Investor Panik Massal, IHSG Terjun Bebas hingga 3 Persen Lebih di Awal Perdagangan
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung limbung pada Senin, 18 Mei 2026, pagi WIB. Bursa Efek Indonesia mendadak memerah setelah tekanan asing, rebalancing MSCI, serta ancaman FTSE menghantam saham-saham raksasa nasional. Investor seperti menyaksikan gedung tua digoyang gempa, sementara layar perdagangan dipenuhi warna merah pekat yang menyesakkan mata.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG sempat jatuh lebih dari 248 poin pagi tadi. Indeks tergelincir hingga level 6.514 hanya empat puluh menit setelah perdagangan dibuka pada Senin pagi. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level 6.468 sebelum perlahan mencoba mengurangi tekanan jual besar-besaran.
Aktivitas transaksi justru tampak ramai seperti pasar malam menjelang hujan deras mengguyur lapangan terbuka. Volume perdagangan menyentuh miliaran lembar saham dengan nilai transaksi menembus triliunan rupiah dalam hitungan menit. Namun, mayoritas transaksi didominasi oleh aksi jual agresif dari investor asing maupun domestik sepanjang sesi pembukaan perdagangan.
Saham-saham besar mendadak seperti kehilangan pijakan setelah nama mereka dicoret indeks global ternama dunia. PT Barito Renewables Energy Tbk, PT Chandra Asri Pacific Tbk, hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk terjun bebas. Saham-saham itu menjadi pemberat utama indeks hingga membuat IHSG terseret ke jurang koreksi terdalam tahun ini.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN kembali menjadi sorotan utama pasar modal nasional hari ini. Emiten milik taipan Prajogo Pangestu itu kehilangan status sebagai saham kapitalisasi terbesar setelah harga terus tertekan. Penurunan BREN ikut memukul psikologi pasar sejak lonceng pembukaan perdagangan pagi tadi berbunyi nyaring.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk bahkan langsung menyentuh auto rejection bawah sejak awal perdagangan Senin pagi tadi. Saham DSSA turun lima belas persen, membuat investor ritel seperti menahan napas panjang berkepanjangan. Tekanan juga menyeret saham PT Chandra Asri Pacific Tbk menuju jurang pelemahan hampir lima belas persen.
Saham perbankan raksasa nasional ikut terseret arus deras tekanan pasar global dan domestik hari ini pagi. PT Bank Central Asia Tbk menjadi penyumbang pelemahan terbesar setelah harga saham turun sekitar dua setengah persen. Tekanan juga menghantam saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk.
Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai koreksi tajam dipicu keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI. “Rebalancing MSCI menjadi sentimen negatif utama perdagangan pekan ini,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta. Ratna menyebut tekanan pasar memang berat, namun arus keluar dana asing belum separah perkiraan awal.
MSCI resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index pekan lalu secara mengejutkan besar. Saham-saham itu mencakup AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, serta AMRT dengan tekanan besar perdagangan. Pengumuman tersebut langsung mengguncang sentimen investor asing maupun domestik sejak pertengahan pekan perdagangan sebelumnya.
Belum selesai pasar mencerna keputusan MSCI, FTSE Russell ikut melempar sinyal keras menakutkan investor domestik. FTSE mengingatkan potensi penghapusan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks global mulai Juni 2026 mendatang. Kebijakan itu membuat pasar semakin gelisah seperti menunggu badai kedua datang setelah petir pertama menyambar.
FTSE Russell menyoroti saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration di Indonesia. Dalam pengumuman resminya, FTSE menyebut saham berkategori tersebut berisiko kehilangan likuiditas secara material dalam perdagangan. Kondisi itu membuat investor institusi kesulitan mencari pembeli saat aksi keluar pasar terjadi secara mendadak.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan masih membayangi IHSG pekan ini. “Pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca tekanan MSCI Mei 2026,” kata Hendra Wardana, Minggu malam. Hendra memprediksi IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways bearish sepanjang pekan perdagangan berjalan.
Menurut Hendra, level psikologis 6.900 menjadi batas penting menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya bagi investor domestik. Jika tekanan jual asing terus membesar, IHSG berpotensi turun menuju area 6.600 hingga 6.700 pekan ini. Namun peluang technical rebound tetap terbuka jika tekanan global mulai mereda beberapa hari mendatang.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat sentimen global ikut memperparah tekanan pasar domestik sepanjang perdagangan awal. “Investor masih mencermati konflik Timur Tengah dan tekanan jual akibat rebalancing MSCI,” ujar Herditya Wicaksana. Herditya menambahkan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ikut memperburuk psikologi pasar keuangan domestik.
Seluruh sektor perdagangan kompak memerah seperti lampu darurat kapal saat badai menghantam lautan malam panjang perdagangan. Sektor material dasar menjadi korban terdalam setelah turun lebih dari enam persen pagi tadi perdagangan. Infrastruktur, energi, teknologi, hingga sektor transportasi ikut terseret gelombang koreksi tajam secara bersamaan.
Tekanan jual asing tercatat mencapai triliunan rupiah hanya dalam beberapa hari perdagangan terakhir bursa nasional Indonesia. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia bahkan menguap ratusan triliun rupiah selama tekanan jual besar terjadi. Situasi itu membuat investor ritel kembali dihantui trauma koreksi panjang seperti beberapa tahun silam.
Meski suasana pasar tampak mencekam, sebagian analis melihat peluang menarik mulai muncul perlahan bagi investor jangka panjang. Koreksi tajam membuat sejumlah saham unggulan turun menuju valuasi lebih menarik dibanding beberapa bulan terakhir perdagangan. Namun pelaku pasar tetap diminta berhati-hati menghadapi volatilitas tinggi sepanjang pekan perdagangan Mei 2026.
Bursa Efek Indonesia memasuki pekan penuh ketegangan setelah kombinasi sentimen global dan domestik menghantam pasar nasional keras. Investor seperti dipaksa menonton drama panjang tanpa jeda saat layar perdagangan terus menyala merah menyakitkan pagi tadi. Sementara itu, IHSG masih mencari napas baru agar tidak semakin tenggelam ke jurang koreksi lebih dalam. R-02

