Rupiah Ambruk Terparah, Puan Desak Purbaya dan BI Jelaskan Kondisi Ekonomi Nasional
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan pada Selasa (12/5/2026). (sumber: kompas.com)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah ambruk menyentuh Rp17.529 per dolar AS pada Selasa, 12 Mei 2026. Angka itu menjadi penutupan terlemah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia sejak era reformasi. Tekanan global, konflik Timur Tengah, hingga arus modal asing keluar membuat pasar domestik mendadak panas seperti knalpot truk menanjak.
Data Bloomberg mencatat rupiah melemah 115 poin dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya pada Selasa sore tadi. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia ikut terpeleset menuju Rp17.514 per dolar AS. Pasar mendadak gaduh setelah investor asing ramai meninggalkan aset berdenominasi rupiah sepanjang perdagangan.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, langsung memberi sinyal keras usai rupiah menembus batas psikologis baru tersebut. DPR bakal memanggil pemerintah serta Bank Indonesia guna meminta penjelasan lengkap terkait situasi ekonomi nasional. Fokus pembahasan mengarah pada strategi menahan tekanan rupiah agar tidak makin tenggelam.
“Jangan sampai situasi ini membuat Indonesia terpuruk dan merembet ke ekonomi nasional,” ujar Puan Maharani, Selasa, 12 Mei 2026. Politikus PDIP tersebut meminta mitigasi sejak awal demi menjaga stabilitas ekonomi hingga tahun 2027 mendatang. DPR juga memasukkan isu pelemahan rupiah dalam pembahasan KEM-PPKF menuju APBN 2027.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku belum menerima surat resmi pemanggilan dari DPR RI hingga Selasa sore tadi. Meski begitu, Purbaya memastikan siap hadir jika parlemen membutuhkan penjelasan tambahan terkait gejolak ekonomi. Ia tetap menegaskan urusan nilai tukar berada dalam kewenangan penuh Bank Indonesia.
“Kalau rupiah itu urusan bank sentral, bukan urusan Kementerian Keuangan,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta. Ia menegaskan tugas menjaga stabilitas nilai tukar sudah diatur dengan jelas dalam undang-undang mengenai bank sentral. Pernyataan tersebut langsung memancing perhatian pelaku pasar serta pengamat ekonomi nasional.
Di tengah tekanan hebat pasar, Purbaya ternyata menggelar rapat mendadak bersama jajaran Kementerian Keuangan pada Selasa siang tadi. Sejumlah pejabat penting tampak berkumpul di lobi kantor Kemenkeu membahas langkah menjaga stabilitas pasar domestik. Fokus utama rapat mengarah pada strategi untuk membantu Bank Indonesia meredam tekanan rupiah.
Sekretaris Jenderal Kemenkeu, Robert Leonard Marbun, hingga Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Suminto, ikut hadir dalam rapat tertutup tersebut. Direktur Jenderal Perbendaharaan, Astera Primanto Bhakti, juga terlihat mendampingi pembahasan bersama pejabat fiskal lainnya. Suasana rapat berlangsung serius saat rupiah terus babak belur sepanjang perdagangan.
“Kita akan coba membantu stabilitas pasar obligasi supaya yield tidak naik terlalu tinggi,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa. Ia memberi sinyal bahwa intervensi pasar surat berharga negara mulai dilakukan pemerintah dalam waktu dekat. Langkah itu diharapkan mampu mengurangi tekanan berantai terhadap nilai tukar rupiah.
Namun, Purbaya masih menyimpan rapat strategi lengkap intervensi pasar keuangan nasional tersebut. “Strateginya masih rahasia, kalau dikasih tahu nanti musuh tahu,” ucapnya sambil tersenyum tipis di hadapan wartawan. Pernyataan itu langsung memicu spekulasi baru di kalangan pelaku pasar domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama tekanan global saat ini. Ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar per barel. Kondisi tersebut memperbesar ketakutan pasar terhadap lonjakan inflasi global.
“Tekanan rupiah meningkat karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas meningkat,” ujar Destry Damayanti, Selasa, 12 Mei 2026. Kenaikan harga energi membuat investor global memilih mengamankan dana pada aset dolar Amerika Serikat. Mata uang negara berkembang akhirnya terkena efek domino besar-besaran.
Selain faktor eksternal, permintaan dolar AS dalam negeri juga mendadak melonjak selama kuartal kedua tahun ini. Pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji membuat permintaan valas membludak. Situasi itu membuat rupiah seperti kehilangan napas di tengah badai global.
“Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman,” kata Destry Damayanti, menjelaskan kondisi pasar saat ini. Bank Indonesia tetap melakukan intervensi melalui pasar spot hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah tersebut dilakukan demi menjaga likuiditas serta menahan gejolak terlalu liar.
Bank Indonesia juga tercatat agresif menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI sepanjang tahun 2026 ini. Outstanding SRBI melonjak tajam menuju Rp957,9 triliun pada April 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Instrumen tersebut dipakai menarik dana asing masuk kembali menuju pasar domestik.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pelemahan rupiah tidak sekadar dipicu pembagian dividen tahunan. Menurutnya, tekanan global serta kekhawatiran fiskal domestik membuat investor mulai kehilangan rasa percaya terhadap pasar Indonesia. Outflow asing semakin deras sepanjang perdagangan beberapa pekan terakhir.
“Pembayaran dividen terjadi tiap tahun dan tidak langsung membuat rupiah jeblok seperti sekarang,” ujar Liza Camelia Suryanata. Ia menilai kombinasi konflik geopolitik, harga minyak tinggi, dan sentimen MSCI memperburuk tekanan terhadap rupiah. Investor global akhirnya memilih menjauh dari aset berisiko.
Analis Henan Sekuritas James Stanley juga melihat tekanan rupiah berasal dari kombinasi faktor musiman dan struktural sekaligus. Arus modal keluar dari saham serta obligasi domestik memperbesar tekanan terhadap cadangan devisa nasional. Harga energi tinggi ikut membebani transaksi berjalan Indonesia.
“Tekanan harga energi dan outflow pasar modal menjaga rupiah tetap lemah dalam jangka pendek,” ujar James Stanley. Ia memperkirakan rupiah masih sulit bangkit selama sentimen global belum membaik dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu arah kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026 besok. Ia memprediksi rupiah masih berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.520 hingga Rp17.580 per dolar AS. Pasar global menunggu data inflasi Amerika Serikat serta perkembangan konflik Timur Tengah.
“Pasar juga mencermati pengumuman MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global,” ujar Ibrahim Assuaibi. Jika penurunan benar terjadi, arus modal asing keluar diperkirakan semakin deras dari pasar domestik. Situasi itu bisa memperpanjang tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu mendatang.
Tekanan rupiah mulai terasa pada sektor riil serta kehidupan masyarakat sehari-hari di berbagai daerah Indonesia. Biaya impor bahan baku meningkat tajam sehingga harga produksi industri ikut melonjak perlahan. Pelaku usaha mulai menghadapi margin keuntungan makin tipis akibat lonjakan kurs dolar AS.
Dunia transportasi serta kebutuhan pokok juga berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat. Harga energi global yang tinggi membuat ongkos distribusi barang semakin mahal menuju berbagai wilayah Indonesia. Tekanan tersebut akhirnya membebani daya beli masyarakat kelas menengah bawah.
Kondisi fiskal negara ikut mendapat ancaman serius akibat pelemahan rupiah berkepanjangan sepanjang tahun 2026 ini. Beban subsidi energi serta pembayaran utang luar negeri otomatis meningkat ketika dolar AS terus menguat. Ruang anggaran pemerintah menuju sektor pendidikan dan perlindungan sosial makin tertekan.
Meski situasi terlihat suram, Bank Indonesia tetap optimistis bahwa tekanan musiman bakal mereda dalam beberapa waktu ke depan. Aliran modal asing menuju surat berharga negara masih tercatat mencapai Rp61,6 triliun sepanjang April 2026. Pertumbuhan dana valas perbankan domestik juga masih berada pada level aman.
“BI memperkirakan tekanan musiman ini akan mereda sehingga rupiah kembali menuju fundamentalnya,” ujar Destry Damayanti. Pernyataan itu menjadi penenang sementara saat pasar domestik masih dihantam gelombang ketidakpastian global. Namun, pelaku pasar tetap memasang mata tajam terhadap pergerakan rupiah beberapa hari mendatang. R-02

