Bursa Indonesia Berdarah, IHSG Anjlok Saat Rupiah Sentuh Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup berdarah pada Selasa, 12 Mei 2026, setelah rupiah ambruk menembus Rp17.529 per dolar AS. Tekanan global, aksi jual asing, serta ancaman penurunan bobot MSCI membuat investor kalang-kabut sepanjang perdagangan. Bursa Efek Indonesia akhirnya menutup perdagangan sore dengan koreksi 0,68 persen menuju level 6.858,90.
Pasar saham sempat oleng lebih dalam ketika IHSG jatuh lebih dari dua persen pada perdagangan siang. Posisi terendah indeks menyentuh level 6.762 sebelum perlahan merangkak naik menjelang penutupan perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp16,29 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 32,98 miliar saham.
Sebanyak 463 saham tersungkur ke zona merah sepanjang perdagangan hari itu. Hanya 207 saham berhasil menguat, sementara 151 saham bergerak stagnan tanpa tenaga tambahan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan besar sedang menghantam pasar modal domestik.
Sektor kesehatan menjadi korban paling brutal sepanjang perdagangan pasar saham hari itu. Indeks sektor kesehatan longsor 3,51 persen, disusul sektor industri turun 3,21 persen serta infrastruktur melemah 1,49 persen. Saham farmasi dan rumah sakit ikut terkapar akibat derasnya tekanan jual investor.
Saham seperti KLBF, SILO, PRDA, hingga SIDO gagal mempertahankan penguatan sejak awal pekan sebelumnya. Tekanan makin menjadi setelah investor asing ramai melepas aset berisiko akibat ketidakpastian global meningkat. Kondisi rupiah makin memperburuk sentimen perdagangan domestik sepanjang hari.
Meski pasar berdarah, beberapa saham raksasa berhasil menahan kehancuran IHSG lebih dalam. Saham PT Barito Pacific Tbk melonjak 14,8 persen menuju level Rp2.280 per saham pada penutupan. Penguatan tersebut menjadi penyelamat utama indeks sepanjang sesi perdagangan sore.
Saham PT Petrosea Tbk juga ikut melonjak tajam hingga 9,25 persen sepanjang perdagangan Selasa sore. Kenaikan saham milik konglomerasi Prajogo Pangestu membuat tekanan IHSG sedikit berkurang menjelang penutupan. Investor lokal mulai memburu saham energi serta komoditas saat sentimen global memburuk.
Data Bloomberg mencatat saham BRPT menyumbang 16,67 poin terhadap pergerakan IHSG sepanjang perdagangan hari itu. Saham PTRO turut menyumbang tambahan 3,01 poin demi menahan tekanan indeks lebih dalam. Beberapa saham bank besar juga ikut membantu mengurangi luka pasar domestik.
Saham BBRI menyumbang penguatan 3,15 poin, sementara saham BBNI menambah 2,92 poin terhadap indeks. Saham ADRO, ISAT, DSSA, hingga APIC ikut memberikan bantalan saat pasar mulai panik massal. Situasi tersebut membuat IHSG gagal jatuh lebih dalam menuju level psikologis 6.700.
Namun, tekanan jual tetap mendominasi mayoritas perdagangan pasar saham Indonesia sepanjang hari itu. Saham MORA menjadi pemberat terbesar dengan tekanan mencapai 24,32 poin terhadap indeks harian. Saham ASII, BYAN, BREN, hingga DCII ikut memperdalam luka pasar domestik.
Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan rupiah menjadi biang kerok utama tekanan pasar saham Indonesia. Ancaman penurunan bobot Indonesia dalam Indeks MSCI memperbesar kecemasan investor asing sepanjang perdagangan. Yield Surat Utang Negara tenor sepuluh tahun juga ikut melonjak menuju 6,72 persen.
“Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pelebaran defisit APBN sehingga tekanan pasar semakin besar,” tulis Phintraco Sekuritas, Selasa, 12 Mei 2026. Sentimen global membuat investor memilih menjauh dari aset berisiko negara berkembang sepanjang pekan ini. Rupiah akhirnya menjadi korban utama tekanan eksternal tersebut.
Nilai tukar rupiah memang sedang mengalami masa paling kelam sepanjang sejarah perdagangan modern Indonesia. Mata uang Garuda ditutup melemah 115 poin menuju level Rp17.529 per dolar AS pada sore hari. Posisi tersebut menjadi penutupan terburuk sepanjang sejarah nilai tukar domestik.
Kondisi global ikut memperkeruh suasana pasar keuangan sepanjang perdagangan Selasa siang hingga sore hari. Konflik Timur Tengah kembali memanas setelah negosiasi Amerika Serikat dan Iran mengalami jalan buntu. Harga minyak mentah dunia bertahan tinggi di atas 100 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak membuat investor global mulai bersikap defensif terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan inflasi global membuat pelaku pasar khawatir suku bunga Amerika Serikat tetap tinggi lebih lama. Situasi tersebut membuat dolar AS semakin perkasa terhadap mayoritas mata uang Asia.
Analis Panin Sekuritas memperingatkan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 6.579 hingga 6.684. Tekanan teknikal masih cukup besar akibat derasnya arus keluar modal asing sepanjang kuartal kedua 2026. Investor disarankan lebih berhati-hati menghadapi volatilitas pasar beberapa hari mendatang.
Meski begitu, indikator stochastic mulai memperlihatkan sinyal bullish divergence pada pergerakan IHSG harian. Kondisi oversold mulai membuka peluang technical rebound menuju area 6.900 dalam waktu dekat. Peluang pemulihan muncul jika tekanan rupiah mulai mereda dalam beberapa hari mendatang.
Analis saham Elandry Pratama menilai pasar sedang sensitif terhadap arah kebijakan global serta pergerakan dolar AS. Penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI ikut memicu pengaturan ulang portofolio investor asing. Tekanan jangka pendek akhirnya sulit dihindari sepanjang perdagangan pekan ini.
“Investor asing mulai menyesuaikan portofolio lebih awal sehingga tekanan jual meningkat cukup agresif,” ujar Elandry Pratama, analis saham, Selasa, 12 Mei 2026. Situasi tersebut membuat volatilitas pasar saham domestik melonjak tajam sepanjang perdagangan. Investor lokal akhirnya ikut terseret arus kepanikan pasar.
Meski kondisi pasar terlihat mencekam, beberapa sektor dinilai masih memiliki daya tahan cukup kuat. Sektor energi, telekomunikasi, perbankan, serta barang konsumsi primer diprediksi tetap relatif stabil. Emiten berorientasi ekspor juga diuntungkan akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Sektor energi menjadi incaran investor setelah harga minyak dunia kembali melonjak akibat konflik geopolitik global. Saham berbasis dolar AS dinilai lebih aman menghadapi tekanan pelemahan mata uang domestik sepanjang tahun ini. Investor mulai memindahkan dana menuju saham defensif berfundamental kuat.
Analis pasar modal mulai menyarankan strategi bertahan menghadapi badai pasar keuangan domestik saat ini. Diversifikasi sektor dianggap penting demi mengurangi risiko kerugian akibat gejolak perdagangan harian. Investor juga diminta menjaga porsi kas agar lebih besar menghadapi ketidakpastian global.
“Fokus jangka menengah lebih penting dibanding mengejar momentum harian pasar saat kondisi bergejolak,” kata Elandry Pratama. Strategi defensif dinilai lebih aman dibandingkan dengan melakukan spekulasi agresif di tengah tekanan global. Investor ritel mulai diminta lebih disiplin menjaga manajemen risiko investasi.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih rawan bergerak menuju area gap 6.538 hingga 6.585. Area penguatan terdekat berada di kisaran 6.870 hingga 6.895 sepanjang perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Peluang technical rebound masih terbuka jika tekanan eksternal mulai mereda.
Pasar kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat sebagai penentu arah perdagangan global berikutnya. Investor global juga sedang memantau perkembangan konflik Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia. Seluruh sentimen tersebut diperkirakan masih mendominasi pasar sepanjang pekan berjalan.
Kondisi pasar saham Indonesia akhirnya berubah seperti arena adu mental sepanjang perdagangan Selasa sore tadi. Rupiah melemah, investor asing kabur, serta tekanan global membuat IHSG kehilangan pijakan stabilitasnya. Bursa domestik kini memasuki fase paling menegangkan sepanjang kuartal kedua tahun 2026. R-02

