Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak Tajam
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Amerika Serikat menolak proposal balasan Iran terkait perang regional. Foto : Istimewa
Washington, SABANGMERAUKE NEWS - Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Amerika Serikat menolak proposal balasan Iran terkait perang regional. Pernyataan keras Presiden AS memicu kepanikan pasar energi global. Investor khawatir konflik Timur Tengah mengganggu distribusi minyak internasional.
Harga minyak dunia kembali bergerak agresif setelah ketegangan Timur Tengah meningkat tajam pekan ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait penghentian konflik regional. Pernyataan keras tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global.
Trump menyampaikan penolakan tegas melalui unggahan media sosial resminya pada Senin, 11 Mei 2026. “Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump menanggapi proposal Iran. Sikap keras Washington meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Minyak West Texas Intermediate pengiriman Juni naik 3,08 persen mencapai US$95,42 per barel. Minyak Brent pengiriman Juli juga melonjak 3,16 persen menjadi US$104,49 per barel. Lonjakan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik berkepanjangan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi menghadapi Iran belum benar-benar selesai sepenuhnya. Netanyahu menilai Iran masih menyimpan fasilitas pengayaan uranium serta material nuklir berbahaya. Israel juga menyoroti produksi rudal balistik Iran yang dinilai terus berlangsung aktif.
“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Netanyahu dalam pernyataan resminya kepada media internasional. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran global terhadap potensi konflik lebih luas kawasan Timur Tengah. Pasar energi langsung merespons cepat meningkatnya risiko geopolitik regional.
Analis Citigroup memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergerak lebih tinggi beberapa pekan mendatang. Risiko terbesar muncul apabila Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan diplomatik baru. Situasi tersebut dapat memperpanjang ketidakpastian distribusi energi dunia.
Citi menilai pasar minyak sementara tertolong tingginya cadangan minyak strategis berbagai negara besar dunia. Permintaan energi negara berkembang juga masih relatif lemah sepanjang kuartal kedua tahun ini. Faktor tersebut membantu menahan lonjakan harga minyak lebih ekstrem dalam waktu dekat.
Namun Citi memperingatkan risiko utama tetap berasal dari kendali Iran terhadap Selat Hormuz strategis dunia. Jalur laut tersebut menjadi titik utama distribusi minyak mentah kawasan Timur Tengah menuju pasar internasional. Gangguan distribusi Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi lebih tinggi.
“Kami memperkirakan pembukaan kembali Selat Hormuz terjadi sekitar akhir Mei,” tulis laporan Citi terbaru. Meski demikian, Citi menilai risiko keterlambatan pembukaan masih cukup besar saat ini. Kondisi tersebut membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan tinggi.(R-04)

