan kompensasi energi semakin berat sepanjang semester pertama tahun ini. Kuota Pertalite 2026 mencapai 29,2 juta kiloliter atau sekitar 2,44 juta kiloliter setiap bulan kalender berjalan. Dengan selisih harga mencapai Rp6.088 per liter, kebutuhan kompensasi energi melonjak seperti bensin tersulut api panas.
“Dengan selisih Rp6.088 per liter, kebutuhan kompensasi Pertalite mencapai sekitar Rp14,8 triliun per bulan,” kata Josua Pardede, Senin, 18 Mei 2026. Angka tersebut dihitung menggunakan asumsi kuota penuh konsumsi Pertalite sepanjang tahun berjalan tahun ini. Beban fiskal terasa makin berat ketika harga minyak dunia bergerak liar akibat tensi geopolitik internasional yang memanas.
Josua juga menghitung realisasi konsumsi Pertalite selama Januari hingga Maret 2026 mencapai 6,88 juta kiloliter. Artinya, rata-rata konsumsi bulanan Pertalite berada pada kisaran 2,29 juta kiloliter sepanjang triwulan pertama tahun ini. Dengan asumsi tersebut, kebutuhan kompensasi energi tetap berada pada kisaran Rp14 triliun hingga Rp15 triliun setiap bulan.
“Estimasi realistis kompensasi Pertalite berada pada rentang Rp14 triliun sampai Rp15 triliun per bulan,” ujar Josua Pardede. Angka fantastis itu terasa seperti kebocoran besar pada kantong APBN ketika penerimaan negara sedang tertekan. Harga minyak mentah global dan pelemahan rupiah membuat tekanan subsidi energi makin sulit dikendalikan sepanjang Mei.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pemerintah masih perlu menjaga harga Pertalite tetap murah sementara waktu. Menurut dia, langkah tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat menengah bawah pada situasi ekonomi yang kurang stabil. Namun, kompensasi energi tetap harus memiliki batas waktu dan pengendalian konsumsi lebih ketat dibandingkan sebelumnya.
“Tanpa pengendalian volume, kompensasi Pertalite akan menggerus ruang fiskal negara,” kata Syafruddin Karimi, Senin, 18 Mei 2026. Dia menilai anggaran negara dapat kehilangan ruang pembiayaan bagi sektor kesehatan dan pendidikan masyarakat luas. Subsidi energi berlebihan juga dinilai memperlambat transisi menuju energi bersih lebih ramah lingkungan pada masa depan.
PT Pertamina Patra Niaga sempat mengungkap harga keekonomian Pertalite memang telah mencapai Rp16.088 per liter saat ini. Informasi nilai subsidi tersebut bahkan muncul langsung pada struk pembelian konsumen di sejumlah SPBU Pertamina di wilayah Indonesia. Fakta itu membuat banyak pengendara terkejut seperti melihat tagihan restoran mahal setelah makan sederhana.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa Pertalite masuk kategori Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan atau JBKP. Harga jualnya tetap diatur pemerintah demi menjaga akses energi murah bagi masyarakat pengguna kendaraan harian. Sementara Pertamax masuk kategori BBM umum sehingga harga mengikuti perkembangan pasar minyak internasional secara langsung.
“Pertamax digunakan masyarakat menengah mampu, sedangkan Turbo untuk kelompok ekonomi lebih tinggi,” ujar Roberth MV Dumatubun, Jumat, 8 Mei 2026. Meski harga keekonomian Pertamax sudah menembus Rp17 ribu per liter, harga jual tetap ditahan pemerintah. Pertamina untuk sementara menanggung selisih harga sebelum kompensasi dibayarkan pemerintah melalui mekanisme resmi yang berlaku.
Pertamax masih dijual Rp12.300 per liter sejak awal April 2026 meski harga minyak global terus merangkak naik. Pertamax Green 95 juga tetap dijual Rp12.900 per liter demi menjaga stabilitas pasar bahan bakar nasional. Namun, Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter setelah penyesuaian harga awal Mei tahun ini.
Harga Dexlite ikut melonjak menjadi Rp26 ribu per liter dari sebelumnya Rp23.600 per liter di wilayah Jabodetabek. Pertamina Dex bahkan menyentuh Rp27.900 per liter setelah naik Rp4 ribu dibanding harga bulan sebelumnya. Lonjakan harga BBM nonsubsidi terasa seperti alarm keras bagi pengendara kendaraan diesel dan mobil premium perkotaan.
Kementerian Keuangan mencatat subsidi dan kompensasi energi kuartal pertama 2026 mencapai Rp118,7 triliun tahun ini. Angka tersebut melonjak 266,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat perubahan skema pembayaran kompensasi bulanan. Belanja subsidi energi mencapai Rp52,2 triliun, sedangkan kompensasi energi menyentuh Rp66,5 triliun selama triwulan pertama berjalan.
Pagu subsidi dan kompensasi energi tahun 2026 mencapai Rp381,3 triliun untuk BBM, LPG, serta listrik nasional. Tekanan anggaran diperkirakan terus meningkat ketika harga minyak global bertahan tinggi sepanjang semester kedua mendatang. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memperbesar beban impor energi nasional dalam beberapa bulan terakhir.
Ekonom menilai pemerintah perlu segera menata ulang pola subsidi energi agar lebih tepat sasaran tahun ini. Pengendalian konsumsi Pertalite dinilai menjadi langkah penting sebelum APBN semakin sesak menanggung beban kompensasi raksasa. Harga murah di SPBU memang menyenangkan pengendara, namun negara diam-diam membayar tagihan sangat mahal setiap harinya. R-02

