Medan Membara! PP dan IPK Kembali Bentrok Brutal di Jalanan, Sajam dan Senapan Angin Bertebaran
Ilustrasi bentrokan dua ormas di Medan. Foto: SM News/Created by AI
SUMUT, SabangMerauke News - Bentrok dua organisasi kemasyarakatan mendadak membakar suasana Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Sabtu, 9 Mei 2026. Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) saling serang di tengah jalan sambil membawa senjata tajam serta senapan angin. Rekaman kericuhan langsung viral setelah warga panik melihat kelompok massa berlarian seperti sedang berburu musuh.
Ketegangan pecah setelah munculnya persoalan pengecatan fasilitas umum dan perusakan atribut organisasi di kawasan tersebut. Tiang listrik, tiang Telkom, hingga flyover tol berubah seperti papan klaim wilayah kelompok tertentu. Situasi cepat memanas karena masing-masing kubu saling tuding, memicu provokasi.
Kapolsek Medan Labuhan, AKP D Raja Putra Napitupulu, mengungkap gesekan bermula dari aksi vandalisme fasilitas publik. Perselisihan terjadi di Kelurahan Besar dan Kelurahan Tangkahan sebelum akhirnya berubah menjadi bentrokan terbuka.
Polisi langsung bergerak setelah video kerusuhan menyebar luas di media sosial. “Kami menghimbau agar kedua OKP tidak saling mengklaim dan saling menuduh,” ujar Raja Putra, Minggu malam, 10 Mei 2026.
Video bentrokan membuat warga sekitar ketakutan melintas di kawasan Martubung sepanjang Sabtu sore hingga malam. Sejumlah pria terlihat membawa senjata tajam sambil mengejar kelompok lawan di pinggir jalan. Suara teriakan dan keributan membuat arus lalu lintas sempat terganggu.
Bentrok ini kembali membuka luka lama soal perebutan pengaruh kedua ormas di kawasan Medan bagian utara. Fasilitas umum sering berubah menjadi simbol dominasi kelompok tertentu melalui warna cat dan atribut organisasi. Situasi seperti itu perlahan menciptakan ketegangan tersembunyi di tengah masyarakat.
Polsek Medan Labuhan bersama Forkopimcam akhirnya menggelar mediasi darurat di Kantor Kelurahan Besar Martubung. Pertemuan berlangsung sejak Minggu pagi, 10 Mei 2026, dengan menghadirkan pimpinan kedua organisasi. Aparat keamanan bergerak cepat demi mencegah bentrokan susulan lebih besar.
Mediasi dipimpin langsung oleh Kapolsek Medan Labuhan bersama Camat Medan Labuhan, Elias Padang. Hadir juga unsur POMAL Belawan, Koramil, lurah, hingga tokoh masyarakat setempat. Suasana pertemuan sempat tegang sebelum kedua kubu sepakat menahan diri. “Kami meminta seluruh anggota tidak membawa senjata tajam ke ruang publik,” kata Raja Putra Napitupulu.
Kapolsek menegaskan fasilitas umum bukan milik organisasi mana pun selain negara. Tiang listrik, flyover, dan jaringan telekomunikasi tidak boleh dicat menggunakan simbol kelompok tertentu. Polisi menilai aksi klaim wilayah seperti itu menjadi sumber konflik paling berbahaya.
Camat Medan Labuhan, Elias Padang, ikut memperingatkan dampak bentrokan terhadap kenyamanan masyarakat sekitar. Warga disebut mulai resah karena kawasan permukiman berubah seperti arena konflik kelompok jalanan. Aktivitas ekonomi warga juga sempat terganggu akibat ketegangan tersebut. “Marilah memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan jangan menjadi perusak kenyamanan itu,” ujar Elias Padang.
Dalam mediasi tersebut, kedua organisasi akhirnya sepakat berdamai dan menghentikan aksi saling tuding. Seluruh fasilitas umum yang telah dicat menggunakan atribut organisasi akan dikembalikan ke warna semula. Kesepakatan itu dibuat demi menghapus kesan penguasaan wilayah tertentu.
Kesepakatan damai dianggap penting karena bentrokan sempat memancing ketakutan pengguna jalan dan pedagang sekitar. Warga khawatir konflik meluas menjadi tawuran besar antaranggota ormas. Polisi pun memperketat pengawasan di Kelurahan Besar dan Tangkahan.
Fenomena pengecatan fasilitas umum sebenarnya bukan cerita baru di sejumlah daerah di Sumatera Utara. Banyak kelompok menjadikan warna cat sebagai simbol dominasi wilayah dan identitas organisasi. Situasi itu kerap memicu konflik kecil sebelum berubah menjadi bentrokan besar.
Kali ini, keributan berkembang cepat karena aksi vandalisme menyasar banyak titik strategis di Martubung. Flyover tol hingga tiang utilitas berubah seperti papan propaganda kelompok jalanan. Masyarakat akhirnya menjadi korban ketidaknyamanan akibat perang simbol tersebut.
Kapolsek Medan Labuhan menegaskan seluruh elemen masyarakat wajib menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Aparat keamanan akan menindak tegas siapa pun yang memancing bentrokan susulan. Polisi juga meminta tokoh organisasi mengendalikan anggotanya masing-masing. “Hasil mediasi menunjukkan kedua pimpinan OKP sudah sepakat berdamai,” kata Raja Putra Napitupulu.
Meski situasi mulai mereda, polisi tetap melakukan patroli rutin di kawasan rawan bentrokan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak muncul serangan balasan diam-diam antaranggota kelompok. Pengawasan juga difokuskan di titik fasilitas umum yang sempat menjadi sumber konflik.
Kericuhan Martubung menjadi alarm keras soal bahaya perebutan pengaruh jalanan di tengah masyarakat perkotaan. Ketika fasilitas umum berubah menjadi simbol kelompok, konflik mudah meledak tanpa peringatan panjang. Medan Labuhan akhirnya kembali diingatkan tentang mahalnya harga sebuah ego wilayah. R-02

