Coppa Italia
Inter Milan Menggila! Lazio Dibungkam, Nerazzurri Sapu Bersih Italia Musim Ini
Pelatih Inter Milan, Christian Chivu, mengangkat trofi Coppa Italia setelah sukses mengalahkan Lazio 2-0 di partai final di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (14/5/2026) dini hari WIB.(AFP)
ITALIA, SabangMerauke News - Inter Milan akhirnya menutup musim domestik 2025/2026 dengan pesta besar penuh aroma balas dendam menyengat kuat. Nerazzurri sukses menghancurkan Lazio 2-0 pada final Coppa Italia di Stadion Olimpico, Kamis, 14 Mei 2026 dini hari WIB. Gelar tersebut memastikan Inter Milan meraih double winners setelah sebelumnya mengunci trofi Serie A musim ini.
Kemenangan itu terasa jauh lebih liar bagi publik biru-hitam Kota Milan sepanjang malam penuh gegap gempita. Inter akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 16 tahun untuk kembali menyapu bersih kompetisi domestik Italia. Terakhir kali pencapaian serupa hadir ketika José Mourinho membawa Inter meraih treble winners musim 2009/2010 silam.
Kini, sosok Cristian Chivu muncul sebagai dalang kebangkitan baru Inter Milan setelah musim lalu penuh luka menyakitkan. Mantan bek tangguh Rumania tersebut langsung menghadirkan perubahan besar pada musim pertamanya bersama Nerazzurri musim ini. Inter berubah menjadi tim brutal, stabil, agresif, serta sulit disentuh lawan sepanjang perjalanan kompetisi domestik yang berjalan panas.
Final Coppa Italia langsung berlangsung keras sejak peluit awal menggema di Stadion Olimpico tengah malam penuh tekanan tinggi. Inter Milan tampil dominan sambil menekan Lazio tanpa memberi ruang nyaman untuk membangun serangan dari lini belakang. Lazio terlihat gugup menghadapi pressing agresif pasukan Cristian Chivu sepanjang babak pertama berjalan sengit dan panas.
Gol pertama Inter Milan lahir pada menit ke-14 melalui situasi yang membuat pendukung Lazio tercekat mendadak diam. Federico Dimarco mengirim sepak pojok tajam menuju tiang dekat sebelum bola berubah arah secara liar dan mendadak. Adam Marusic salah mengantisipasi bola dan justru membobol gawang sendiri di depan ribuan pendukung Lazio malam itu.
Gol bunuh diri tersebut langsung mengubah arah pertandingan menjadi semakin sulit bagi Lazio sepanjang laga berlangsung menegangkan. Inter tampil semakin percaya diri sambil terus menekan pertahanan lawan tanpa memberi kesempatan bernapas sedikit pun. Lazio tampak kesulitan keluar dari tekanan akibat permainan cepat serta disiplin tinggi lini tengah Inter.
Maurizio Sarri tidak mendampingi Lazio dari tepi lapangan sepanjang pertandingan final berlangsung penuh tekanan tersebut malam tadi. Absennya Sarri terlihat membuat ritme permainan Biancocelesti terasa kacau dan kehilangan arah sepanjang laga berjalan. Dukungan publik Olimpico pun gagal membangkitkan semangat Lazio menghadapi badai tekanan dari Inter Milan.
Inter kembali menghukum Lazio melalui pressing mematikan menjelang pertengahan babak pertama, pertandingan berjalan panas dan emosional. Nuno Tavares kehilangan penguasaan bola setelah Denzel Dumfries merebutnya dengan tekel agresif dekat area pertahanan Lazio. Dumfries kemudian mengirim umpan matang menuju Lautaro Martínez tanpa pengawalan berarti di depan gawang lawan.
Lautaro Martinez tanpa kesulitan menuntaskan peluang emas tersebut menjadi gol kedua Inter Milan malam penuh pesta tersebut. Stadion Olimpico mendadak hening sementara pendukung Inter berpesta liar sepanjang tribun bagian tamu yang menggema penuh kegembiraan besar. Gol Lautaro praktis membuat Lazio kehilangan kepercayaan diri hingga turun minum. Pertandingan berjalan berat sebelah.
Memasuki babak kedua, Lazio mencoba bangkit melalui tekanan lebih agresif menuju pertahanan kokoh milik Inter Milan malam tadi. Tijjani Noslin sempat memperoleh peluang berbahaya, namun penyelesaian akhirnya melebar tipis dari sasaran utama pertandingan yang berlangsung panas. Inter tetap terlihat jauh lebih tenang dalam mengontrol tempo serta jalannya pertandingan final tersebut.
Meski unggul dua gol, Inter Milan tetap berbahaya melalui skema serangan balik cepat penuh efektivitas sepanjang laga. Luis Henrique hampir memperbesar keunggulan setelah menerima umpan matang Federico Dimarco dari sisi kiri serangan Inter. Namun tembakannya masih melambung dan gagal menambah penderitaan Lazio pada pertandingan final penuh tekanan tersebut.
Piotr Zielinski juga sempat mencoba peruntungan melalui sepakan jarak jauh menuju gawang Lazio pertengahan babak kedua berjalan. Akan tetapi, bola masih meluncur tipis melewati mistar dan membuat pendukung Inter menahan napas cukup panjang. Inter tetap terlihat nyaman mengontrol pertandingan sambil memancing Lazio keluar dari area pertahanan mereka sendiri.
Lazio memperoleh peluang terbaik melalui Boulaye Dia saat pertandingan memasuki fase akhir penuh ketegangan emosional mendalam malam tadi. Namun, penjaga gawang Josep Martínez tampil sigap menggagalkan peluang emas tersebut dengan penyelamatan refleks luar biasa penting. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 2-0 tetap bertahan untuk kemenangan Inter Milan penuh dominasi.
Kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, menyebut gelar tersebut menjadi bukti perubahan mental besar skuad musim ini berjalan. “Meraih double winners sangat penting setelah kegagalan pahit musim lalu,” ujar Lautaro Martínez usai pertandingan final selesai. Penyerang asal Argentina tersebut menilai Inter kini memiliki mentalitas jauh lebih kuat dibandingkan musim sebelumnya.
Lautaro Martínez juga memberikan pujian besar kepada Cristian Chivu atas perubahan luar biasa yang terjadi dalam tubuh Nerazzurri musim ini. Menurut Lautaro, Chivu berhasil membangkitkan rasa lapar juara setelah Inter mengalami keterpurukan menyakitkan musim sebelumnya. “Dia pantas mendapat nilai sempurna atas semua kerja keras sepanjang musim ini,” kata Lautaro Martínez.
Musim lalu memang terasa seperti mimpi buruk bagi Inter Milan serta seluruh pendukung fanatik mereka sepanjang kompetisi berlangsung. Inter gagal mempertahankan Serie A setelah kalah bersaing tipis melawan Napoli hingga pekan-pekan terakhir musim lalu. Nerazzurri juga tersingkir dari Coppa Italia serta dihancurkan PSG pada final Liga Champions dengan skor telak.
Namun musim ini berubah total setelah Cristian Chivu mengambil alih ruang ganti Inter Milan penuh tekanan besar tersebut. Chivu berhasil membangun ulang mental pemain sambil menghadirkan gaya permainan agresif penuh keberanian sepanjang musim berjalan. Inter bahkan mengunci gelar Serie A lebih awal sebelum akhirnya menyegel Coppa Italia tengah pekan ini.
Keberhasilan tersebut membuat Inter menjadi klub pertama yang meraih Serie A serta Coppa Italia sejak Juventus musim 2017/2018 silam. Nerazzurri kini kembali dipandang sebagai penguasa baru sepak bola Italia setelah sempat kehilangan dominasi beberapa musim terakhir. Era Cristian Chivu perlahan mulai menghadirkan aroma kejayaan baru bagi publik Giuseppe Meazza musim ini.
Menariknya, duel Inter Milan melawan Lazio selalu memiliki warna berbeda dibandingkan dengan pertandingan besar Italia lainnya sepanjang sejarah panjang. Kedua klub memiliki kelompok ultras terkenal dengan hubungan persaudaraan bernama gemellaggio sejak akhir dekade 1980-an silam. Boys San milik Inter serta Irriducibili Lazio dikenal memiliki kedekatan ideologi sejak masa lampau Italia kelam.
Meski memiliki hubungan unik antarsuporter, pertandingan final Coppa Italia tetap berlangsung panas, penuh emosi tinggi sepanjang laga berjalan. Benturan keras, tekel agresif, serta keributan kecil sempat muncul ketika tensi pertandingan meningkat tajam memasuki babak kedua. Namun, Inter Milan tetap tampil lebih dingin serta efektif dalam memanfaatkan kesalahan fatal Lazio malam tadi.
Kini publik Milan mulai bermimpi lebih besar setelah dua trofi domestik berhasil diamankan musim ini berjalan sangat sempurna. Cristian Chivu sukses mengubah skeptisisme menjadi rasa percaya diri besar menuju era baru penuh ambisi bagi Inter Milan. Nerazzurri akhirnya kembali berdiri gagah sambil mengirim pesan keras kepada seluruh rival sepak bola Italia. R-02

