Dolar AS Jebol Rp17.500, Pasar Panik Usai Trump Guncang Dunia dan MSCI Mengintai
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali limbung saat dolar Amerika Serikat menggila sejak pembukaan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Mata uang Garuda bahkan nyaris menyentuh Rp17.500 per dolar AS setelah tekanan global dan domestik datang bersamaan. Pasar langsung gaduh sejak pagi karena investor asing terus melepas aset berdenominasi rupiah dalam jumlah besar.
Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka melemah menuju Rp17.485 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Tidak lama berselang, pelemahan semakin dalam hingga menembus Rp17.500 per dolar AS intraday. Posisi tersebut langsung tercatat sebagai level terburuk sepanjang sejarah perdagangan rupiah di pasar spot.
Tekanan datang ketika indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat menuju level 98,1 pada perdagangan Asia. Harga minyak Brent juga melonjak menembus US$104 per barel setelah konflik Timur Tengah memanas lagi. Ketegangan global mendadak berubah seperti badai besar yang mengguncang pasar keuangan Asia sejak dini hari.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pasar panas setelah menolak proposal perdamaian Iran terbaru. Pernyataan keras Trump memicu kekhawatiran investor terhadap potensi pecahnya konflik lanjutan kawasan Timur Tengah. Jalur pelayaran Selat Hormuz juga kembali menjadi sorotan karena memengaruhi pasokan energi dunia.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kondisi global sedang menekan mayoritas mata uang kawasan Asia pagi ini. “Pasar masih fokus terhadap kebuntuan hubungan Amerika Serikat dan Iran,” ujar Ibrahim Assuaibi, Selasa, 12 Mei 2026. Investor memilih memburu dolar AS sebagai aset aman ketika ketidakpastian geopolitik semakin panas.
Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam pada perdagangan pagi kawasan. Setelah won, rupiah menempati posisi kedua mata uang terlemah sepanjang sesi perdagangan awal Asia tersebut. Peso Filipina, yen Jepang, ringgit Malaysia, hingga dolar Singapura juga ikut terseret oleh tekanan global.
Di tengah tekanan eksternal, pasar domestik juga sedang dihantui oleh pengumuman rebalancing indeks MSCI hari ini. Investor cemas karena Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot dalam indeks global MSCI terbaru. Kekhawatiran tersebut membuat aksi jual asing semakin deras sejak awal pekan perdagangan Mei 2026.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai sentimen MSCI menjadi perhatian utama investor. “Fokus utama pasar hari ini adalah pengumuman quarterly review dari MSCI,” kata Nafan Aji Gusta Utama. Pasar juga mencermati potensi keluarnya saham big caps dari indeks global tersebut.
Nama saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN ikut menjadi sorotan investor pasar modal domestik. Selain BREN, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA juga masuk radar perhatian investor asing. Spekulasi keluarnya saham besar tersebut memicu kekhawatiran capital outflow semakin membesar dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap rupiah semakin terasa setelah investor asing melakukan jual bersih besar-besaran pekan ini. Nilai net sell asing pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, mencapai Rp751 miliar di seluruh pasar. Saham PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI menjadi emiten dengan tekanan jual terbesar pada perdagangan kemarin.
IHSG sebenarnya sempat dibuka menguat hampir satu persen pada perdagangan Selasa pagi hari ini. Namun, pasar masih bergerak gelisah karena investor menunggu hasil keputusan MSCI yang diumumkan malam nanti. Volume transaksi juga belum terlalu besar meski kapitalisasi pasar sempat naik menuju Rp12,435 triliun.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, meminta pasar tetap tenang menghadapi dinamika MSCI global terbaru. “Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, ini short-term pain dan long-term gain,” ujar Friderica Widyasari Dewi. Regulator pasar modal terus melakukan pembenahan demi menjaga integritas dan transparansi perdagangan nasional.
Kondisi rupiah semakin berat karena pasar mulai menyoroti kualitas fundamental ekonomi domestik Indonesia terbaru. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama memang melampaui ekspektasi pasar dengan angka mencapai 5,61 persen secara nasional. Namun, investor menilai dampaknya belum sepenuhnya terasa terhadap sektor riil serta daya beli masyarakat.
Ketidakjelasan arah kebijakan royalti tambang juga ikut menjadi tekanan tambahan bagi pasar domestik beberapa pekan terakhir. Investor menilai kepastian fiskal nasional masih membutuhkan langkah konkret agar kepercayaan pasar tetap terjaga kuat. Situasi tersebut membuat rupiah semakin rapuh ketika tekanan global datang bersamaan secara bertubi-tubi.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyebut IHSG masih menguji area support penting perdagangan. “Pasar menantikan data retail sales Indonesia, inflasi AS, serta rebalancing MSCI,” ujar Reza Diofanda. Investor juga masih menunggu arah kebijakan suku bunga global beberapa bulan mendatang.
Di tengah tekanan berat tersebut, beberapa sentimen positif sebenarnya masih muncul dari dalam negeri belakangan ini. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2026 masih bertahan optimistis pada level 123 secara nasional. Penjualan mobil tahunan juga mulai tumbuh sehingga memberi bantalan kecil terhadap pergerakan pasar domestik.
Harga emas Antam ikut naik setelah investor berbondong-bondong mencari aset aman menghadapi ketidakpastian ekonomi global terbaru. Lonjakan harga minyak dunia juga membuat pasar khawatir bahwa tekanan inflasi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Jika konflik Timur Tengah semakin panas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum cepat mereda.
Ahli strategi mata uang OCBC, Christopher Wong, melihat pasar masih menunggu perkembangan hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran. “Pasar belum menganggap situasi terbaru sebagai guncangan penuh penghindaran risiko,” ujar Christopher Wong. Namun, eskalasi militer baru dapat memicu tekanan lebih besar terhadap pasar keuangan dunia.
Saat perdagangan berlangsung, pelaku pasar terlihat bergerak hati-hati sambil memantau sentimen global terbaru secara intensif. Ruang dealing bank mendadak sibuk sejak pagi karena permintaan dolar meningkat cukup tajam pada perdagangan hari ini. Rupiah pun kembali masuk ke lorong gelap setelah tekanan datang nyaris tanpa jeda sejak pekan lalu. R-02

