Kisah Mbah Mardijiyono, Jemaah Haji Indonesia Usia 103 Tahun yang Berdoa di Raudhah
Mbah Mardijiyono, jemaah haji berusia 103 tahun. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Di tengah jutaan jemaah yang memadati Kota Madinah, sebuah kisah menggetarkan datang dari seorang lansia asal Indonesia. Di usia yang telah menembus satu abad lebih, Mbah Mardijiyono, jemaah haji berusia 103 tahun, akhirnya menapakkan kaki di Raudhah—salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa di Masjid Nabawi.
Perjalanan spiritual ini bukan sekadar ibadah biasa. Ini adalah penantian panjang, doa yang dipupuk puluhan tahun, serta bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan suci.
Perjuangan Panjang Menuju Raudhah
Mbah Mardijiyono berasal dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak lama, ia memendam keinginan untuk bisa beribadah di Tanah Suci, khususnya menginjakkan kaki di Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW.Keinginan itu akhirnya terwujud pada musim haji 2026. Meski kondisi fisiknya tidak lagi prima, semangatnya tetap menyala. Ia bahkan sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya dinyatakan siap melanjutkan
rangkaian ibadah.
Dengan bantuan petugas dan pendamping, Mbah Mardijiyono dibawa menggunakan kursi roda menuju Raudhah. Ia masuk ke area tersebut pada dini hari, sekitar pukul 02.40 waktu setempat, saat suasana relatif lebih kondusif bagi jemaah lansia.
Tangis Haru di Tempat Paling Mustajab
Setibanya di Raudhah, suasana haru langsung menyelimuti. Mbah Mardijiyono tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Dengan suara lirih dan bergetar, ia berulang kali mengungkapkan rasa syukur.
Momen tersebut menjadi puncak perjalanan spiritualnya. Di tempat yang diyakini sebagai taman surga itu, ia memanjatkan doa-doa terbaik, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga dan umat.
Keberhasilannya memasuki Raudhah tidak lepas dari fasilitas khusus bagi jemaah lansia. Ia mendapatkan akses melalui skema layanan prioritas atau tasyreh, yang memang disediakan untuk jemaah dengan kebutuhan khusus.
Simbol Keteguhan Iman
Kisah Mbah Mardijiyono menjadi simbol kuat tentang keteguhan iman. Di usia 103 tahun, ketika banyak orang memilih beristirahat, ia justru menempuh perjalanan panjang lintas negara demi menunaikan rukun Islam kelima.
Petugas haji yang mendampinginya pun mengaku terharu melihat semangat yang ditunjukkan. Mereka menyebut, keberhasilan ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga inspirasi bagi jemaah lain.
Bagi Mbah Mardijiyono, ibadah ini adalah panggilan hati yang tak bisa ditunda. Bahkan sejak di tanah air, ia telah berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk bisa sampai ke Raudhah.
Layanan Ramah Lansia Jadi Kunci
Keberhasilan jemaah lansia seperti Mbah Mardijiyono juga tidak terlepas dari kesiapan layanan haji yang semakin ramah terhadap kelompok rentan.
Petugas menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari kursi roda, pendamping khusus, hingga akses prioritas ke lokasi ibadah. Skema ini dirancang agar jemaah lansia tetap dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Pendampingan intensif menjadi faktor penting, mengingat kondisi fisik jemaah lanjut usia membutuhkan perhatian ekstra, terutama di tengah cuaca panas ekstrem dan kepadatan jemaah.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda. Bahwa niat yang kuat dan kesabaran dalam menunggu akan membuahkan hasil pada waktunya.
Mbah Mardijiyono telah membuktikan bahwa keterbatasan usia bukan alasan untuk menyerah. Justru di penghujung usia, ia mampu mewujudkan impian besar yang mungkin dianggap mustahil oleh banyak orang.
Perjalanan ini menjadi pesan mendalam: bahwa ibadah adalah perjalanan hati, bukan sekadar fisik. (R-05)

